Selasa, 18 Oktober 2011

Better In Time 15 - Under That Tree


“Non, kamu pucat banget! Sakit yaa?”, Tanya Nino saat menyambut Annisa datang dipintu kaca itu. Annisa mendongak dan hanya terdiam lama. Nino bingung.

“Hmm… Bos udah datang?”, tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Nino. Dan sudah pasti, 
Annisa sudah tahu jawabannya. Dia hanya ingin memastikan, apakah semua yang sudah terjadi hanya mimpi. Dan hari ini, Adam akan datang dengan gayanya yang khas, masuk dengan sapaan khas, tersenyum juga khas.

“Pak Adam?”, Tanya Nino memastikan. Bukannya mengangguk, wajah didepannya malah terlihat memprihatinkan. Nino agak terkejut.

“Sepertinya belum datang… biasanya kan memang menjelang jam 8 beliau datang. Ah, kamu sok nanya, padahal kamu yang lebih tahu, hehe…”, goda Nino. Namun lagi-lagi wajah di depannya menampakkan ekspresi yang tak diharapkan sama sekali. Mata itu sedikit berkaca-kaca. Nino kini terkejut. Annisa langsung pergi meninggalkannya dengan segudang tanya.

Kini satu persatu pegawai telah datang. Hanya satu ruangan dengan meja kerja itu yang belum terisi. Ruang kerja Adam. Namun, pintu masuk kaca itu tak kunjung terbuka lagi. Annisa masih tetap setia melihat kearah itu, mengharap satu keajaiban datang dan Adam benar-benar hadir. Nino memperhatikan itu, dia menuju meja Reni…

“Mba, sepertinya ada sesuatu antara Annisa dan Pak Adam! Mba tahu sesuatu gak?”, Reni mendongak.

“Enggak, emang ada apa siyh?”, Tanya Reni dan Nino menunjuk kearah Annisa. Reni baru tersadar akan keanehan sahabatnya itu.

“Dan yang anehnya, Pak Adam belum datang. Ini sudah hampir 20 menit dari jam masuk…”, sambung Nino dan Reni mengangguk.

“Hmm…mungkin Pak Adam telat, kan keluarganya masih disini…”, ucap Reni bijak.

Tiba-tiba saja pintu kaca itu terbuka. Annisa mendongak, bukan sosok lelaki yang masuk malah seorang wanita cantik bertubuh mungil dengan barang-barangnya. Wajahnya sedikit dingin. Diana. Dia tergopoh-gopoh datang dengan barang-barangnya. Annisa merasakan sakit didadanya. Sedang semua mata yang lain terpana akan kedatangan mantan atasannya itu.

“Pagi semuanya!”, sapa Diana.

“Saya yakin kalian semua heran akan kedatangan saya. To the point, saya akan menggantikan posisi Adam sementara penggantinya yang permanen sedang diputuskan. Mudah-mudahan kita bisa kerja sama dengan baik seperti dulu…”, ucapnya singkat dan langsung memasuki ruang kerjanya. Nino dan Reni saling pandang. Mereka berpikir bahwa ini lah yang membuat Annisa bersikap aneh hari ini.

Tak da yang tahu kenapa Adam pergi begitu saja. Tak ada penjelasan sedikit pun dari bibir Diana kenapa Adam tak bekerja lagi. Ketika semua mata akhirnya malah menuju kearah Annisa, dia hanya bisa mendesah. Tak ada jawaban juga padanya, dia juga sama dengan mereka. Malah mungkin dia lebih heran dan yang paling penting hati dan perasaannya perih.

“Kamu putus sama Pak Adam ya Sa?”, Tanya Desy tiba-tiba membuka pembicaraan saat break time. Annisa hanya diam dan tersenyum pahit. Putus? Lebih sakit lagi, Aku ditinggalkan Mba!

“Putus apa Mba? Memang kami gak ada hubungan apa-apa kok!”, ucapnya sedikit sulit karena dia menahan perasaannya begitu kuat.

“Jadi kenapa Pak Adam tak masuk kantor lagi Sa? Kalian baik-baik saja kan?”, Tanya Lulu penasaran. Kini Annisa hanya bisa menunduk. Dia tak tahu harus bagaimana menghadapi segala pertanyaan-pertanyaan itu. Rasanya air mata itu memaksa keluar, tapi dia paksakan agar tidak hingga dia tak bisa berbicara. Reni tahu dan memberi isyarat Lulu dan Desy.

Selama beberapa waktu berlalu, mereka berusaha menjaga perasaan Annisa. Tak ada pertanyaan tentang Adam, namun tetap saja ada hal-hal tertentu yang mengingatkan mereka akan Bos mereka itu dan akhirnya berujung tatapan iba kearah Annisa.

Ketika Desy mengundang barbeque dirumahnya merayakan ulang tahun putrinya sekaligus tahun baru. Semua terlihat bergembira, tapi tidak Annisa. Dia tersenyum, bibirnya tertawa tapi hatinya menangis. Toilet menjadi tempat pelampiasannya. Dia terisak disana. Reni hanya bisa mengelus punggungnya, sangat prihatin melihat sahabatnya. Tak ada satu kata pun keluar, hanya tangisan. Annisa bukan wanita sempurna, dia lemah.


***

Hitungan bulan pun berlalu…

Sikap Diana pun berubah drastis terhadap pegawainya yang Muslim, dan parahnya sebagian 
besar dari mereka memang beragama Islam. Semuanya heran. Atasan mereka memang berbeda agama dari mereka dari dulu, tapi sikap para atasan tak pernah ada yang menyakiti, termasuk Diana. Tapi tiba-tiba, semuanya berubah. Suasana kantor sedikit tak nyaman.

Annisa memang berusaha kuat, namun terkadang usahanya hanya malah membuat orang sekelilingnya prihatin. Diawal kepergian Adam, malah keadaannya lebih memprihatinkan. 
Ketika pagi dikantor, setiap pintu kaca itu terbuka dia menoleh. Keliatan sekali, mata itu mengharapkan seseorang. Tak ada lagi panggilan, Kekasih. Sayang. Tak ada lagi pesan singkat membangunkannya pagi hari. Tak ada lagi senyuman khas yang membuaikan itu. Tak ada lagi tatapan yang meneduhkan hati sekaligus mendebarkan itu. Tak ada lagi kalimat-kalimat penuh makna yang menghiasi diskusi-diskusi mereka. Dan dari segalanya, tak ada lagi sosok yang menentramkan hatinya itu yang selalu begitu tega membuat jantungnya berdetak kencang sekaligus mengikis kekesalannya. Semuanya hilang seiring perginya Adam. Annisa benar-benar kehilangan.

Setiap pulang kantor, melewati jalan-jalan yang dulunya sering dilewatinya bersama Adam. Bangku taman tempat mereka berdiskusi. Dia tersenyum pahit. Bahkan, ketika hampir satu tahun kepergian Adam, dirinya masih dengan sangat bodoh mengulang-ngulang memori itu… Dia ambil kameranya dan mulai memotret-motret. Tapi tetap saja cuaca menjelang musim dingin membuat hatinya sendu. Ya Rabb, aku tahu aku berdosa jika merinduinya. Dan perasaan ini sering sekali menggerogoti aku. Maafkan aku, Allah! Adam, apa kamu masih mengingatku? Apa kamu rindu aku? Adam kamu dimana siyh? Apa lupa nomor hpku? Sebegitu teganya engkau Adam. Aku benci. Dia pun kembali terisak. Tidak..ti..dak…Aku bahkan tidak bisa membencimu.

Tiba-tiba dia teringat kata-kata Adam terakhir kali mereka berjumpa, Sesekali akuilah kalau kamu memang rindu, sukanya dipendam, gimana kalau kita gak akan jumpa lagi dalam jangka waktu lama, nanti kamu nyesal lagi gak sempat ngomong jujur... dan kini air matanya kian deras mengalir, kenapa engkau harus mengeluarkan kata-kata perpisahan itu Adam? Dan sekarang aku menyesal. Aku rindu.

Dia hapus air matanya. Dia beristighfar beberapa kali dan bangkit menuju apartementnya.


***

Nisa, pulanglah! Bukan untuk alasan apapun, tapi untuk Bunda dan Ayah. Kami rindu kamu. Lupakan semua tentang perjodohan itu, Bunda tak akan memaksamu lagi. Tapi pulanglah Nak!

Kata-kata Bunda semalam terngiang-ngiang di pikirannya. Sudah hampir setahun dia mangkir dari janjinya. Dia akhirnya tak memberi jawaban terhadap lamaran Rizky. Ada sebersit rasa bersalah kepada orang tuanya. Begitu egoisnya dia, sibuk dengan perasaannya sendiri. Dia seolah diingatkan, bahwa ada keluarganya di belahan dunia lain yang senantiasa mendukung dan akan selalu bersamanya.

Lamunan seketika buyar ketika tiba-tiba mendapat kabar bahwa Desy akan resign. Beberapa minggu lalu Lulu pergi karena dia rindu keluarganya. Fakta sebenarnya adalah mereka sudah tidak tahan dengan tingkah Diana yang semakin hari semakin menyudutkan mereka. Banyak alasan yang tidak logis, tidak ada kesalahan. Isu beda agama dibawa-bawa. Keadaan kantor memang tak senyaman dulu, semuanya berubah. Kebanyakan materi untuk You & Me pun seperti diubah total, tak ada lagi hal-hal mengenai Islam, tapi mereka dituntut mencari materi lebih banyak tentang agama lain. Mereka begitu sulit mendapatkan izin untuk melaksanakan shalat. Reni, Nino, Putra dan dirinya yang Muslim yang masih bertahan. Kini, sebagian posisi itu digantikan orang yang jelas berbeda dengan mereka.

Maka setelah berpikir selama seminggu lebih, Annisa pun mengambil keputusan…

“Mba, InsyAllah akhir bulan ini Nisa pulang ke Indonesia…”, ucap Annisa tiba-tiba saat mereka dinner bersama. Reni terkejut.

“Kenapa? Sudah tak tahan dengan Diana juga?”, ucap Reni sambil tersenyum.

“Salah satu alasannya memang itu, tapi…”, mengalirlah cerita dari mulutnya tentang permintaan orang tuanya.

“Lagipun, Annisa memang harus pulang Mba, kalau terus disini Annisa akan teringat Adam terus… siapa tahu, ada lelaki yang baik dan tepat di Aceh sana…”, ucap Annisa sekenanya sambil terkekeh. Reni tersenyum.

“Amiin”, ucap Reni dan Annisa juga mengaminkan dalam hatinya.

Hati-hati dia mengatakan niatnya kepada Nino, dia cemas sahabatnya itu akan menentang keputusannya. Namun diluar dugaan Nino sangat mendukung keputusannya. Dan akhirnya dia pun kembali ke negerinya.


***

Beberapa minggu berada di kampung halaman, terlalu banyak kisah yang terjadi. Rizky akhirnya menikah. Annisa bersyukur dalam hati karena dia tidak perlu merasa bersalah terus-menerus. Bundanya sudah tidak memaksakannya segera menikah lagi, terbukti ketika beberapa proposal pernikahan datang dan Annisa hanya bisa dengan miris menolak. Bukan karena dia tidak mau, tapi karena ketika meminta petunjuk Allah, keraguan begitu besar muncul.

Kegiatan di Mesjid dekat rumahnya semakin banyak menjelang bulan Ramadhan. Annisa salah satu yang diajak untuk bergabung, walaupun dia tak bisa sepenuhnya menghabiskan waktu untuk kegiatan itu. Selama di Indonesia, dia membuka usaha fotografi. Tapi dia selalu menyempatkan datang ketika dia punya waktu, misalnya ketika malam ini selepas isya ada rapat tentang kegiatan dan kepanitiaan kegiatan bulan Ramadhan, Annisa menyempatkan datang dan sekaligus shalat berjamaah di Mesjid. Dia bukan manusia sempurna, ketika diawal imam memimpin shalat dia seperti merasakan sesuatu. Apalagi ketika sang imam membaca Al-Fatihah dan beberapa ayat Al-Quran, dia merasa sesuatu yang mendalam. Dia juga tak mengerti apa rasa itu. Yang dia mengerti suara sang imam sangat bagus, lantunan ayat-ayat dari mulutnya pun begitu terasa indah. Annisa berpikir, itu hanya karena dia rindu suasana berjamaah di kampung halamannya. Tapi dia benar penasaran dengan suara itu, dan ketika rapat dimulai Annisa yang duduk disamping Laila, tetangganya, berbisik…

“La, tadi yang jadi imam siapa?”, Laila menoleh dan tersenyum.

“Kenapa? Suaranya bagus banget kan?”, Annisa mengangguk pasti.

“Salah satu tahfiz atau ustad  disini juga?”, Tanyanya lagi.

“Hmm…gimana yaa? Dibilang ustad bukan, tapi kadang-kadang ada saat kegiatan di Mesjid, tapi dibilang iya, dia jarang banget munculnya, sesekali aja. Contohnya malam ini, kalau kamu pengen tahu yang mana beliau, maaf tidak bisa kutunjukkan. Sepertinya, dia gak ikut rapat. Jadi imam pun hanya sesekali, kamu beruntung malam ini, dia yang imamin, hehe…”, jelas Laila panjang lebar sambil mengitari pandangan kearah barisan duduk para lelaki.

“Oohh… kenapa beruntung La? Kamu aneh dech!”, ucap Annisa sambil tertawa.

“Ehem..gini lho Annisa. Asal kamu tahu, dia itu masih muda lho! Dan ganteng Sa! Trus…”, Laila sengaja menekankan dikata-kata pujian itu.

“Terus..?”, Tanya Annisa sambil memandang Laila dan dia terpana melihat wajah didepannya merona. Ya Allah, jangan-jangan…

“Beliau masih single!”, ucap Laila masih dengan wajah meronanya. Annisa terpana. Nah, benarkan, kamu naksir si imam itu kan?

“Jadi…kamu naks…”, saat pertanyaan itu akan dia lontarkan, seseorang mencoleknya dari belakang…

“Stt..Ssst..Ssst…dilarang ngegosip!”, ucap seseorang itu sambil menunjuk kearah depan dan sebagian kaum perempuan sedang menoleh melihat mereka berdua. Annisa dan Laila hanya tersenyum malu.


***

Annisa seperti kenal tempat itu. Benar saja, itu pelataran Mesjid dekat rumahnya. Dia bingung entah kenapa senja itu dia ada disana. Padahal seingatnya dia baru pulang dari kerjanya. Dia pun bergegas menuju gerbang Mesjid dan pulang. Namun, sayup-sayup terdengar seorang anak…

“Om Adam! Aira mau difoto juga!” Apa? Om Adam? Jangan-jangan….
Seketika dia mencari asal suara itu. Tidak. Tidak mungkin. Adam tidak mungkin ada disini. Aku pasti salah dengar. Logikanya seperti menolak firasatnya. Dia pun melanjutkan langkahnya. 
Namun…

“Siip gadis cantik! Tapi janji harus senyum yang cantik yaa? Terus…”, Annisa tersentak. Dia mengenal suara itu. Itu suara Adam. Benar, aku tak mungkin salah.

Ketika suara itu terus berbicara, Annisa mulai mencari lagi sumber suara itu. Dan disana, dibawah sebuah pohon besar yang sedang menggugurkan daunnya, berdiri seorang gadis kecil yang sedang berpose, dan seorang lelaki yang sedang sibuk dengan kameranya. Annisa mendekat dan seperti melihat hantu, badannya bergetar hebat. Itu benar lelaki itu. Adam. Dia benar rindu lelaki itu dan sekarang dia bertemu. Dan kini getaran itu semakin kuat, hingga membuat kantung airmatanya pun tak kuasa membendung tetesan itu. Dia menggigit bibirnya berusaha menahan airmatanya. Tiba-tiba gadis kecil itu seperti tersadar akan kehadirannya…

“Om Adam, itu siapa?”, Aira menunjuk kearahnya dan Adam menoleh.

Kini mata mereka beradu. Dan semua rasa rindu dihatinya seperti menguap. Namun, ironisnya sekuat apapun dia menggigit bibirnya, airmatanya sudah tak bisa terbendung.

“Annisa…”, dan panggilan itu semakin membuatnya terisak. Namun, tiba-tiba tubuh Adam seperti memudar. Dan sedikit demi sedikit menghilang. Annisa terpana. Tidak. Adam…jangan pergi lagi…

Dia pun terkejut. Hanya mimpi. Dia rindu Adam lagi. Mimpi-mimpi seperti itu sudah lama tak datang, dulu diawal kepergian Adam, mimpi itu seperti pelanggan ditidurnya.


***

Sepulangnya dari mengantar hasil fotonya ke studio, dia singgah ke Mesjid untuk shalat ashar disana. Kebetulan ada Laila disana, gadis itu terpilih jadi bendahara program Ramadhan. Ketika dia memarkir motornya (di kampung halamannya dia jelas tidak mungkin menggunakan roller blade or sepeda, hehe), dia melihat kearah belakang masjid. Bebarapa anak sedang berlari diluar, dan seorang gadis memanggil mereka. Murid TPA dan ustazahnya. 
Dibelakang masjid itu, memang ada semacam aula untuk anak-anak belajar mengaji. Dia ambil 
kameranya dan sedikit menangkap moment itu.

Laila menunggunya di lantai teras belakang masjid. Annisa selesai melipat mukenanya dan segera menuju Laila. Ketika mereka sedang asik mengobrol, seorang lelaki muda melewati dan menoleh kearah mereka. Ilyas. Lelaki itu tersenyum dan kembali melangkah.

“Sa, kaya’a ustad Ilyas suka deh sama kamu!”, Annisa sedikit terkejut mendengar kata-kata Laila.

“Kamu kok bisa nyimpulin gitu? Jangan mengada-ngada..”

“Hmm..gini dech, ustad ilyas itu jarang-jarang perhatian sama perempuan. Untuk senyum kaya’ tadi aja, itu udah luar biasa, ini malah dia sering banget nanyain kamu kalau ada kegiatan selama ini… apa itu namanya?”

“Yaa… masalah senyum itu kan juga senyum dengan kamu. Kalau dia nanya aku, itu karena aku jarang gabung. Lagian, aku kan masih baru lagi disini…”

“Ah, Nisa ngeles!”, Annisa hanya diam. Dia juga tak tahu harus berkata apa. Memang beberapa kali dia melihat gelagat itu, tapi dia tak mau terlalu ambil pusing.

“Nah, kan! Dia diam, hehe… Dan sepertinya akan ada ikhwan lain yang akan menampakkan gelagat sama…”, Annisa juga terkekeh. Dia merasa Laila terlalu berlebihan, ketika mereka asik tertawa kecil seseorang lewat. Haris. Dia juga tersenyum kearah Annisa dengan wajah yang sedikit agak merona. Ketika si pemuda pergi, keduanya saling menatap dan Laila seperti berkata, See! Benarkan kataku.

“Udah ah! Ngomongin masalah lain aja!”, alih Annisa. Laila tersenyum. Annisa memang cantik. 
Dia menarik. Tapi dia bukan seorang jilbaber seperti Laila. Penampilannya biasa aja, malah terkesan tomboy. Tapi pembawaan dan sikap Annisa yang mungkin membuatnya disukai banyak orang.

“Jangan-jangan kamu udah ada calon yaa?”

“Calon apa?”, Tanya Annisa sedikit terkejut.

“Calon suami lah, masa calon pembantu!”, Annisa terkekeh, namun hanya sebentar. Kini wajahnya murung. Dia teringat mimpinya semalam. Ya Allah, apa aku terlalu berharap kalau Adam akan kembali. Menyadari temannya kelihatan murung, Laila jadi terpana. Mereka sudah lama tak bertemu, dia berpikir Annisa mungkin punya kisah yang dia tak ketahui ketika mereka jauh.

“Hmm… udah gak usah dijawab kalau memang berat Sa!”, ucap Laila sambil tersenyum.

“Seandainya cerita itu indah, aku akan senang sekali berbagi La, tapi sekarang aku masih terlalu rentan untuk bercerita lagi…”, ucap Annisa lirih. Kini wajah itu menunduk. Laila hanya diam, mengharap ada kalimat lain keluar dari bibir Annisa.

“Yang jelas, kisah kasihku selama ini sedikit tragis. Yang terakhir malah membingungkan. Aku masih terlalu egois mengharapkan kejelasan ending dari kisahku ini, hehe…”

“Memangnya siapa lelaki itu?”

“Hmm…kamu gak kenal. Dia seseorang di York sana.”

“Bule?”, Laila terpana. Annisa tertawa namun masih juga hanya sebentar.

“Namanya A…dam Yusuf..”, Suaranya sedikit mengecil. Ada rasa perih ketika dia menyebutkan nama itu.

“Orang Indonesia juga kok! Ah, udah ah…gak usah dibahas lagi dech. Pulang yuk! Anak-anak aja udah pada mau pulang tuch…”, ajak Annisa sambil bangun dari duduknya.

Berdua mereka menuruni tangga Mesjid dan beranjak menuju motor Annisa. Mereka sedikit mengitari pelataran Mesjid. Sebagian anak-anak masih didalam kelas, sebagian lagi masih duduk melingkar dibawah sebuah pohon besar yang sedang berguguran daunnya bersama seorang lelaki yang duduk berlawanan. Hei, itu kan pohon itu… Annisa berhenti melangkah. 
Kemudian tersenyum. Seandainya saja Adam memang berada dibawah pohon itu. Ah, itu hanya mimpi. Laila menoleh dan Annisa melanjutkan kembali langkahnya mengikuti Laila ketika sayup-sayup suara seperti menarik perhatiannya… Itu kan konsep keesaan Allah yang… Dia pun menoleh mencari sumber suara itu. Dia melangkah mendekat berusaha mendengar lebih jelas. Laila memanggil-manggil, tapi tak digubrisnya. Dia terus melangkah sampai jaraknya dengan pusat suara sangat dekat. Ya Allah, ini bukan mimpi kan? Ini kenyataan kan? Suara ini, cara bicara ini…ternyata dia memang telah berubah. Kini, ada rasa haru yang luar bisa menjalar dari hati sampai keseluruh tubuhnya. Dia benar-benar penasaran, apa perkiraannya benar, atau benar-benar hanya mimpi belaka. Tubuhnya mendingin. Seorang gadis kecil menyadari kehadirannya dan menunjuk kearahnya. Seseorang itu pun menoleh dan…

Mata mereka pun beradu. Annisa merasakan tubuhnya yang kaku kini menghangat. Bibirnya menyunggingkan senyum namun ironis matanya seperti tak ingin kalah untuk beraksi. Kini matanya berkaca-kaca… Lelaki itu bangun dari duduknya dengan pandangan lurus kearahnya. Pandangannya terpana yang ujungnya berakhir sangat lembut. Pandangan yang begitu dirindukan Annisa. Itu dia. Ya Allah, kuharap ini bukan mimpi.

“Annisa Namira…”, ucap lelaki itu lirih, tapi bagi Annisa suara itu sangat jelas. Suara itu masih tetap begitu tega. Kini setitik air mata jatuh dipipinya.

“Ka…amu disini rupanya…”, ucap Annisa terbata-bata. Annisa menunggu beberapa saat memastikan penglihatannya. Alhamdulillah, ini bukan mimpi.

Seolah gerakan yang lain seperti melambat karena hanya mereka berdua yang masih terasa sangat normal. Kini keduanya bertemu lagi. Seolah apapun yang ada saat itu diantara mereka mengabur, hanya tatapan kearah masing-masing mereka yang terasa begitu jelas.


I believe it is not the end! So do you, don’t you?
God will bring us together to meet again someday…


***














Rabu, 05 Oktober 2011

Better In Time 14 - Is This The End??



“Kamu enggak apa-apa pagi-pagi udah kesini? Gak ke gereja?”

“Udah tadi”, Annisa melihat kearah Adam karena mendengar jawaban singkat itu. Sangat singkat.

“What’s wrong Adam?”, tanyanya.

“Haha...memangnya seperti ada yang terjadi padaku yaa?? Sayang, jangan terlalu cemas begitu, kelihatan banget rasa cinta kamu...”, ledek Adam. Annisa langsung cemberut. Adam tertawa, namun langsung berakhir pahit.

“Hmm... aku lagi ingin ketenangan aja, beberapa hari pikiran dan hatiku dilanda kegusaran... dan ketika keluarga datang ingin merayakan Natal bersama, aku pikir akan lebih indah, namun ternyata...”, dan kau tahu tidak kekasih, bukan hanya pikiran dan hatiku tapi juga keyakinanku. Dan entah kenapa disini, denganmu, dengan komunitasmu di rumah Tuhanmu ini aku merasa ketentraman yang sangat. Banyak hal yang membuatku sejalan dengan peraturan agamamu. Ketika tak ada hukum jelas dan tegas dalam Bibel tentang sesuatu yang memang secara logika merugikan dan membahayakan seperti hubungan sebelum nikah antara lelaki dan wanita, minuman keras, tata cara berpakaian, adab kepada orang tua atau muda dan masih banyak hal lainnya. Semuanya sangat jelas terurai didalam Al-Quran dan aku merasa kitab itu benar. Tapi kurasa kau tak perlu tahu...

Annisa diam menunggu kalimat Adam selanjutnya, namun Adam malah menoleh melihat kearahnya dan tersenyum...

“Annisa, kamu tahu gak? Setiap hari aku selalu merindukanmu... pakai sihir apa siyh?”, Muka Annisa merona karena malu juga sewot. Adam tertawa.

“Bukan karena sihir, tapi karena kamu aja tuch! Toh , I don’t miss you all the time like you do...”, ucap Annisa sedikit tegas. Adam tersenyum dan mencari mata itu karena Annisa sudah membuang muka.

“Today?”

“Nope!”

“Perkataanmu selalu berbau bohong! Sesekali akuilah kalau kamu memang rindu, sukanya dipendam, gimana kalau kita gak akan jumpa lagi dalam jangka waktu lama, nanti kamu nyesal lagi gak sempat ngomong jujur...”, Annisa terpana. Dia menoleh kearah Adam. Dia langsung merasa perasaannya tak enak.

“Kamu ngomong apa siyh?”

“Memang kenapa? Benar kan? Gak ada yang salah dengan kata-kataku kan?”, Annisa hanya diam.

Adam, apa harus aku mengungkap semua dengan kata-kata? Sudahlah…yang penting hatiku tahu, dan mungkin juga hatimu juga tahu, itu sudah sangat cukup. Ya Rabb, sampai kapan kami harus berjalan ditempat.

***


Dia mulai merasakan kebenaran akan kedamaian dalam kekeluargaan di agama Islam. Selesai sarapan bersama dengan komunitas yang dia sadari sangat berbeda dengannya, Adam memilih berjalan-jalan. Sementara Annisa mulai sibuk dengan kegiatannya bersama anak-anak kecil. Duduk melingkar dan mulai berkisah tentang para nabi.

Adam merasakan kakinya melangkah tanpa kesadaran kearah Mesjid. Dia benar-benar ingin masuk kesana. Enggak Adam! Ini hanya pengaruh mimpi! Dia pun berbalik dan melangkah menuju taman ketika seorang gadis kecil  menarik perhatiannya. Gadis itu berjalan menuju teras Mesjid dan mulai menaiki tangga itu, tangannya mengenggam erat yang disadari Adam sebagai sebuah Al-Qur’an. Kitab itu yang selama ini datang terus-terusan dalam mimpiku. 
Betapa kitab itu mereka muliakan, bahkan seorang gadis kecil. Dan dengan kesengajaan yang sangat dia pun mengikuti langkah-langkah kecil itu.


***


“What’s your name?”, sapa Adam. Gadis kecil itu hanya menoleh dan tersenyum. Kemudian kembali menikmati pandangannya kearah taman.

“Why do you sit alone here? Don’t you wanna join your friends?”, tanya Adam lagi.

“I’ll do, but after I finish reciting some verses of Al-Qur’an”, jawab gadis kecil itu sambil terus mengenggam kitab itu. Adam melihat kearah tangannya dan merasa sangat penasaran. Gadis itu melihat kearahnya lagi.

“Who are you? I’ve never seen you before!”

“I’m Adam,” jawab Adam singkat dan gadis kecil didepannya tersenyum sangat manis.

“Adam. Wow, that’s our first prophet’s name! Very nice name!”, Adam terpana. Jangan-jangan...

“Thank you!”

“Well... Adam, would you pleased doing something for me?”

“What’s that?”

“Dari semalam aku pengen sekali mendengar seseorang membacakan syahadat dan shalawat, will you?”, tanyanya dengan wajah memohon. Adam terpana. Benar kan! Dia mengira aku seorang Muslim sama sepertinya. Hanya gara-gara nama.
Adam diam. Bukan karena dia tak mau, tapi karena dia memang tak bisa. Tak punya bayangan sama sekali. Sekalipun dia sudah pernah membaca di salah satu buku islam tapi dia tidak benar-benar membacanya. Saat kecil sepertinya Ummi juga pernah mengajarinya, tapi dia benar lupa. Adam terus diam, sampai si gadis pun akhirnya jenuh.

“Why you just say nothing? Don’t say you can’t!”, muka gadis itu pun cemberut. Mungkin dalam pikirannya, lelaki dewasamacam apa yang tidak bisa bersyahadat dan bershalawat. Tiba-tiba gadis itu pun membuang muka dan sedetik selanjutnya dia mulai bergumam mengucapkan sesuatu. Gadis itu sedang mengucapkan syahadat dan diikuti dengan shalawat. Adam hanya bisa terpana. Senandung itu persis dengan apa yang ada di mimpinya dengan irama yang serupa. Tubuh Adam mulai berkeringat di musim dingin yang sangat menusuk. Setelah selesai dengan senadungnya, gadis yang tak diketahui namanya itu pun kembali menoleh...

“Kamu pengen gak ke syurga?”, kata-kata itu mengejutkan Adam yang sedang tak bisa fokus. Adam mengangguk.

“Aku juga pengen banget...”, sambung gadis itu.

“Tapi sejujurnya masih belum tahu jalan kesyurga!”, ucap Adam asal.

“Aku tahu…”, Adam terkejut. Kejadian ini kan…

“Kata Annisa, jalan kesyurga itu mudah sekali sebenarnya. Kuncinya ikhlas mencintai Allah dan RasulNya. Suka membantu sesama, dan suka mengaji”, ucap si gadis sambil menatap Al-Qurannya.

“Annisa bilang jalan ke syurga itu akan terang benderang kalau semuanya dilakukan dengan ikhlas. Annisa juga bilang Allah tidak suka kekerasan, karena agama islam mencintai kedamaian. Walaupun dengan orang yang berbeda agama sekalipun, kita harus saling menyayangi. Walaupun terkadang kita diperlakukan tidak baik, kita tetap harus memaafkan. Katanya, kalau kita penyayang, Allah juga sayang dan sudah pasti semua orang pasti sayang…”, Adam seperti anak kecil, dan posisinya memang sudah terbalik. Kata-kata itu memang sangat sederhana dan hanya keluar dari mulut seorang gadis kecil, tapi itu merupakan kekuatan besar buat Adam. Dia sangat memaknainya. Otak dan hatinya kini mulai berjalan kearah seharusnya. Kebenaran Islam.

“Persis seperti Annisa…” sambung Adam selanjutnya.

“Iya, persis seperti Annisa. Semua orang mencintainya. I love her too, do you?”, Tanya gadis itu dan Adam tersenyum penuh arti.

“Very much!”

Gadis kecil itu pun tersenyum dan membuka Al-Quran dan memulai melantunkan surat Al-Ikhlas hingga Al-Fatihah. Adam merasakan tubuhnya dijalari energy yang luar biasa. Sejuk, tapi ironisnya tubuhnya berkeringat dingin di musim dingin ini. Gadis itu pun selesai.

“Adam… I need to go to the toilet…!”, tak ada respon. Gadis itu melihat kearah Adam yang sekarang menunduk dengan keringat diwajahnya dan tubuh yang bergetar.

“Adam… Adam, are you oke?”, Adam menoleh dengan susah payah dan mengangguk lemah.

“You sure?”, Adam tersenyum.

“Aku titip ini  sebentar yaa?”, gadis itu meraih tangan Adam dan meletakkan Al-Qur’an kecil itu tepat di telapak tangan Adam. Gadis itu sudah berlari meninggalkan Adam yang kini semakin merasakan sesuatu yang luar biasa. Harum semerbak menghinggapi indera penciumannya. 
Kegelisahannya hilang sudah. Kegusarannya lenyap. Hatinya yang dilemma sekarang penuh dengan pencerahan. Sesuatu ditangannya itu yang memberi kekuatan besar. Itu lah cara Allah. Semuanya terasa kabur. Hanya dirinya dan kitab itu di Mesjid itu. Namun, samar-samar terdengar suara gadis kecil itu dari jauh…

“Adam, you asked me my name, didn’t you? My name is the same as your girl. Annisa.”
Seolah puzzle mimpi-mimpinya mulai terpecahkan. Semuanya memang berarti dan Allah sutradaranya. Semuanya berkaitan. Mimpinya menjadi nyata. Déjà vu melandanya.


***

Dia mengemudikan mobilnya dengan cepat. Hatinya bergetar hebat. Dipersimpangan itu, 
mobilnya selalu akan berhenti ketika dia begitu ingin menumpahkan segala keluh kesah dan permasalahannya. Tapi saat ini, malah dia melewati gedung gereja itu. Dia menuju sebuah rumah itu. Rumah ibunya.

Melewati pagar kecil itu, dia melihat ibunya sedang mengaji di sebuah pondok kecil rumahnya. Kakinya yang awalnya tergesa-gesa, mulai melambat seolah sangat menikmati alunan suara itu yang membaca surat Ar-Rahman. Hatinya yang tadinya bergemuruh hebat, mulai mengikuti irama detakan yang tenang. Satu airmata jatuh. Seluruh tubuhnya seperti kaku, hilang rasa. Tapi dia begitu tenang.

Suara kunci mobilnya yang terjatuh dari tangannya menyadarkan wanita cantik itu akan hadirnya seseorang. Dia pun menoleh dan terpana. Anaknya menangis. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

“Adam!”, suara wanita itu menyadarkan adam. Dan tanpa diarahkan pun, Adam berjalan cepat dan memeluk erat ibunya. Dia terisak disana. Ya Allah, anakku! Debaran jantungnya begitu cepat. Ada apa Ya Rabb?

Dia biarkan itu beberapa saat sampai dia merasa debaran jantung anaknya mulai normal kembali, sambil terus mengucap istighfar dan membelai rambut Adam.

“Ummi..”

“Hmm...what happens Adam?”

“Ummi, apa berdosa jika Adam mulai mencintai seseorang?”,

“Tentu tidak, cinta itu berkah sayang”

“Tapi..”

“Tapi?”, Adam mendongak.

“Tapi Adam malah meninggalkan seseorang yang sangat Adam banggakan dan kasihi?”, ibunya terpana. Ada apa dengan Adam dan Annisa? Sampai serumit ini masalah mereka?

Mereka terdiam.

“Adam...hati ini memang letaknya di tubuh kita. Kita menganggap ini hati kita. Tapi sebenarnya ini milik Tuhan. Dia yang menentukan segala yang terjadi dengan hati kita. Kepada siapa hati ini kelak akan menjatuhkan pilihan. Itu semua bukan kehendak kita, tapi itu Tuhan yang punya andil. Jadi sebesar apa pun cinta kita kepada seseorang semenit yang lalu, bisa saja berubah total sekarang..jadi menurut Ummi, tidak ada yang salah dengan cinta.”

Adam terdiam.

“Ummi, getaran cinta itu makin besar ketika Adam berada di Mesjid tadi pagi ketika menemui Annisa...”, ibunya terpana namun penuh tanda tanya. Adam menunduk.

“Islam...itu...ternyata...indah, ummi, ya kan?,” ucapnya terbata sambil mendongak melihat ke arah ibunya. Bening air mata menghiasi matanya. Ibunya terpana.

“Subhanallah! Alhamdulillah, AllahuAkbar!”, tak dapat ditahan, airmata mengalir di kedua kelopak mata wanita itu. Dia memeluk erat tubuh Adam.

“Terima kasih hidayahMu, Ya Allah”.

“Ummi, Adam ingin bersyahadat. Ummi bisa bantu bimbing Adam?”, dan kini air mata haru Aleesya tak bisa terbendung. Dia memeluk putranya itu erat dan tak henti-hentinya mengucap syukur.

Dan di hari Natal itu, Aleesya membimbing Adam bersyahadat. Salju yang sesaat telah berhenti, turun lagi menyaksikan moment yang indah itu. Adam merasakan semuanya begitu indah. Tenteram. Untuk pertama kalinya dia mengucap hamdalah dengan takjub.


***


“Annisa tahu keadaanmu nak?”, Adam menggeleng dan tersenyum.

“Adam belum memberitahu siapapun ummi, dan Annisa tak perlu tahu. Adam yakin dia akan menyalahkan dirinya sendiri. Karena dia pasti berpikir...hmm, ya sudahlah. Biarlah keyakinan ini Adam yang rasa sendiri.”

“Tidak nak! Ini berita gembira. Annisa pasti gembira,” Adam memandang keluar jendela.

“Terlalu banyak hal yang dia hadapi selama Adam mendekatinya. Banyak tanggapan negatif. Adam tidak mau dia berpikir kalau keputusan Adam ini berhubungan erat dengannya...”

“Tapi sejujurnya iya kan Adam?”, Adam terkejut dan menoleh kepada umminya.

“Tidak sama sekali ummi!”

“Adam, Ummi tidak berusaha mengatakan kalau kamu meninggalkan keyakinanmu hanya karena mengikuti Nisa. Tidak, nak. Tapi kamu sadar tidak, hidayah yang Allah berikan untukmu itu mungkin berbeda bentuknya dengan yang selama ini kita tahu. Hidayahmu itu adalah Annisa. Allah menuntunmu menuju arahNya melalui Annisa. Dia hanya sebagai perantara, tapi hatimu sendiri yang memilih, ya kan?”, Adam terdiam dan hatinya mengiyakan. Ibunya tersenyum penuh makna.

***


Adam kemana ya? Apa dia sudah pulang karena merasa jenuh?

Annisa terus mencari sosok lelaki itu, namun semuanya sia-sia. Adam menghilang. Hpnya tidak aktif.

“Annisa!”, seseorang memanggilnya. Gadis kecil itu.

“Hai dear! Ada apa Annisa cilik?”, Tanya Nisa sambil tersenyum.

“Where’s Adam?”, pertanyaan itu tentu membuat Annisa terpana.

“Apa sayang?”

“Adam dimana Annisa? Dia pergi begitu saja membawa serta Al-Qur’an milikku…”, Annisa kini benar-benar terperanjat. Adam pergi membawa Al-Qur’an? Sebenarnya ada apa? Come on Adam, angkat telponnya! Annisa mulai sibuk lagi dengan hpnya.

“Sayang, sebentar yaa? I am trying to call Adam!”,

Tapi lagi-lagi usahanya gagal. Hp Adam masih tetap tak aktif.


***


Aleesya merasa sangat bahagia, tapi disatu sisi ada kecemasan yang luar biasa. Kini dirinya dan Adam sedang dalam perjalanan menuju kerumah Adam. Adam begitu berniat mengungkapkan segalanya. Dia benar-benar ingin. Wanita itu cemas akan respon keluarga Adam terhadap keputusan besarnya. Apapun yang terjadi, apapun reaksi Kakek, Nenek dan Daddy serta keluarga lainnya, Adam harus siap, Ummi. Tak ada yang perlu dicemaskan Ummi, semua keputusan punya konsekuensi. Dan yang paling penting sekarang, Adam punya Dia dan juga Ummi. Ucap Adam tadi ketika Aleesya terlihat begitu cemas.

Rumah cantik itu tak terlihat menarik lagi. Semuanya terlihat menakutkan dimata Aleesya. Kaki dan tangannya dingin bukan karena cuaca tapi karena kecemasan yang luar biasa. Dia tak mengkhawatirkan dirinya sendiri tapi putranya. Lelaki yang menjadi kebanggaan keluarga Josep dan kini telah mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Keputusan yang dulunya tak berani diambil lelaki yang dicintainya itu, David. Ketika keyakinan menjadi taruhan, maka tak ada ampunan dalam keluarga itu. Dia mengenggam erat tangan anaknya. Adam terlihat santai, namun Aleesya tahu sesuatu bergemuruh didalam sana. Adam tak mungkin tega mengkhianati keluarganya, tapi keputusan ini demi kelangsungan hidupnya. Yang paling benar adalah ini bukan keputusannya tapi keputusan Tuhan akan jalan hidupnya.

Ketika berada diruang keluarga itu, semuanya terlihat serius. Dingin. Semuanya memang telah kurang senang ketika Adam menghilang tadi pagi dan mendapati Adam kembali dengan Aleesya.

“Sesuatu yang akan saya sampaikan ini mungkin akan mengejutkan. Tapi saya harus menyampaikannya. Sejujurnya tidak berniat merusak suasana Natal keluarga ini!”

Dan kata-kata itu membuat semuanya terpana. Josep menatap tajam kearah Adam, sedang 
istrinya memandang benci kearah Aleesya. Adam merasa gugup. Dari tadi dalam perjalanan, otaknya mulai merangkai kata-kata yang akan diucapkan, Kakek, Nenek, Ayah, Saya minta maaf. Saya sudah mengambil keputusan untuk memeluk agama Islam, mohon dimengerti. Atau… Kakek, Adam mohon maaf sebesar mungkin kalau keputusan Adam menyakiti semua. Tapi Adam merasakan kedamaian didalam Islam. Kini, bibirnya kelu. Dia mengucap istighfar dalam hati dan memohon kemudahan dan…

“Now, I am a Muslim!”, singkat, namun cukup membuat dirinya tenang. Semua beban kata-kata sekarang terlepaskan hanya oleh sepenggal kalimat yang sangat jelas itu.

Semua wajah didepannya terkejut. Muka Josep memerah. Sangat marah. Penerus kebanggaannya kini telah mengkhianatinya. Kristine, istrinya juga merasakan hal yang sama, tapi bukan pada Adam, tepatnya pada Aleesya. Dia memandang sengit kearah wanita yang sedari tadi menunduk itu dan mengucap doa apa pun yang dia bisa. Hanya lelaki itu yang tersenyum tipis. David. Dia merasa anaknya begitu berani bukan sepertinya.

“Jangan konyol Adam. Keputusan macam apa itu? Di hari suci Natal ini, kau bermain-main dengan keputusan… sebaiknya segera kau antar pulang wanita itu, jangan sampai dia terlalu jauh mempengaruhimu lagi..”, ucap Kristine. Josep hanya diam dengan muka yang semakin merah.

“Tidak Nek! Tidak ada  yang memaksa Adam. Terutama Ummi, ini murni keputusan Adam. Jangan salahkan Ummi! Aku butuh waktu agar bisa sampai pada titik ini, bukan keputusan sehari…”

“Cukup! Apa-apaan kau ini? Sudah cukup anakku yang dikelabui oleh dia. Sudah cukup aku begitu keras menjaga keyakinannya, dan kini kamu yang kubesar dalam agama yang benar berani-beraninya membela wanita itu dan beraninya mengkhianati keimananmu…”, sambung Kristine.

“Nenek, sudah cukup menyalahkan Ummi! Ini lah keyakinan yang kuanggap benar, semua pertanyaan tentang keimanan terjawab ketika aku berdekatan dengan Islam, namun Bibel dan semua diskusi bahkan dengan Pastur tidak membantu. Sekali lagi Ummi tidak pernah memaksaku…”

“Ini bukti bahwa kau berdekatan dengan wanita itu, makanya kau meragukan Tuhanmu..”, lanjut Kristine. Adam mulai merasakan mukanya memanas. Dia mulai emosi, tapi genggaman tangan dan bisikan ibunya meredam amarahnya. Josep masih saja diam.

“Pertanyaan-pertanyaan macam apa Adam?”, kini Diana angkat bicara.
Jeda. Semua mata kini tertuju padanya dan wanita disampingnya.

“Oke! Jelaskan padaku tentang konsep trinitas! Kenapa harus menyembah Tuhan yang 
jumlahnya tiga? Atas dasar apa hingga tercetus konsep trinitas? Apa pernah Jesus mengatakan bahwa dia adalah Tuhan? Tunjukkan padaku ayat yang membuktikan itu…dan yang juga penting, kenapa Bibel harus ada perbedaan isi antara perjanjian lama dan baru?”, tanyanya bertubi-tubi.

“Kenapa pertanyaan-pertanyaan itu bisa muncul sekarang Adam? Tega sekali engkau meragukan Tuhanmu…”, jawab Edwin, salah satu kerabat Adam.

“That doesn’t answer my questions!”, ucap Adam sambil tersenyum sinis.

“Semua hukum dalam Bibel semakin hari semakin membingungkanku. Dari dulu aku tak pernah dekat dengan Bibel. Itu tanda. Dan aku hanya meyakini Jesus, padahal dia hanya Tuhan anak. Aku benar-benar bingung. Belum lagi konsep pengampunan dosa. Semua jawaban aku temukan dalam Islam. Kitab suci yang murni isi dengan berbagai hukum dalam kehidupan. Dan paling penting Tuhanku hanya satu, yaitu Allah, bukan tiga!”,

“Plak!”, sebuah tamparan mendarat dipipi Adam. Perih. Adam mengaduh. Aleesya terkejut dan juga seluruh orang disana. Kini kemarahan Josep sudah berada dipuncaknya. David hanya bisa diam. Dia

“Dasar pengkhianat. Sudah cukup kau jelekkan Tuhan kami, kalau kau memang sudah tak percaya, pergi menjauh dari Tuhan kami dan bersujudlah pada Tuhan barumu itu”, ucap Josep marah. Adam terpana. Bukan tamparan itu yang sakit tapi hatinya perih.

“Dan kau wanita! Semuanya memang berawal darimu. Pergi bawa pengkhianat ini bersamamu agar kau bebas mengajarinya… dasar wanita pembawa sial!”, ucap Josep. David merasa iba, dia hanya bisa terpana. Tidak Aleesya, kau bukan pengkhianat! Kau bidadari!

“Cukup Kakek! Kami akan pergi, tapi ingat jangan kakek ucapkan kata-kata kejam itu lagi… Ayo Ummi! Selamat tinggal!”, ucap Adam sambil merangkul ibunya dan melangkah pergi.

“Tunggu!”, panggil Josep. Adam berhenti.

“Jangan pernah memanggilku Kakek lagi, kau bukan keluarga ini lagi. Kau pengkhianat dan pengkhianat bukan darah kami…”, Adam merasakan hatinya seperti diiris-iris pisau yang tumpul. Aleesya menangis.

“Dan satu lagi tinggalkan semuanya. Pergi dari You & Me dan menjauh dari kehidupan kami, kalau tidak, jangan salahkan kami kalau kehidupanmu dan wanita sialan itu akan seterusnya tidak tenang!”, air mata Aleesya semakin deras. Adam makin kuat merangkulnya. Mereka pergi.

“Adam, tunggu!”, panggil David.

“David, tetap disini!”, ucap ayahnya tegas. David hanya memandang sengit, tapi kakinya dengan sangat tega tak bisa bergerak.

David menahan emosinya. Anaknya diperlakukan tidak adil. Tapi begitulah keluarganya, setiap ada kerabat yang memilih agama lain, mereka memusuhi. Kehidupan tak tenang, dan kemudian memilih pergi menjauh. Kau hebat nak! Kau punya komitmen, tidak seperti ayahmu ini. Pergilah, cari kebenaran lewat hati dan matamu.


***

Adam benar-benar pergi. Dia benar meninggalkan semuanya. Rumah, You & Me, keluarga yang dicintai, mobil, dan segala fasilitas lainnya serta hp yang memang tertinggal di dalam mobil. Dan benda itu sudah puluhan kali berbunyi.

Dengan Aleesya, ibunya, mereka berencana pergi jauh. Mencari tempat yang tenang yang 
sekaligus bisa menjadi tempat yang tepat untuk Adam mendalami Islam. Adam mencari penerbangan tercepat. Kakeknya sudah pasti tak akan membiarkan mereka hidup tenang jika mereka berlama-lama disana, lelaki itu punya kuasa yang besar. Dia hanya mencemaskan ibunya.

Dalam perjalanan menuju airport pikirannya terpecah. Dan bayangan Annisa datang dengan begitu teganya. Kekasih, aku pergi. Meninggalkanmu. Maafkan aku! Annisa, aku rindu, kamu lagi apa? Apa aku bisa melihatmu sekali lagi? Allah, beri aku kesempatan untuk melihatnya sekali lagi…

Dia meminta sopir taksi berhenti di taman Museum Street, dia turun dan berjalan kecil. Memandang sekeliling. Dibawah pohon itu, dibangku itu biasanya dia melihat Annisa. Duduk sendiri, sibuk dengan kamera atau Al-Qur’an kecilnya. Menyelesaikan deadline dengan laptopnya. Di atas rumput dekat sungai itu, dia duduk bersama anak-anaknya. Adam benar-benar rindu. Seseorang itu menyentuh pundaknya…

“Adam…”, Adam mendongak dan tersenyum. Ibunya.

“Ayo Nak! Pesawatnya segera berangkat”, Aleesya tahu anaknya sedang dilemma. Dia merindukan kekasihnya. Adam mengangguk ketika tiba-tiba dia mendengar suara itu…


***

Annisa mulai cemas. Adam menghilang. Hpnya dari tadi tak dapat dihubungi. Tak biasanya perasaannya tidak nyaman begini memikirkan Adam. Dia teringat perkataan Adam yang tadi pagi. Hingga menjelang sore, hp Adam sudah aktif namun tak diangkat. Pertanyaan-pertanyaan berkelebat dipikirannya. Apa ada kesalahan yang dia perbuat hingga Adam pergi. Tidak, Adam bukan orang seperti itu.

Annisa memacu roller bladenya menuju taman. Carolyn, Katarine dan Ann menunggunya. Mereka ingin mengajaknya berkunjung kerumah mereka di hari Natal itu. Namun, Annisa 
memilih bertemu di taman. Ketika dia sampai, dia malah dikejutkan oleh perkataan Carolyn…

“Annisa, Seorang lelaki menitipkan ini untukmu…”, Annisa meraih sesuatu itu. Sebuah amplop coklat muda kecil. Ada kartu kecil didalamnya. Sebuah foto. Itu fotonya dengan Adam yang Nino ambil. Foto ketika Adam dan Nino memaksanya berpose dengan Adam, namun dia cuek dan memilih berjalan pergi dengan acuh meninggalkan Adam. Namun, Adam mengikutinya dengan mata tepat tertuju kearahnya.

Dear Annisa,
I believe it is not the end! So do you, don’t you?
God will bring us together to meet again someday…

Adam.

Ada rasa sedih luar biasa dalam hatinya. Matanya mulainya perih. Dia menangis. Dia tahu, itu kata-kata perpisahan. Adam pergi. Meninggalkannya. Tapi kenapa? Kenapa kamu pergi begitu saja Adam? Seketika kekuatannya menghilang, bahkan amplop sekecil dan seringan itu tak sanggup dia pegang. Amplop itu terasa berat, terjatuh ketanah. Dan menjatuhkan sebuah benda kecil berkilau. Sebuah cincin.

Carolyn mengutip cincin itu dan menyerahkannya pada Annisa. Gadis kecil itu merasakan sesuatu sedang bergejolak dihati Annisa sampai dia menangis. Dia pun meninggalkannya, menarik kedua temannya untuk ikut bersamanya.

Annisa tak bisa menahan lagi kesedihannya. Itu cincin saat Adam melamarnya. Dia memang terlalu cengeng, tapi ini lah dia dengan segala kekurangannya. Dia seorang wanita yang mudah sekali menangis. Dan di detik ini, hati dan pikirannya memang tak mau bekerja sama. Hati yang begitu sakit teriris, mengirim sinyal ke otak dan bagian utama itu mulai merespon dan mengirimkan semua sinyal ke seluruh tubuh. Kini tubuhnya bergetar. Sinyal yang paling terasa begitu tega adalah ketika kantung air mata mulai mengeluarkan airnya. Berbutir-butir. Dan mengalir teratur di pipinya…


Allah, is this the end?









Selasa, 04 Oktober 2011

Surat Untuk Allah - VMJ



Dear Allah…

How are you?

And today I am writing to You again after some time…

Hmm… sebenarnya terlalu banyak kisah yang terjadi dalam beberapa waktu lalu, tapi seperti yang telah pernah kita bahas disuratku terdahulu, ketika ide sudah menyapa seharusnya yang dilakukan adalah langsung merealisasikannya karena ide itu makhluk yang sangat lincah. Ide bisa langsung pergi jika aku cuekkan. Ide itu makhluk nakal yang gorgeous. Menarik namun bandel. Dan beberapa kali aku kehilangan dia. Huh…

Asmara-asmara dan asmara lagi…

VMJ-VMJ dan VMJ lagi… dan persoalan sebenarnya adalah tentang…

Cinta-cinta dan cinta lagi…

Tak akan pernah ada kata yang habis jika berbicara soal C.I.N.T.A… Am I falling in love so that I am writing about this again? Yes, I am falling in love with You (gombal kok sama Tuhan, hehe… but you know best my heart)

Nope, I am not, but there are stories surrounding me regarding love…

Tuhanku,

Cinta itu sebenarnya kata-kata yang skaral kan? Kata salah satu dosenku, dia bahkan tak pernah mengucapkan kata-kata cinta untuk istrinya, karena baginya cinta tak perlu diutarakan tapi paling penting adalah bagaimana cinta itu direalisasikan by the way you look at her, the way you treat her and the way you touch her… (I agree ^_^).

Benarkan Tuhan kalau selama ini kata-kata cinta seperti tak bermakna lagi, seluruh generasi bahkan anak-anak baru puber sudah berkata, “Aku cinta kamu”, “Love you”… padahal seorang dewasa saja belum tentu mengerti apa definisi cinta itu sendiri…
Bagi beberapa orang dan kebangsaan, cinta itu kata-kata yang dalam dan butuh cara khusus untuk mengutarakannya dan diungkapkan untuk seseorang khusus (I also agree ^_^), dan I believe,  You create “LOVE” for something like that.

Bagi kami, beberapa perempuan (tentu Engkau lebih tahu, karena Engkau lah yang menciptakan kami), menganggap lebih berarti rasa cinta yang diutarakan lewat tingkah, but for some others, they prefer that love is being told…

Allahku Yang Maha Cinta,

Persoalan lain datang ketika cinta muncul dengan mudahnya dihati-hati halus kaum 
perempuan…

Ketika cinta berbalas, rasanya ingin selalu mendendangkan lagu Melly Goslow… (Dan ku tlah jatuh cinta, ku wanita dan engkau lelaki, perasaanku berkata… I am falling in love)… Everything seems in the pink… the flowers are blooming wherever and whatever the girl sees… Rasanya ingin setiap detik mengucap namanya… tersenyum sendiri mengingat kebersamaan yang terkadang singkat namun begitu berkesan. Disela-sela itu, datang lah perasaan resah. Sangat resah. Dan semakin resah. She is missing him.

Oh Tuhan, dalam hatiku selalu bertanya, kenapa kau limpahkan rasa rindu ketika itu salah sasaran, kenapa rasa itu ada ketika menyakitkan?

Dan seperti ingin mendendangkan lagu “Lagu Rindu”… (Lagu rindu ini ku ciptakan, Hanya untuk bidadara hatiku tercinta, Walau hanya nada sederhana, Ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan…)

Dan sepertinya aku mendapatkan jawaban itu, rasa rindu itu lah yang dicari karena dia pemanis cinta… namun, ketika tak tepat tujuan, Engkau mengajari sesuatu disana bahwa kami harus senantiasa mengingatMu agar hati senantiasa terjaga…

Rabbku Yang Maha Sempurna,
Betapa perih ketika rasa itu tak berbalas… semuanya kelabu… Apapun yang dikerjakan tak berarti, bibir tertawa, senyum tersungging, namun hati menangis… jauh kemudian, rindu datang dengan begitu teganya dan  menggerogoti pikiran dan hati…


Semuanya Engkau atur sedemikian rupa agar kami senantiasa belajar… ketika cinta telah jatuh, maka hati tetap harus terjaga.
Istikharah Kau anjurkan… jika “tidak”, maka hati harus senantiasa terjaga, begitu jika “iya”, hati juga harus terjaga…

Pengalaman memang guru yang terbaik. Tapi terkadang pengalaman belum punya metode yang tepat untuk membuat kita belajar. Satu kali jatuh cinta dan salah sasaran, kedua kalinya juga sama, ketiga kali lagi-lagi sama… (Pengalaman pribadi, hahaha)…
And again, Engkau kuatkan kami dengan cara itu… mengajari kami dengan banyaknya persoalan mengenai hati…

Aku jadi ingat lirik lagu ini, “For the rest of my life, I’ll be with you…I’ll stay by your side, honest and true, Till the end of my time, I’ll be loving you, loving you…” because the song is for the wife, I agree that the word “Love” is used properly…
Allah,


Dear Allah semoga kisahku juga orang-orang sekelilingku akan baik ke depannya. Amiin…
Dan permintaan khususku, buat orang-orang tersayang disekililingku yang sedang jatuh hati, mudah-mudahan Kau limpahkan tameng yang kokoh untuk menjaga hati mereka… Allah, berikan petunjuk bagi mereka yang berniat baik dan mudahkan langkahnya… dan limpahkan kasih sayang dihati dan lingkungan kami. Amiin.


Love Me,

Ummi ^_^