Minggu, 20 November 2011

Plot and Me 3 - Meet Again



Dan benar saja, lelaki itu benar-benar menghubungiku. Aku mencoba biasa saja, karena memang proses seperti ini harus dimulai dengan pertemanan. Bahaya sekali kalau langsung diawali dengan harapan karena itu bisa menimbulkan virus merah jambu. Aku sedikit bergidik. Tapi aku sadar, hati ini Allah yang mengatur.

Nadia, ini Faisal. Masih ingat? Yang diacara Kiki.

Ingat ^_^

Nadia apa kabar?

Sehat Alhamdulillah, bang Faisal?

Alhamdulillah sehat juga.

Karena dia lebih tua dariku, maka aku berinisiatif memanggilnya “Abang”. Awalnya Cuma pembicaraan basa-basi (untung gak basi duluan, karena aku tipe yang kurang suka basa-basi), akhirnya dia mengajakku ketemuan lagi.

Nadia, sesekali kalau saya ajak keluar makan, mau gak?

Aku berpikir sejenak. Sejujurnya aku tahu kalau keluar berduaan tidak baik, apalagi ditempat umum. Tapi malah makin parah kalau ditempat sepi. Jadi…

insyaAllah, tapi ditempat rame kan?

Haha… iya, gak mungkin kan kita makan dikuburan. Oke, I’ll text you later. Good night ^_^

Aku tersenyum. Dia lucu juga. Tak kubalas lagi sms itu dan aku bergegas shalat isya dan mengerjakan tugasku.



***

Dua hari berlalu. Aku rindu dapur. Aku rindu memasak. Tetapi tugasku terlanjur banyak dan memang baru minggu depan aku baru berjualan.

Komunikasiku dengan Faisal lumayan lancar. Kami jarang berbasa-basi, karena menurutku itu kurang penting dan Alhamdulillah dia juga punya pemikiran yang sama. Sebenarnya aku takut sekali kalau keintensitas itu membuat hatiku jatuh. Dia pun hanya akan menelpon sesekali (selama dua hari ini baru sekali, itu pun gak sampai 10 menit). Kalau pun mengirim pesan singkat, ada hal menarik yang bisa kami bahas. Dia punya wawasan luas, jika pun ada perdebatan, dia punya pemikiran yang dewasa dalam menanggapi. Dia cerdas, bahasa inggrisnya bagus. Aku terkadang merasa minder. Sejujurnya, aku nyaman (titik yang sedikit berbahaya).

Tadi pagi ketika aku masih dikelas ada satu sms masuk.         

Nadia, I know you’re in class now, I’m also at work actually J. Would you like to have lunch together today?

Maka disaat istirahat jam pertama aku mulai pertimbangkan. Hari ini tidak ada jadwal buat tugas dan kebetulan kelas hanya sampai siang.

Dimana?

Ayam penyet suroboyo sp. BPKP. After dhuhur at 1.15. Dijemput?

That’s oke. I’ll see you there.

***


“Nad, makan pangsit pertanian yuk!”, ajak Rika. She’s my friend di program yang sama. Kami biasa menghabiskan waktu bersama karena kebetulan punya hobi yang sama, yaitu makan dan memasak.

“So sorry Ka, hari ini ada janji ma orang! Besok yaa! Ngajak kak Vera aja gih!”, kulihat wajah itu lumayan kecewa. Aku pengen jujur, tapi kurasa ini masih terlalu dini. Maaf ya Rika.

It’s nearly 1 pm. Aku pun bergegas menuju motor matikku dan melaju ke masjid putih berdinding kaca di Lampineung. Langit terlihat mulai gelap. Ketika aku sampai disana, shalat berjamaah telah selesai. Ketika aku memarkirkan motor matik, ada satu benda unik dan colorful menarik mataku. Sebuah sepeda dengan ban tipisnya dan sepeda itu berwarna menarik. Betapa aku sangat tertarik. Punya siapa yaa? Dengan helm khususnya. Imut.

Ketika aku memasuki masjid selesai berwhudu, tak ada satu orang pun disana, hanya beberapa lelaki di bagian lelaki. Hujan turun lebat. Aku selesai dan mulai melipat mukenaku. Aku mulai cemas, sepertinya hujannya tidak memberi tanda akan berhenti segera. Bang Faisal udah nyampe belum ya? Pasti dia udah nunggu. Aku pun berdiri pasrah di teras masjid memandang hujan berharap Tuhan sedikit memberi harapan. Ketika aku sedang melamun, sesosok itu membuyarkan lamunanku. Sesosok lelaki baru keluar dari toilet dan berlari menuju teras masjid. Wajahnya tidak asing. Aku kenal. Tapi, ngapain dia disini?

Aku seperti orang bego. Beberapa detik memperhatikan lelaki itu berlari dan ketika dia tepat berdiri beberapa langkah disampingku, aku tersadar. Dia pun kini seperti sedikit terkejut akan keberadaanku. Detik kemudian kami berdua tersenyum. Kulihat dia akan bertanya sessuatu ketika handphoneku berbunyi…

“Assalamualaikum…”

“Waalaikumussalam, Nadia dimana? I’m here”

“Kejebak hujan, hehe… ini hujannya udah mau reda, I’ll be there soon!”,ucapku merasa kurang enak. Dia hanya terkekeh. Tiba-tiba, sudut mataku menangkap sesuatu. Lelaki itu melirik jamnya dan melirikku sekilas. Detik selanjutnya dia berlalu.

“Jangan buru-buru. Atau saya jemput? Sekarang dimana?”

“Nope! Nadia dengan motor matik ini, kasihan kalau ditinggal, hehe”

“Oke-oke… hati-hati ya. Assalamualaikum”.

“Waalaikumussalam…”,

Refleks kucari lelaki itu yang kini sudah tak ada diteras yang sama. Benar saja, dia kini sudah berada di atas sepeda unik itu dan dengan helm dikepalanya, lelaki itu kini telah beranjak pergi. Sepertinya dia buru-buru. Lelaki Chinese tak sipit mata. Siapa namamu? Ngapain kamu disini? Gak mungkin kamu shalat dhuhur kan? Atau kamu hanya numpang ke toilet? Haduuh…aku harus buru-buru juga ini.

Namun, ketika aku sudah akan melaju, hujan pun turun dengan sangat lebatnya lagi dan terpaksa aku berlindung lagi. Dan kali ini hujannya tidak berhenti sampai setengah jam ke depan… Akhirnya pertemuan itu tak terjadi (Allah mungkin belum mengizinkan, hehe), karena Bang Faisal harus kembali ke kantor.


***

Hampir satu jam aku termenung di teras masjid, menunggu hujan reda. Perutku sudah tak mau kompromi. Lapaaar, hiks. Cuaca dingin makin membuat cacing-cacing makin semangat bersuara. Syukur akhirnya Tuhan mengerti bahwa hambaNya ini butuh asupan makanan segera setelah menguras otak di kampus setengah hari, hujan berhenti. Aku melajukan motor matikku, tepatnya ketika melewati Hotel Hermes Palace kulihat sekilas kearah lampu lalu lintas sekitar 10 detik lagi lampu hijau akan segera berganti. Tidaaak. Perkiraanku, jika aku terjebak dilampu merah, aku akan menghabiskan semenit berikutnya. Dan dalam keadaan kelaparan seperti ini rasanya sedetik pun sangat berharga. Ku lajukan motorku seolah aku pembalap professional (kadang-kadang aku memang suka tak pikir panjang, ini jangan diikuti yaa, hehe). Namun aku gagal. Keprofesionalanku yang tak seberapa itu membuatku harus dengan ikhlas berhenti di lampu lalu lintas simpang BPKP itu.

Mungkin awalnya itu kusesali karena itu menjatuhkan keprofesionalanku sebagai pembalap kelas bilis (padahal, faktanya aku menyesal karena cacing-cacingku sudah tak mau bekerjasama, hiks). Aku mendesah lemah dengan pandangan tak jelas kemana (lebai banget kan kelaparanku hingga membuatku seperti orang yang hilang arah). Sebuah Toyota Harrier putih gading memaksa mataku yang awalnya tak bersemangat lagi menoleh tepat kesamping (aku memang penggemar mobil juga, walaupun hanya bisa mengagumi, hehe). Gagah dan sekaligus cantik. Yaah..setidaknya ini mengobati kepasrahanku walaupun perutku masih keroncongan. Mataku masih menyusuri body gagah itu (ingat yaa, bukan body gagah yang ehem..ehem..).

Tiba-tiba dari arah jembatan layang sederetan mobil melaju dengan kencang lurus menuju kantor gubernur, kurasa orang penting (pejabat maksud gue), karena diikuti oleh iringan mobil dan motor ge de patroli polisi. Suara klakson yang bersahut-sahutan memaksa semua mata tertuju kearah itu (Ini..ni yang salah strategi… kalau mau aman, ngapain menarik perhatian banget gitu siyh?). Aku saja yang sudah tak semangat melihat apa-apa, menoleh (suara klakson itu sangat keterlaluan). Dari sudut mataku, kulihat sekilas jendela kaca Harrier itu mulai turun membuka. Ternyata si pengendara juga tertarik melihat iring-iringan itu denga suara klakson yang sangat berlebihan dan tidak salah jika menarik perhatian.

Kupalingkan mukaku melihat detik-detik itu. 15 detik terakhir. Horee… Aku seperti tersenyum sumringah. Namun lagi-lagi sudut mataku kini berulah lagi. Dengan reflex yang 80% disengaja ku palingkan wajahku kesamping tepat menatap kearah Harrier. Jadi penasaran sama yang empunya si Harrier gagah nan cantik itu. Aku terpana bukan karena… Wajah itu. Aku seperti mengenali. Wajah putih dengan rangkaian hidung, bibir, dagu yang tepat. Wajah itu kini sedikit berubah karena kacamata menghiasi matanya. Apa aku tak salah lihat? Dia berbeda. Bukan hanya karena kacamata, tapi penampilan dengan kemeja dan tentu kendaraan yang sekarang dia duduki. Lelaki yangbaru saja kutemui beberapa waktu lalu dengan gaya casualnya dan sepeda sportnya kini menjelma menjadi seorang eksekutif. Tidak, aku pasti salah kira.

Mataku benar-benar keterlaluan, terpana kurang beralasan (menurutku siapapun dia, bukan urusanku). Namun, aku tak mengerti ketika di detik selanjutnya lelaki yang sedang menikmati iring-iringan mobil itu menyadari kepenasaranku. Dan kini matanya seperti mengarah kepadaku. Dia membuka kacamatanya. Nah, kan? Dan kami saling menatap sepersekian detik.

“Hai”, ucapnya tiba-tiba dengan senyumannya yang mempesona itu, kali ini ditambah dengan lambaian tangan. Aku sedikit terkejut namun hanya bisa membalas dengan senyum karena detik selanjutnya lampu hijau telah menyala (bisa berabe kalau orang-orang menyadari keterpanaanku yang sedikit keterlaluan akan wajah itu, suara klakson bisa menghancurkan harga diriku…mending cabut).

Aku berbelok kekanan, sedang Harrier putih gading melaju lurus ke depan menuju jembatan layang. Ya Allah, itu kan lelaki Chinese di toko bahan kue. He’s truly different. Toyota Harrier?? Penjual bahan kue?? Kemeja ala eksekutif, bukan gaya casual? Haduu, aku pusing. However, he’s charming and he said “Hai”. What a Wow!! Aku tersenyum sendiri, bahkan aku lupa bahwa aku sedang keroncongan.


Sabtu, 12 November 2011

Plot and Me 2 - Just an accident meet!


Benar saja, aku gak mengerti apa ucapanku berkah atau tidak. Tapi beberapa hari perbincangan dengan sepupuku, kak Rahmi, seorang sepupu yang lain menelpon. Kak Dira yang memang jarang sekali menghubungiku, tiba-tiba hari itu menelpon.

“Assalamualaikum…”

“Waalaikumussalam, Kak Dira apa kabar? Kangen laah…”

“Alhamdulillah sehat cantik. Adik apa kabar? Mamak sehat?”

“Alhamdulillah keluarga sehat, mamak dan ayah juga sehat. Udah lama kali laah gak jumpa…”

“Hehe…baru seminggu gak jumpa, udah kangen gini, makanya main-mainlah ke rumah…”

“Yaah..sama aja, kerumah pun, kakak sibuk banget. Pulang kerja malah nyambung ke butik. Weekend malah pergi ke luar kota… Dasar wanita karir. Syukur suami gak komentar..hehe”

“Haha… nyari rejeki buat anak, Nad. Kan sesekali bisa main-main ke butik, ada barang baru tuch!”

“Iya-iya, insyaAllah. Anyway, tumben ini nelpon? Mau ngajak Dia kemana?”

“Haaalaaah…seumpama ada perlu doank nich kakak nelpon kamu…”

“Emang kenyataannya gitu kan? Terakhir malah minta dibuatkan kue…”

“Hehe, iya juga yaa! Gimana kuliah? Lancar?”

“Alhamdulillah…”

“Kapan berangkat?”

“InsyaAllah masih beberapa bulan kak, ini kan mesti memenuhi syarat mata kuliah di Unsyiah dulu…”

“Memangnya berapa bulan lagi?”

“Sekitar 6 bulanan lagi lah…”

“Hmmm… bagus kalau gitu…”

“Lah, kok bagus?”

“Ehem, begini ni Dik! Kakak mau nanya serius… kamu sudah ada pacar belum?”

“Nadia jomblo kak! Makanya jangan nanya aja, kenalin satu donk! Tapi yang serius, gak mau main-main…hehehe!”

“Waaah, Alhamdulillah! Pas banget yaa! Kebetulan ada ini, temen kakak, lagi nyari calon istri, katanya dia mau serius… kakak teringat kamu, karena kalau dilihat dan disimak, kriterianya cocok banget…”. Appaaa??? Telingaku seperti ditampar. Aku kan hanya bercanda, tapi…

“Dia orangnya ganteng Nad, tinggi, agamanya juga bagus. Tapi agak pendiam. Kalau sudah ngomong wise banget… cocok dech sama kamu, gimana?”, aku masih terpana. Aku masih terus mencerna kata-kata itu. Butuh waktu yang lama.

“Nadia… kamu masih disana gak? Nad…”

“Eh..i..iya kak, masih kok!”

“Jangan terkesima seperti itu, hehe. Jadi gimana? Mau gak dikenalin?”. Adduuu…mau jawab gimana yaa? Jawab iya, seolah aku mau banget, kepingin banget. Mau jawab enggak, tapi ini sudah waktunya. Kenapa orang gak mengerti yaa? Yaa, jangan ada pertanyaan, “mau gak?” seolah gimana gitu jawabnya. Yaa…

“Hmmm…menurut kakak?”

“Lha, malah nanya? Hehe… usia kamu berapa?”

“24”

“Usia segitu seharusnya tak menutup diri lagi. Yaah, dicoba berteman dulu gitu…mudah-mudahan akhirnya baik. Kakak siyh mengharapkan kamu mencoba dulu…”. Aku pun berpikir sejenak. Toh, benar kata Kak Dira, gak ada salahnya mencoba.

“InsyaAllah kak!”

“Oke! Nti kakak hubungi lagi yaa! Kita atur pertemuan kalian…”

Setelah berpamitan, aku jadi kepikiran sendiri. Kita atur pertemuan???? Waalaaah…aku harus gimana ini?? Bertemu biasa saja, sama lelaki biasa saja, mukaku saja bisa merona (ingat yaa, terkadang aku hanya malu atau batuk…hehe). Apalagi dalam konteks diperkenalkan untuk itu… karna sejujurnya aku punya pengalaman yang serupa yang sedikit pahit sebelum ini. Aku pernah dikenalkan dengan seseorang juga dan memang berniatnya menikah. Dulu usiaku masih 21 tahun dengan beban kuliah semester akhir, mamak sedikit mewanti-wanti dan meminta waktu. Akhirnya aku ditinggal kawin, hehe. 
Nah, dulu aku dipertemukan dirumah match-maker. Kami hanya terdiam lama, mengajukan pertanyaan dengan jawaban “Yes or No”, melirik sesekali. Itu karena kami telah tahu konteks pertemuan itu. Yaaah…walaupun akhirnya pahit bagiku, tapi aku ikhlas.

Allah, apa ini jawabanMu? Aku merasa seolah ludahku asin (istilah orang tua kalau kata-kata seseorang mudah sekali terkabul). Perasaanku campur aduk, antara takjub dan bimbang juga gusar. Ada sedikit rasa trauma akan gagal lagi.  Sejujurnya, aku merasa belum siap berumah tangga, tapi disisi lain Allah yang lebih tahu kapan seseorang siap. Aku tersenyum sendiri, merasa ini sangat ironis. Kak Rahmi yang terus menanyakan aku tentang hal itu, tapi malah Kak Dira yang bahkan jarang sekali bertemu yang menawarkan bantuannya. Ini satu pelajaran untukku dan untuk kita semua, talk less do more (iklan rokok itu memang benar).

***

Kiki, sepupuku yang satu-satunya sebaya denganku besok merayakan ulang tahunnya. Kebetulan karena dia adalah anak tunggal dari orang tua yang cukup berpengaruh, syukuran sampai usianya sedikit mewah (bagiku yaa?? Hehe). Ayahnya adalah pimpinan salah satu Bank swasta, namun dia malah bekerja di Bank Daerah. Ibunya itu adik mamak dan punya usaha catering dan lumayan sukses.

Walaupun ibunya pengusaha catering, tetapi tetap dia memesan kue dan minum padaku. Kroket daging, martabak isi buah, dan es pelangi. Ujung-ujungnya aku harus sibuk sehari sebelum acara. Alhamdulillah tugasku tidak begitu banyak, Cuma satu presentasi kelompok dan essai. Aku pun bergegas pergi berbelanja, hari ini juga aku tak mungkin meminta Kiki menemani, dia juga pasti sedang sibuk.

Ketika akan kuparkirkan scoopyku dari balik helm kulihat lelaki Chinese tak bermata sipit itu. Kebetulan dia sedang melayani pelanggannya, dengan celana tanggungnya dan kaos merah bata. Perpaduan yang lumayan menurutku dengan warna kulitnya yang bagus (apalagi kalau dia perempuan, aku terkadang suka mengakhayal, haha). Dia menoleh ketika aku mematikan mesin scoopyku dan sedikit tersenyum (dan aku benar-benar tak tahu apa itu? berkah atau…? Entah lah, yang jelas mukaku agak sedikit merona karena diberi kesempatan menikmati wajah itu dengan perpaduan klop antara bibir, gigi, mata, lesung pipi yang membentuk senyum yang… wow! Subhanallah!! Aku bersyukur karena aku masih menggunakan helm, jadi kemeronaan pipiku masih sedikit tersembunyi. Ketika aku membuka helmku, malah kini gantian para pelanggan yang sedang dilayaninya memandang kearahku. Sedikit fokus. Aku jadi salah tingkah. Memangnya ada apa?

Saat aku datang, dia masih sedikit sibuk dengan ibu-ibu (jadi sedikit aneh, dari tadi perasaan tu ibu-ibu gak siap-siap, ini gak jadi, itu gak jadi. Aku yang bukan penjual aja bisa sedikit kesal, namun si lelaki yang tak kutahu namanya itu masih kelihatan sabar. Jangan-jangan tu ibu-ibu naksir lelaki itu lagi, haduuuu…dunia-dunia). Bersama denganku, datang seorang gadis remaja yang juga akan berbelanja. Bukannya dia merespon ketika Aci menanyakan apa yang bisa dibantu, dia malah menunggu kesempatan bertanya pada lelaki muda itu, aku tertawa sendiri. Kuberikan kertas belanjaanku pada Aci dan dia mulai sibuk membereskan daftar belanjaanku. Aku senang melihatnya begitu sigap, namun sesekali dia bertanya untuk memastikan…

“Ini jagung kalengnya yang Del Monte Quality?”

“Iya Ci, tadi lupa ditulis, hehe..”, jawabku.

Dia selesai.

“Semuanya Rp. 197.000,-“. Kini aku mengeluarkan dua lembar seratus ribuan. Aci bergegas mengambil uang kembalian dan menyerahkannya kepadaku. Aku pun bergegas, namun belanjaanku sedikit berat dan tak ada Kiki yang bisa kuminta bantuan. Aku pun dengan sedikit kesusahan mengangkat belanjaanku sendiri. Sekilas kulihat, si ibu-ibu itu masih belum selesai, eh..malah sudah ada pelanggan lain yang lagi-lagi ogah dilayani Aci. 
Ternyata pesona anda luar biasa tuan Chinese tak sipit mata, hehe. Ku perhatikan Aci tertawa sambil terus bertanya apa yang bisa dibantu. Aku pun melewati ibu-ibu tadi dengan sedikit kesusahan…

“Sini saya bantu?”, tiba-tiba sebuah tangan meraih plastiks belanjaanku dan berjalan cepat kearah parkiran. Aku terpana. Lelaki itu. Aku sedikit menoleh, si ibu-ibu dan satu orang pelanggan lainnya hanya bisa gigit bibir. Aku pun dengan senyuman sedikit tak enak ngeloyor pergi. Maaf ya, tak bermaksud menganggu proses pendekatan anda-anda, tetapi si lelaki Chinese tak sipit mata itu yang berniat membantuku.

“Disini?”, tanyanya menunjuk kearah scoopyku. Aku mengangguk.

“Makasi banyak!”, ucapku ketika dia selesai. Kini aku sudah berani menatap kearah mata itu. Toh, aku gak ada maksud apa-apa.

“Lain kali kalau kesulitan, jangan sungkan minta tolong…”, ucapnya sambil tersenyum dan melangkah pergi. That’s enough! The smile! Alhamdulillah…


***

Naisya, mamak dan ayah sudah duluan ke rumah Kik dengan membawa pesanan Kiki yang baru menjelang tengah malam selesai kukerjakan, sedang aku harus menyelesaikan kelas terlebih dahulu. Selepas ashar aku bergegas ke Mesjid terdekat untuk shalat dan akhirnya melajukan scoopy putihku ke daerah yang tuju.

It’s 5.30 p.m already. Ku parkirkan scoopy mateku dan kulihat beberapa mobil mewah sudah terpakir disana, termasuk beberapa yang kukenal. CR-V putih gading itu punya Kak Dira, Jazz merah punya Kiki dan adiknya, Inova punya Kak Rahmi dan beberapa lainnya yang juga aku tahu milik siapa. Tapi yang paling kukenali dan yang paling menonjol karena paling kelihatan lusuh diantara deretan mobil lainnya adalah sebuah Kijang Kapsul punya ayahku. Aku tersenyum sendiri, namun sedikit bangga akan mobil itu. Mobil yang sejak aku kecil setia mengantarku ke sekolah dan kemanapun.

Aku pun bergegas masuk dan ketika pintu kaca itu terbuka, Kiki langsung nyosor…

“Nadiaaaaa… akhirnya kamu datang!!!”, ucapnya sedikit lebai sambil memelukku erat.

“Udah! Lepasin! Lebai banget dah…”, ucapku sambil dengan sedikit kesusahan melepas rengkuhan tangan itu.

“Hmm..hmm..ini bau apa yaa?? Semacam bau keringat”, Kiki pura-pura mencium sesuatu yang tak enak. Aku pun langsung sadar diri, hehe.

“Hei, aku dari tadi pagi belum pulang. Ini juga aku bela-belain datang demi kamu… padahal capek banget…”

“Pantes bau terasi, hehe…”, aku melotot.

“Hehe, becanda ding! Kamu wangi kok! Dan tetap cantik walaupun dengan wajah yang sudah bisa menggoreng ikan, hoho…”

“Mau kado gak?”, ancamku kemudian sambil mengacungkan sebuah bungkusan kecil.

“Mauuuu… wah, makasi sepupuku yang cantik!”, ucapnya sambil meraih bungkusan itu.

Akhirnya aku pun berbaur. Ada banyak orang yang tak kukenal, yaa…mungkin kawan sekantor Kiki atau kawan sekolahnya dulu. Aku pun sedikit terpana ketika seorang melambai-lambai. Kak Dira. Aku menuju ke mejanya, karena memang kulihat beberapa orang kerabat disana sedang mengobrol. Namun ada beberapa teman Kak Dira yang juga temannya Kiki. Para bankers!!! Hehe… ceweknya tinggi-tinggi, kulitnya semacam ada perawatan. Yang cowok, yaah…standar pekerja bank, mungkin bagi beberapa orang mereka goodlooking tapi yaa…bagiku relative. Aku sadari, memang ada segelintir dari mereka yang sedikit menarik sudut mataku, hehe… contohnya perempuan berkacamata dengan bingkai merah muda itu. Dia cantik dan feminine, yang kutangkap namanya Cut Eka Puspitasari. Dan lelaki berhidung mancung itu, dia lumayan bisa menarik dipandanganku…namanya kalau tak salah Faisal. Sepanjang obrolan dengan Kak Dira dan beberapa temannya perasaanku sedikit aneh dan kurang enak. Apa mungkin karena aku belum mandi ya? Hehe…

Menjelang magrib para tamu sudah pulang, termasuk beberapa kerabat. Aku juga akan bergegas pulang ketika lenganku ditarik seseorang…

“Mau kemana kamu, heh?”. Aku sedikit terkejut. Aku pun menoleh.

“Kikiiii… lepasin! Aku udah gerah banget niyh… Udah pamit pulang sama bunda tadi…”

“Yang ulang tahun siapa? Bukan bunda kan? Malah kamu gak izin pulang sama aku…”

“Ki…”

“Nyuci piring dulu baru pulang, hehe”

“Heh! Biasanya kamu juga melarikan diri kalau berurusan dengan piring kotor… Ki, kalau aku gak gerah, gak perlu kamu suruh pun aku pasti main-main kedapur, tapi serius ini gerah banget…”

“Hehe…becanda ding! Serius amat siyh!”

“Lagian siapa juga yang serius, aku bilang kan main-main kedapur… liat-liat aja, haha”, balasku.

“Wee…dasaaar! Yaudah, hati-hati yaa…”

“Siip, assalamualaikum…”, Kiki menjawab salamku dan melepasku pergi.


***

Tiba-tiba aku teringat Kak Dira dan “rencana”nya. Tapi ketika ketemu dirumah Kiki tadi, seperti tidak ada kejadian atau pembicaraan sebelumnya. Kak Dira malah tidak menyinggung apa-apa. Dia kelihatan biasa aja. Apa tidak jadi yaa?? Haduu, ngapain juga aku susah? Yaa, kalau tak jadi berarti belum saatnya. Tapi yang jelas Kak Dira pasti ngomong, dia kan professional.

Sejujurnya aku penasaran, kenapa Kak Dira seperti biasa-biasa saja. Apa harus aku yang tanya?

Kuraih handphoneku dan mulai kuketikkan sesuatu tapi ketika satu langkah lagi yang menekan tombol “send”, aku urung. Apa-apaan ini? Akhirnya ku hapus pesan singkat itu. Aku pun berlalu ke dapur mengambil air.

Ketika aku kembali, kulihat ada dua panggilan tak terjawab dan satu sms. Kak Dira.

From: Kak Dira
Cantik, kemana aja? Kok kakak telpon gak diangkat? Udah tidur yaa? Ada yang mau kakak omongin ni. Serius.

Wah, kebetulan banget. Ketika aku sedang mengetik balasan, Kak Dira menelpon lagi.

“Assalamualaikum Kak!”

“Waalaikumussalam, udah tidur ya?”

“Belum, hehe. Tadi lagi ngambil air kedapur. Ada apa kak?”, tanyaku sedikit pura-pura tak tahu. Dan memang aku belum tahu apa yang akan diomongkan.

“Hmm…gimana tadi?”

“Apanya?”

“Kan udah ketemu, gimana pendapat kamu tentang dia?”

“Pendapat apa? Dia siapa siyh?”, kini aku benar-benar tak tahu.

“Oia, lupa. Sengaja kakak gak bilang sama kalian berdua, biar semuanya kelihatan natural, hehe. Sebetulnya begini, kakak beberapa hari ini mau ngatur pertemuan kalian, tapi gak dapat ide yang bagus. Kebetulan ada acara Kiki, dan beliau juga diundang jadi pas banget”. Hah?? Berarti tadi ada…

“Jadi kalian berdua sama-sama enggak tahu. Kakak liat sepertinya cocok, ngomongnya juga tadi keliatan nyambung, hehe…”,

“Ya Allah Kak! Siapa siyh?”, Kak Dira sengaja tidak menyebut namanya sama sekali. aku mulai menebak-nebak.

“Dan yang paling mengejutkan dan sekaligus menggembirakan, tanpa kakak tanya pun, beliau yang tanya-tanya duluan tentang kamu. Padahal memang sama kamu, kakak rencana kenalkan. Dia agak terkejut. Ketika ditanya apa mau lanjut, katanya insyaAllah dia mau Nad. Nah, sekarang giliran kamu…”

“Yaa…kak, kalau Nadia gak tahu siapa, mana bisa Dia putuskan?”

“Namanya Faisal. Yang tadi duduk didepan kamu. Tepat didepan kamu”. Aku sedikit terpana? Faisal yang itu, yang hidungnya bagus itu. Apa gak salah?

“Kakak serius?”

“Lha? Serius lah cantik. Emangnya ada apa siyh? Kamu gak suka?”

“Hmm…bukan gitu, tapi apa dia ggak salah liat? Toh, teman-temannya banyak yang lebih cantik, Cut Eka misalnya… Lha, kok dia bisa ngeliat aku?”

“Hei, cantikan kamu lagi. Jangan mengunderestimate diri sendiri gitu ah! Jadi gimana?”

“Harus diputuskan sekarang yaa?”

“Yaa, ini kan masih awal. Setidaknya kamu punya gambaran awal tentang Faisal, cara dia bicara, sikapnya, penampilannya. Itu bisa jadi kunci awal, selanjutnya jika memang mau dilanjutkan kan bisa tahu lebih jauh…”

Aku berpikir sejenak. Iya siyh, benar kata Kak Dira. Ya Allah, dengan menyebut namaMu…

“InsyaAllah kak…”

“Alhamdulillah. Oke, cantik, kakak kabari berita gembira ini ke Faisal yaa? Hmm…satu lagi, kakak kasi nomor hapemu ke Faisal yaa?”

“Iya kak!”

Pembicaraan pun selesai. Kini aku benar-benar terduduk dan terdiam. Lelaki itu menanyakanku dan mau mengenalku lebih… mungkin semua berpikir, aku terlalu merendah, tapi aku hanya tak mau kecewa dan berharap. Terlalu banyak kisah dalam hidupku. Dulu ketika masih remaja, aku naksir seorang cowok. Dia biasa banget, dan bukan tipe cowok yang diidolakan. Aku positif banget dia bakal punya perasaan yang sama, tapi malah dia suka teman sebangkuku. Dulu aku berpikir apa aku kurang cantik? Atau.. dan akhirnya aku mulai membatasi diri dan kepedeanku…

Ah…

Allah, memang tak pernah ada yang tahu soal hati. Mudah-mudahan ini yang terbaik. Aku berniat tak akan mengatakan siapapun tentang proses ini kecuali keluarga sendiri, mamak, ayah dan Naisya. Takut sekali kejadian dulu terulang, ketika semua telah berpikir aku akan menikah segera dan akhirnya aku malah ditinggal nikah. Kalaupun ini tak berhasil juga, berarti memang belum jodoh tapi kalau memang ini berbuah manis, ketika memang sudah jelas baru semuanya boleh tahu.

Ketika aku sedang sibuk dengan pikiranku, sebuah sms masuk. Dari nomor tak dikenal.

Assalamualaikum…

***

Plot and Me 1 - Lelaki Bermata Sipit










Pagi menjelang lagi. Minggu pun datang lagi. Ah, weekend begini seharusnya aku menghabiskan waktu didapur, mengurusi pesanan atau sekedar mencoba kreasi baru. Aku memang hobi memasak, mencoba kreasi bahan-bahan makanan. Dan beberapa bulan ini memang kreasiku mulai diperjualbelikan karena nasehat dari orang-orang sekitar yang telah merasakan. Kata mereka siyh, kue, atau minuman kreasiku patut diperjuabelikan. Namun, karena aku juga sedang sibuk dengan kuliah Masterku, ibu dan aku memutuskan hanya akan berjualan di awal dan diakhir bulan saja. Ini juga strategi membuat pelanggan tidak bosan, kalau pun mereka ingin, mereka hanya boleh memesan dengan jumlah yang terbatas. Secara logika siyh, aku terlihat seperti tidak niat berjualan (sombong juga ia, hehe), tapi ini demi pendidikanku. Aku mendapat beasiswa dari pemerintah Amerika atas kerjasama dengan pasca sarjana Unsyiah. Dengan beberapa orang rekan lainnya, kami menjalani kuliah di pasca sarjana Unsyiah selama delapan bulan dan selanjutnya melanjutkan disalah satu universitas di Amerika. Jadi, karena menurutku ini suatu kepercayaan yang diberikan kepadaku, aku harus bertanggung jawab penuh. Berjualan hanya bagian dari menyalurkan hobiku dan sekaligus menghilangkan kejenuhan tugas kampus.

Oia, namaku Nadia Humaira. Nadia itu artinya orang yang suka memanggil dan Humaira artinya kemerah-merahan. Ketika lahir, seluruh tubuhku memerah. Itu normal, tapi ketika pipiku merona seperti dipakaikan blush on itu menjadi sedikit luar biasa. That’s why my father gives that name to me. Pipiku memang suka merona memerah ketika aku sedang marah, malu, grogi, salah tingkah, batuk, tertawa. Banyak yang salah mengartikan warna pipiku, apalagi para lelaki, terkadang aku hanya merasa malu, namun dianggap naksir. Aku sedang marah, malah dianggap naksir juga. Aku sedang batuk, haduuh…juga dianggap naksir. Aku terkadang merasa kurang enak, namun kini aku sudah tak peduli. Toh, yang tahu perasaanku hanya aku dan Tuhanku.

Aku anak pertama dari dua bersaudara. Adikku Naisya Faradilla. Kami hampir serupa tapi tak sama. Badannya sedikit lebih tinggi dariku. Kami hanya berbeda tiga tahun, kini juga dia akan menyelesaikan kuliah S1nya. Usiaku kini 24 tahun dan dia 21 tahun. Diusia seperti ini, seorang perempuan seharusnya was-was menunggu kedatangan seseorang untuk meminang. Tapi tidak bagiku, aku masih sangat santai dan masih sangat tenang. Kenapa? Karena aku masih punya beberapa orang sepupu yang masih lajang, teman-teman bahkan seniorku juga masih banyak yang lajang. Sayangnya, ketenangan itu bukan milik ibuku. Aku tahu beliau mencemaskanku, terutama ketika beberapa kali adikku mengatakan bahwa pacarnya ingin mengenalkan keluarganya. Ibu menolak dalam waktu dekat, karena sebenarnya beliau ingin aku melangkah terlebih dahulu. Aku hanya bisa miris, tak bisa berkata apa-apa. Di satu sisi, aku ingin keinginannya bisa terpenuhi, tapi aku harus bagaimana. Toh, calon suami tak mungkin dengan mudahnya didapat, apalagi dalam keadaanku jomblo begini (aku memang bukan tipe pacaran, hehe). Seandainya calon suami itu bisa didapat semudah mencari kacang goreng (gak berharga banget kan? Haha). Namun  disisi lain, aku tak berniat menunda-nunda keinginan adikku, walaupun dari bibirnya dia mengucapkan dia juga tak ingin melangkahiku. Aku memang tak punya pacar, itu karena aku tak mau. Usiaku kini bukan usia yang dengan mudahnya dibuang-buang untuk sekedar pacaran, aku merasa kalau memang ada yang cocok dan serius, kita kenalan dua bulan atau tiga bulan lalu menikah. Selama ini yang datang hanya sekedar bilang “I love You”, “Would you be my girl?” dan sebagainya. Dan aku tak suka kata-kata itu dalam konteks hubungan pacaran.

Permasalahan jodoh memang bikin pusing tujuh keliling. Sudah hampir dua tahun pertanyaan “kapan” menyerangku. Apalagi ketika bersilaturrahmi ke rumah kerabat. Awalnya aku hanya santai saja, namun beberapa waktu terakhir pertanyaan itu terdengar semakin tidak nyaman. Salah satunya ketika kami sekeluarga berkunjung kerumah salah satu sepupuku di Geuceu.

“Kak Dia duduk sini…”, panggil sepupuku ketika aku sudah selesai mengambil sepiring nasi tomat. Aku berniat duduk di depan TV bersama keponakanku karena kulihat sekilas wajah Hyun Bin disana (yaah, walaupun aku kurang suka yang bermata sipit tapi aku juga terkadang mengikuti drama korea, hehe…). Aku pun menurutinya. Disana kulihat ada adik dan ibuku, muka mereka sedikit serius. Ada apa ya?

“Ini pas banget, kakak mau nanya sesuatu…”, aku pun menyuapkan sendok pertama kedalam mulutku. Hmm… rendangnya kurang pedas. Tapi tauconya pas. Overall, lumayan.

“Jadi kapan ni Kak Dia mau memperkenalkan calon kamu?”, aku tersedak. Kesibukanku menilai makanan dalam piringku buyar. Aku buru-buru mengambil minum.

“Ada apa ini kak? Kok tiba-tiba pertanyaan itu?”, tanyaku dengan muka polos dan sesekali melihat kearah mamak dan Naisya. Mereka hanya diam.

“Lha, ko tiba-tiba? Kan ini pertanyaan normal. Usia kamu kan bukan usia remaja lagi Kak! Nadia selama ini seperti tertutup sekali masalah pasangan”.

“Apanya yang tertutup kak? Dia memang belum ada pasangan…”

“Belum ada?”, Tanya sepupuku yang bernama Rahmi itu. Aku mengangguk.

“Yang dekat?”, Tanyanya memastikan.

“Hmm…kawan dekat ada. Tapi hanya sebatas kawan. Toh, kalau mereka belum siap menikah, Nadia ogah! Kak, Dia bukan usia remaja yang menghabiskan waktu untuk pacaran…”, jelasku panjang lebar. Kak Rahmi diam, dia sedikit berpikir keras. Dalam penerawanganku, pasti aku akan disodori seseorang ini, mungkin teman sekantornya atau kerabat suaminya. Yaah…boleh juga. Siapa tahu cocok, pikirku. Ternyata…

“Itu berarti Dia rela kalau Naisya duluan?”, Nah lho! Aku terpana. Tidak seperti dugaanku. Aku sedikit tertawa karena sedikit merasa ge er. Namun, disalah satu sudut hati sedikit tekejut juga.

“Naisya kan udah punya pacar dan berniat serius datang kerumah. Mamak selama ini menunda-nunda karena Nadia belum memperkenalkan calonmu. Kan tidak mungkin keadaan ini terus berlanjut…”

“Nadia tidak pernah bilang jangan kok Kak! Kalau Naisya ingin duluan, Dia ikhlas kok! Jangan hanya menunggu Nadia, sem…”

“Nah kan Bunda, Nadianya tidak apa-apa tuch katanya…”, potong sepupuku itu. Aku yang sedari tadi sibuk memainkan sendokku (selera makanku sedikit berkurang) mendongak. Melihat ekspresi mamak.

“Jadi kalau bisa jangan ditunda-tunda terus menerus… nanti malah Naisya ditinggal karena dianggap gak serius…”

“Rahmi, bukan begitu! Bunda tahu Nadia juga insyaAllah enggak akan lama lagi. Bunda bukan berniat menunda-nunda, tapi kan lebih baik kalau kakaknya duluan. Bunda hanya tak ingin kejadian yang melanda Bunda akan dihadapi anak-anak. Dulu Bunda harus melangkahi ibumu, Rahmi. Dan bukan hal mudah. Hal yang paling menyedihkan adalah ketika harus melangkahi kakak. Bunda menangis tersedu-sedu ketika memeluk ibumu, malah bukan ketika memeluk ayah dan ibu. Bunda hanya tak ingin itu terulang. Lagian, Naisya sebaiknya menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu. InsyaAllah kalau Allah berkenan, setelah sarjana, bunda tidak akan mengatakan tidak lagi… siapa tahu selama penantian itu, Nadia juga akan melangkah…”, Aku terharu. Mamak… aku tak tahu harus bicara apa. Yang jelas aku mengaminkan dalam hati saat itu. Aku tahu, kata-kata seorang ibu adalah doa. Dan ibu, Allah mudah perkenankan.

“Iya Rahmi, ibu ingat banget bundamu menangis terisak ketika berpelukan dengan ibu. Jadinya ibu jadi ikut-ikutan nangis tersedu. Sejujurnya, ada rasa haru ketika harus melepas adik padahal kita sendiri belum. Yaah…Allah berkehendaknya gitu. Toh, gak sampai enam bulan, ibu juga menikah. Malah, ibu duluan yang punya momongan… tapi ibu juga setuju sama bundamu, sebaiknya kita menunggu sedikit lagi. InsyaAllah, Nadia juga akan segera… lagian kamu ada gak calon buat dia, siapa tahu bisa cocok…”, aku merasa sedikit tenang. Kulihat kak Rahmi sedikit berpikir keras lalu menggeleng.

“Yaah, kalau emang tidak ada, kenapa mesti kamu yang repot…”

“Rahmi kan mau Nadia juga cepat-cepat bu…”

“Kamu yang kepingin, Nadia sendiri kamu ada tanya gak? Kamu yang maunya gitu, kalau Allah belum mau? Terus mau gimana?”, I love you Cecek Dewi. Akhirnya perasaanku benar-benar tenang luar biasa. Perkataannya benar-benar bijaksana dan tepat sasaran. Namun, Kak Rahmi seperti tak mau kalah, aku sedikit…hhhh…uh..namun akhirnya aku hanya beristighfar.

“Tapi tetap yaa Sya, Kak Nadia tadi udah ikhlas, jadi kamu bisa dari sekarang nanya Kak Dia mau apa sebagai ganti rugi… kompromikan terus, jangan malah Dia minta yang mahal nti, hehe…”, aku sedikit gregetan dalam hati, tapi aku hanya tersenyum pahit. Naisya juga sama. Namun, kami tak mau merusak suasana yang memang sudah terlanjur rusak khususnya bagiku.

“Hmm…Nadia gak minta mahal-mahal kok Kak! Minta tiket naik haji aja, jadi Nadia bisa sekalian berdoa disana biar didekatkan jodoh yang shaleh dan tanggungjawab…”, Kak Rahmi sedikit terpana namun akhirnya tersenyum.

Ketika akan pulang, didalam mobil aku sedikit berbisik pada Naisya…

“Emang kamu beneran mau segera menikah?”

“Enggak kok kak!”

“Evan gimana? Udah mau nikah cepat-cepat yaa?”

“Hmm…dia cuma nanya kapan bisa bisa datang orang tua, tapi ketika Sya bilang selesai Sya kuliah dulu, dia mengerti kok kak! Lagian kami gak mau tunangan terlalu lama… dia juga mengerti kalau Naisya sebenarnya gak mau melangkahi Kak Nadia..”

“Terus kenapa Kak Rahmi…”

“Itulah, Naisya dan mamak juga gak ngerti. Kak Rahmi bisa serepot itu mikirin kita, hehe…”

“Mungkin karena dia sayang”, ucapku menutup pembicaraan tentang itu.


***


“Kamu biasanya belanja dimana untuk bahan-bahan makanan?”, Tanya Kiki. Rizky Fitria, sepupuku. Dia kebetulan tinggal dekat denganku, karena kami seumuran jadi kami dekat. Dia tamatan ekonomi dan sekarang bekerja disalah satu bank swasta.

“Hmm..di swalayan dekat rumahku. Tapi kurang lengkap siyh, jadi kadang-kadang mesti ke toko bahan kue juga di daerah Peunayong! Kenapa ki?”

“Bundaku biasanya belanja di Peunayong juga Nad. Kamu biasanya belanja di toko bahan kue apa disana?”

“Waah…gak ingat! Tapi kaya’a gak ada namanya dech, haha. Tokonya agak kecil gitu…”

“Hmmm… belanja tempat langganan bundaku saja. Murah. Tapi Chinese yang jualan…”

“Oia?”, ucapku sedikit tertarik.

“Iya Nad. Kapan kamu mau belanja? Aku temenini dah! Hari ini?”, aku sedikit terpana.

“Enggak hari ini, minggu depan lah Ki. Aku kan gak jualan minggu ini…”

“Yaaah…”

“Emangnya ada apa siyh? Tumben banget kamu menawarkan diri…”, tanyaku curiga,

“Sebenarnya terakhir aku temenin bunda belanja, ada cowok ganteng Nad… biasanya aku paling malas nemenin bunda belanja kesana, tapi berkah banget hari itu. Sepertinya dia baru disitu…”

“Maksudnya?”

“Sepertinya anaknya si pemilik. Ganteng banget Nad…”

“Chinese?”, tanyaku sambil membelalakkan mata. Dalam pemikiranku Chinese selalu punya rupa yang sama. Kulit super putih, mata sipitnya masyaAllah. Aku juga kebayang bau dupa mengikutinya atau holy cross yang menghiasi lehernya. Hiiii…aku begidik. Jadi sama sekali tak menarik. Ditambah lagi, selera mata Kiki denganku sangat berbeda jauh. Kiki bisa dengan mudahnya menilai lelaki tampan. Aku tidak. Yaah..walaupun aku juga bukannya cantik-cantik banget, tapi aku paling susah menganggap seorang lelaki itu tampan. Seumur hidupku baru hitungan jari, lelaki yang kuanggap tampan. Salah satunya lelaki yang kulihat seminggu lalu dilampu lalu lintas. Lelaki bermata sayu itu berpenampilan biasa saja, namun ketampanannya membuatnya istimewa. Tak sedikit mata yang terpesona, namun karena seorang perempuan cantik terduduk manis diboncengannya dengan memeluk seorang gadis kecil yang juga sangat cantik memaksa mata-mata sedikit menjaga pandangannya. Haha…kali itu aku sangat bersyukur.

“Iya, hehe. Memangnya kenapa siyh Nad? Kamu kaya’a gak suka banget sama orang-orang bermata sipit itu… gak boleh, tau! Nti malah jodoh! Pengalaman SMA janganlah diungkit-ungkit”

“A’uzubillahiminzalik… ngomong apa siyh Ki? Siapa yang benci…”

Aku bukannya tidak suka, tapi aku sedikit punya pengalaman kurang enak dengan lelaki bermata sipit. Saat aku masih duduk dibangku SMA, salah satu kakak kelasku pernah naksir banget denganku. Namanya Michael dan dia Chinese. Dia pinter banget. Atlet basket. Aku tak ngerti, entah dari sudut mana teman-temanku mengatakannya keren. Yaah..mungkin karena dia suka basket, pinter dan mobilnya ganti-ganti antara Range Rover dan CR-V (ini alasan yang paling bsa kuterima). Lagian, aku juga bingung, kenapa aku yang bukan siapa-siapa? Prestasi biasa-biasa saja, rupa pun masih banyak gadis lain disekolahku yang lebih cantik. Heran!

Semua temanku memaksaku menerimanya, ketika secara terang-terangan dimuka public sekolahku, dia menyatakan perasaannya. Aku miris dalam hati dan yang paling membuat sedih ketika aku melihat sebuah kalung dilehernya dengan holy cross disana. Oh…tidak. Aku bergidik. Aku pun dengan kata-kata dengan kata-kata sopan menolak pernyataan cintanya.

Eh, malah teman-temanku bersorak tak setuju. Aku benar-benar miris. Si senior pun tak mau kalah, dia dengan gentlenya berlutut dan memintaku lagi menjadi pacarnya. Aku sedikit terpana, namun geli sendiri. Apa-apaan ini dalam pikiranku. Aku pun sekali lagi meminta maaf. Setelah itu aku bergegas pergi, namun dia menarik tanganku. Aku terkejut dan berusaha melepaskan genggamannya. Setelah itu, hubungan kami menjadi tak baik. Setiap bertemu dia selalu seperti mengejekku dengan cara mengumpat atau memamerkan kemesraan dengan pacarnya (dalam waktu instant dia bisa mendapatkan gadis lain, dan aku tak berani berpikir bagaimana jadinya kalau aku menerimanya). Aku tak peduli, toh aku tak bersalah.

“Hmm…tapi orangnya tak banyak bicara. Tapi memang Chinese kalau berdagang tak banyak bicara ya Nad, hehe…”ocehan Kiki membuyarkan lamunanku. Aku tertawa.

“Malah kalau dia begitu, keliatan banget pesonanya, semacam Hyun Bin gitu… so cool! 
Oh, enggak-enggak…lebh mirip Dong Wook kaya’a…”, sambung Kiki, kini dengan wajah sedikit berlebihan. Dasar Ababil!

Beberapa hari kemudian, aku memang berniat berbelanja, karena pesanan kue dan minuman kreasiku. Kiki tersenyum sumringah ketika aku akhirnya memintanya mengantarkanku ke toko langganan ibunya.
Sesampainya disana, aku memang sedikit bahagia karena harga yang ditawarkan sedikit lebih murah dan semua yang kubutuhkan ada. Dengan sedikit bersemangat aku pun memberikan catatan belanjaku dan uang. Aku baru sadar ketika aku kesulitan mengangkat belanjaanku. Kiki dimana siyh? Dan betapa terkejutnya aku melihat si gadis ababil itu bertengger di dalam jazz merahnya.

“Kiki, bantuin”, ucapku dengan suara sedikit besar.

Kiki pun melangkah sedikit malas-malasan. Aku jadi heran,kenapa dia biasa lulus di bank siyh. Gadis yang masih kekanak-kanakan ini. Tapi jangan salah, penampilan dan tingkahnya sangat berbeda ketika dia sudah menginjakkan kaki ke gerbang kantornya. Dasar !! Dan sesampai dirumah, akhirnya aku tahu penyebab kelunglaiannya. Lelaki bermata sipit yang disanjung-sanjungnya itu tidak nongol hari itu. Aku pun sedikit terkekeh merasa lupa akan hal itu.

“Lain kali temenin aku belanja lagi yaa??”

“Ogah! Aku pulang yaa!!”, ucap Kiki sewot. Aku jadi bingung, kok aku jadi sasaran?

“Lha! Si Hyun Bin gak nongol, aku yang tak berdosa ini jadi sasaran amukan…”

“Wee…aku pulang yaa! Assalamualaikum…”, ucapnya sambil menjulurkan lidah.

“Waalaikumussalam…”


***


Awal bulan baru menjelang. Kini sudah dua bulan lebih kuliah Masterku berjalan. Tugas semakin bertambah. Namun, minggu ini jadwalnya aku membuang segala kepenatan. Para langganan juga semakin sering mengirimiku pesan singkat menanyakan kapan aku akan berjualan. Yang paling mereka rindukan adalah es pelangi kreasiku. Jadilah, pagi itu aku pergi berbelanja. Kiki benar-benar absen menemaniku.

“Berapa semuanya Ci?”, tanyaku ketika Aci yang mempunyai nama Joan itu sedang memasukkan semua belanjaanku kedalam sebuah kantong plastic besar. Namun, kulihat dia sedikit melirik kearah pintu belakang ketika suara handphone berbunyi.

“221. 500,-“

Mendengar sejumlah uang itu disebutkan, aku pun membuka dompet dan mengambil dua lembar uang seratus ribu dan selembar uang lima puluh ribuan. Oh, tidak. Seingatku ada koin-koin seratusan dalam tas kecilku, jadi aku pun dengan ideku dan kebiasaanku yang sangat tidak hobi mengkoleksi uang receh mulai mencari selembar seribuan dan lima koin ratusan. Logikaku, kuberikan uang sejumlah uang dua ratus lima puluh satu ribu lima ratus rupiah dan si Aci akan mengembalikan genap empat puluh ribu rupiah untukku. Jadi, uang recehku berkurang dan masalah pembayaran pun akan selesai. Dan akhirnya, aku pun sibuk merogoh kantong kecil disamping tasku. Aku dapat empat koin dan yap, akhirnya kudapatkan koin kelima. Aku kumpulkan uang itu dan berbalik memberikan uang itu pada Aci yang sebelumnya mengeluarkan sedikit bahasa yang tak kumengerti dan aku yakin sedikit bosan menunggu usahaku mencari koin-koin yang dengan sangat beruntung akan berpindah tangan itu. Aku pun berbalik…

“Ini Ci…” Ucapku sambil menoleh namun agak kesusahan menggenggam uang. Seketika pandanganku seperti disapu angin sejuk. Seorang laki-laki sedang berdiri tepat diposisi seharusnya Aci berada dengan menenteng sebuah plastiks besar dan tersenyum. Kenormalanku sebagai perempuan datang. Dia tampan. Sangat. Matanya bagus dan yang penting tidak sipit, tapi tunggu…kulitnya itu yang kurang normal sebagai lelaki. Dia putih. Sangat putih. Warna kulitnya mengalahkan warna kulitku. Jangan-jangan… dan itu yang membuat keyakinanku bertambah benar, dia menenteng kantong belanjaanku dan menyodorkannya kepadaku… Yaah, he’s Chinese! Tetapi matanya itu tak sesipit yang lain. Badannya pun sedikit lebih tinggi dari Chinese kebiasaan. Ketika dia tersenyum, ada sesuatu yang dengan mempesonanya menyembul keluar, lesung pipi. Walaupun dengan gaya casual, kaos biru muda dan celana jeans sedikit dibawah lutut, dia tetap jadi actor utama hari itu (aktrisnya??? Jangan tanya, aku juga tak berharap, haha. Ini “seperti pungguk merindukan bulan” atau “jauh panggang dari api”, hehe. Saking jauhnya, jangan berharap matang, hoho).

“Semuanya 221.500 Rupiah”, ucapnya dan lagi-lagi tersenyum.

Kekagumanku sedikit keterlaluan kali itu. Semua organ tubuhku seperti bekerjasama ingin mempermalukanku. Otakku tak berjalan normal, jantungku sedikit berdetak lebih cepat. Kacau begini kalau logika tak berjalan dan pikiran hanya berkata, Subhanallah… Lelaki ini charming, God! Thanks for this! Dan tidak Allah, kalau begini pasti wajahku sudah dengan sangat tega merona merah. Namun, aku masih sangat bodoh terpana dengan senyuman itu. Sepertinya lelaki itu menyadarinya…

“Hmm…jadi belanjanya?”, ucapnya kini dan malah membuatku tambah kacau. Koin dalam peganganku pun seperti ikut-ikutan ingin mempermalukanku dan dengan genitnya jatuh kelantai…

“Oh…e..o..ja, ja..di kok!”, dan membungkuk mengutip koin-koin nakal itu. Lelaki itu meletakkan kantong belanjaanku dan membantuku mengutip koin terakhir. Aku bangkit dan menyerahkan uang itu.

“Maaf…”, ucapku selanjutnya sambil tersenyum kaku. Dia tertawa kecil.

“Enggak apa-apa!”

Aku raih belanjaanku dan bergegas pergi.

“Hei…tunggu!”, suara panggilan itu memaksaku segera beralih lagi.

“Iya…” ucapku.

“Kembaliannya tidak mau lagi?”, ucapnya sambil tersenyum. Aku pun berjalan dan meraih kembalianku. Tetapi sekilas kudengar, cara bicaranya agak kaku. Seperti orang jarang berbahasa.

“Makasih”, ucapku tak menoleh kearah wajah itu lagi.

Hari ini aku mengakui kalau mata Kiki kali ini tak salah. Lelaki itu memang “sesuatu”, haha…


***