Senin, 26 September 2011

"Bahkan aku tak sadar Mimpiku sudah terwujud..."


"Suatu hari adek pasti bisa ke Jepang..."

Minggu itu di awal bulan Januari adalah jadwal pengumuman resmi beasiswa itu. Dimulai dari hari pertama di bulan pertama tahun itu, semua kandidat sudah mulai gergetan menunggu keputusan akhir dari penyeleksian beasiswa ke negeri puluhan negara bagian itu.. Selama seminggu ini pun hati ku mulai cenat cenut, apa aku akan berhasil jebol ke negara adidaya itu, walaupun hanya hitungan bulan. Tiba-tiba satu sms masuk ke cellphoneku.

"Assalamualaikum, umy udah dapat telpon dari Jakarta? Alhamdulillah aku dapat my"

Wow, ternyata itu sms dari Arni teman seangkatanku yang sama-sama mencoba keberuntungan di beasiswa ini. Tapi aku dari pagi tadi belum dapat kabar apapun.

"Belum ada panggilang masuk dari no jakarta Arni, mungkin aku belum beruntung kali yaa :-( "

"Eiits..jangan pesimis dulu, tadi kata mba nya banyak nomor awardees di Aceh agak sulit di hubungi..tunggu aja sebentar lagi yaaa.. ni aku mau ngecek email dulu katanya banyak yang harus dipersiapkan... Ayook mi, positive thinking :-)"

"Mudah-mudahan yaa.."

Jantungku mulai berdetak kencang, mulai resah menunggu cellphoneku berbunyi. Ada sedikit rasa pesimis, apa iya sulit dihubungi, Arni yang rumahnya agak jauh di sana bisa langsung masuk, aku yang rumah dekat pinggiran kota tapi sulit di hubungi. Ah..kubuang pikiran itu jauh-jauh. Ku bawa cellphoneku kemana pun aku pergi sambil mengucap doa di hati. Empat jam berlalu sejak Desy mengabariku kabar gembiranya, beberapa teman lain yang ku hubungi pun rata-rata sudah mendapat kabar gembira itu dan kini aku mulai kehilangan semangat. Yah, dalam hal persaingan pasti ada yang kalah, dan mungkin aku masih di posisi itu, pikirku. Sudah tiga kali mencoba, mungkin Allah belum mengizinkanku lulus.
Kuperhatikan cellphoneku, apa ada yang rusak hingga dia tidak berbunyi. Tapi emang kenyataannya tidak ada nomor asing yang menelponku sampai menjelang jam 2 siang hari itu. Aku pun melangkah lunglai ke dapur, walau kehilangan nafsu makan tapi aku lapar. Ibu yang sedari tadi memantau keadaanku yang hilang separuh jiwa pun mulai iba melihatku.

"Ayoo makan dulu umy, masalah pasti ada solusinya", ucap ibu seadanya, aku belum berani bilang apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya tersenyum kecut. Aku pun menuruti dan mulai mencuci tangan saat sebuah sms masuk. Hmm..pasti sms yang sama, pada mau menenangkan..hiks..
Tak kuhiraukan sms itu, namun aku dengan pikiran yang masih melayang menyantap makan yang rasanya sulit masuk ke perutku saat itu. Namun sekilas kulihat nomor yang mengirim sms itu bukan nomor yang ku kenal. Ku raih cellphoneku dan kubuka sms yang bunyi nya...

"Maaf saya sudah mencoba menghubungi nomor anda sejak tadi pagi dan kesulitan. Saya Rathma dari IIEF ingin menyampaikan selamat kepada anda sebagai salah satu pemenang beasiswa IELSP. Segera check email anda dan segera persiapkan berkas-berkas yang harus segera dikirim ke IIEF. Terima kasih."

Ya Allah, aku masih belum percaya dengan apa yang ku baca. Kubaca sekali lagi, mungkin ini cuma mimpi. Kulihat sekeliling, apa aku berhalusinasi. Dan ternyata tidak... Aku langsung berlari memeluk ibu ku yang saat itu masih di dapur dan menangis terharu disana. Ibu hanya diam sampai aku bercerita dan kuliat ekspresinya antara senang dan sedih. Aku mengerti karena selama ini aku tak pernah bepergian jauh, dan ini ke Amerika.

Dan ini lah aku disini dalam sebuah burung besi bernama United Airlines menuju negara adidaya itu. Setelah transit di Thailand tadi menjelang subuh, kami melanjutkan perjalanan dan sekarang telah sampai di tujuan transit kedua, yaitu Jepang. Hmmm..Jepang, negeri yag elok. Salah satu negeri impianku. Bila mengingat Jepang, aku mengingat Sakura dan Salju. Dan kebetulan saat itu sedang musim semi, ketika kami menapakkan kaki di negeri Sakura itu aku melihat bunga Sakura sedang bermekaran di sepanjang jalan Bandara Internasional Narita, Tokyo. Sayangnya, kami cuma bisa menikmati udara Jepang beserta pemandangan itu di bandara saja, no visa means you can't go around Japan. Namun aku tetap selalu mengucap syukur karena telah pernah menginjakkan kaki disini. Aku dan beberapa temanku memandang keluar jendela kaca super besar mencoba melihat sejelas mungkin bentuk Sakura yang berada jauh di ujung pinggir bandara sebelum kami melanjutkan perjalanan ke USA. Dalam pikiran kami saat itu, kapan lagi kami bisa melihat bunga yang hanya hitungan hari bermekaran itu dan kemudian menjadi daun... Dan akhirnya kami harus meninggalkan Jepang, ku pandangi sekali lagi bunga Sakura yang menjadi icon Jepang itu...Setelah menempuh perjalan hampir 13 jam akhirnya ku hirup juga udara Amerika, dari Los Angeles kami terbang ke San Jose dan menempuh perjalanan selama satu jam setengah menuju St. Cruz. Di sepanjang jalan ku lihat pohon-pohon besar yang setelahmya kutahu bernama red wood, oak dan lainnya. Jalan dan pohon yang mengelilinganya persis seperti yang selama hanya kulihat di film-film Hollywood.
Kami sampai menjelang tengah malam di University Inn, penginapan yang dikhususkan untuk mahasiswa yang study di University California Santa Cruz. Setelah beristirahat beberapa jam, paginya kami bersiap-siap melakukan orientation day ke kampus. Tak di sangka diperjalanan menuju kampus, begitu banyak pohon Sakura di sepanjang jalan dan bunganya sedang bermekaran. Aku baru tau ternyata Sakura banyak macamnya, I was speechless saat itu. Ternyata aku salah berpikir bahwa Sakura cuma ada di Jepang. Ternyata di seluruh USA sudah ada bunga ini, karena pemberian hadiah dari pihak Jepang. Wow...Alhamdulillah.

Hampir tiga tahun berlalu sejak keberangkatanku ke LN. Banyak cerita dan pengalaman yang tak terlupakan, sedih, senang, lucu, konyol yang terjadi saat disana. Tapi bukan itu inti dari note ini, aku hanya ingin menapak tilas hal yang aku sendiri tak menduga sudah terjadi. Sebuah mimpi dimasa kecilku akhirnya jadi nyata.
Aku tak merasa aneh saat ibu sering lupa kemana tujuan aku pergi tiga tahun lalu, ibu selalu mengucapkan "Saat kamu ke Jepang dulu", pada saat dia bercerita pada yang lain juga pasti yang disebutkannya aku pergi ke Jepang. Aku sering meralat, "Bukan ke Jepang bu, Ke US..kan ke Jepang cuma transit di bandara aja, heheee", tapi tetap saja tiap kali mengingat perjalananku, ibu pasti mengucap "ke Jepang".

Dan seperti hari ini saat aku sedang mencuci baju bersamanya, ibu berkata..
"Kalau jaket abang yang satu lagi juga kotor, rasanya gak sanggup dicuci lagi.."
"Jaket yang mana??" tanyaku.
"Jaket yang warna abu-abu yang kamu beli di Jepang", Nah lho?? Jepang lagi kan..
"Di Amerika bu", ucapku sambil terseyum.

Tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul di kepalaku. Aku jadi penasaran kenapa ibu sangat tertarik dengan Jepang sampai salah selalu.
"Bu, ibu suka Jepang yaa??", pertanyaan itu membuatnya bingung.
"????", wajahnya bingung.
"Hmm..abis selama ini selalu saja salah menyebutkan kemana umy pergi, hehheee".
"Oh..bukan karena itu. Kamu gak ingat yaa, dulu saat kamu baru masuk sekolah dasar, kamu selalu bilang gini, "Suatu hari adek pasti bisa ke Jepang", kalimat itu selalu keluar dari mulut kamu karena kebetulan kan Ayahnya Indah (Ibunya indah adalah sepupuku) dan keluarganya memang disana, jadi mungkin ada rasa ingin yang luar biasa pada diri kamu. Dan akhirnya kata-kata itu terwujud, walaupun cuma transit di Jepang. Tapi intinya sejak kecil memang keinginan terbang ke luar negeri sudah ada. Anak kecil biasanya ucapannya lugu dan polos tapi tulus sekali dan Allah mengabulkan itu. Bahkan kamu sendiri lupa kan pernah sering berucap itu?", tanya ibu padaku yang sedang bingung tapi terharu tapi tetap mengangguk polos.

Wow!! that's really impressive. Bahkan aku sendiri benar-benar lupa pernah punya mimpi itu sejak masih kecil. What a surprising story I had!!! Hanya ucapan syukur yang terucap.

Tak sadar ucapan itu telah keluar dari mulutku sejak aku baru menginjak sekolah dasar. Tak ada kata yang tidak mungkin pada Allah SWT. Satu pelajaran penting, jangan menganggap remeh ucapan bocah kecil, apalagi tentang mimpi-mimpinya. Allah tahu itu tulus dan suatu hari pasti Dia akan mewujudkannya.


(Menulis masih dengan keadaan surprised, ck..ck..ck)
Memeluk Sakura...
Ayano and Minori, Japanese Friends...
And This is Sakura, Japanese icon..

"Dia hanya perempuan biasa..."


Kisah ini terukir begitu saja di dalam note ku. Ada seorang menginspirasinya, namun cuma inspirasi bukan keseluruhan kisah ini tentangnya. Ada keinginan kuat mengukir kisahnya disini, tapi kisahnya masih terlalu banyak tanda tanya dan aku ketakutan, akibat note ku ini, sebuah rahasia terurai.


Dia bukan perempuan biasa-biasa saja. Dia seorang yang punya keinginan luar biasa mencapai cita-citanya walaupun kegagalan begitu senang menghampirinya. Tapi dia malah bertambah semangat membuktikan pada kegagalan kalo mereka salah memilihnya terus untuk dihinggapi.

"You are not recommended for this scholarship...

"Entah udah berapa surat yang menyatakan itu sudah dia terima (dengan katanya yang berbeda, tapi tetap artinya sama, kamu gak berhak dapat beasiswa ini, hehehe).Sebenarnya dia seorang perempuan yang cerdas, sangat malah. Tapi mungkin keberuntungan masih malas menyapa. Allah masih meluruskan niatnya yang paling tepat. Selain cerdas, dia juga punya jiwa kemandirian yang besar.

Mencari kesibukan dengan bekerja menjadi salah satu caranya melupakan kegagalannya yang menyakitkan dan mulai membuka diri untuk kesempatan yang lain. Disaat kedua sahabatnya telah menapaki kuliah Masternya di LN, dia masih jatuh bangun mendapatkan kesempatan emas itu.Dan suasana pekerjaan yang menyenangkan membuatnya menikmati saat-saat menunggu berkah Tuhan akan jawaban doanya melanjutkan study. Disana dia juga bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Maghfirah yang perfeksionis namun selalu manis dalam segala hal, Nabila yang lembut namun tegas dalam segala keputusan, Fadil yang jayus namun selalu serius dalam bekerja, dan beberapa orang yang luar biasa lainnya. Upps, satu yang belum kusebutkan, yang pasti orang ini akan menjadikan cerita ini lebih berwarna. Lelaki inijuga cuma manusia biasa, tapi dia punya kelakuan yang baik sama seperti arti namanya, terlihat dia berusaha sekali berbuat yang yang terbaik untuk hidupnya di dunia dan kelak nanti di akhirat. Lelaki itu bernama Aulia. Kita tinggalkan kisah Aulia sementara.

Semua yang mengenalnya melihat dan mengerti, kejatuhannya yang sangat besar adalah ketika kedua sahabat seperjuangannya dinyatakan lulus di beasisaw yang sama-sama mereka ikuti. Tapi dia tak berlama-lama dengan keterpurukan, dia berdiri tegak dan mulai membuktikan bahwa dia juga berhak dan akhirnya penantian selama beberapa kegagalan itu berbuah sangat manis dengan menjadikannya salah satu kandidat beasiswa salah satu beasiswa bergengsi ke negeri 4 musim yang syahdu, yang terkesan kuno tapi modern, Eropa.

Tapi dia bukan seorang dewi... dia hanya seorang perempuan biasa yang juga punya hati selembut sutra. Dia terkadang sakit saat dia dihina dan di lecehkan, dia kecewa saat gagal, jenuh saat bosan melanda... Dan dia juga bisa jatuh cinta saat hatinya berkata sudah siap merasa deg-degan saat ada "dia". Tapi kenapa disaat hatinya sudah siap akan hal itu, malah saat itu tidak seindah keinginannya. Kenapa hatinya memilih lelaki itu? Kenapa Aulia? Tapi pertanyaan selanjutnya, Apa salah kalau hati memilih lelaki yang sempurna dimatanya itu? Salah..itu salah menurut logikanya karena terlalu banyak perbedaan antara mereka dan segala ending yang bahagia akan sulit tertulis dalam sebuah skenario cinta.. Hanya gara-gara logikanya itu, dia lupa bahwa ada Allah yang lebih berkuasa atas segala sesuatu...

Kontrak kerja pun berakhir dan itu berarti berakhir pula waktu-waktu bersama dengan Aulia. Segenap syukur terucap dalam hatinya. Dia merasa ini saat yang tepat untuk melangkah pergi dari rasa yang menurutnya tidak pantas ini. Beberapa tahun  berlalu sejak itu, dia berusaha menutup diri, menjaga jarak sampai suatu hari seorang teman lamanya menelpon dan mengajak bertemu. Dan rupanya itu reuni teman-teman kerja dulu. Dia tahu ini berarti dia harus bertemu dengan Aulia di saat dia masih menyangsikan kekuatan hatinya, tapi jauh dari itu dia hanya kangen teman-temannya, kangen Nabila yang sudah di anggap adiknya sendiri.

Akhirnya hari itu datang juga, satu persatu mereka datang. Begitu bahagianya ketika Nabila datang, dia memeluk gadis cantik itu. Percakapan santai pun terjadi, sekedar menanyakan kabar dan kegiatan sekarang saat salah seorang teman lainnya mengungkapkan keinginannya mencomblangi Nabila dan Aulia. "Deg", tak bisa dipungkiri ada rasa terkejut yang sangat mendengar itu. Dia melihat sekilas wajah Nabila yang saat itu bersemu merahyang tak lama dia tahu bahwa gadis cantik itu telah lama memendam rasa pada Aulia yaitu sejak mereka di bangku sekolah. Aulia kebetulan adalah senior Nabila dan perasaan itu sudah ada sejak 8 tahun yang lalu. Dia berpikir lamanya dia memendam rasa tidak ada apa-apanya dibanding cinta Nabila. Tapi satu sisi hatinya yang lain bertanya, kenapa harus Nabila Ya Tuhan?? Saat dia sibuk dengan pertanyaan di otaknya, si aktor lelaki pun datang. Dia terluka mengetahui bahwa perjuangan yang selama 2 tahun ini dia lakukan sia-sia belaka hanya oleh satu tatapan mata teduh itu. Memalingkan wajahnya malah membuatnya semakin terluka melihat wajah merona Nabila menyambut sang pangeran hatinya datang. Dan itu lah Aulia, dia biasa saja. Sementara sekarang kemauannya semakin besar untuk membunuh rasa itu.

Beberapa saat berlalu sejak saat itu, usianya pun sekarang bertambah. 26 bukanlah angka yang besar bagi lelaki, tapi baginya seorang perempuan, 26 adalah angka yang melewati angka sensitif, tapi bukan berarti itu berita gembira. Orang tua sudah mulai diam seribu bahasa masalah pernikahan. Di saat seperti ini, rasanya mulai gelisah. Tinggal hitungan minggu, dia akan menaiki burung besi dan menuju Eropa. Satu sisi, doanya sudah terkabul..akhirnya dia akan pergi mengejar cita-cita, dia juga bisa mulai menata hati. Tapi tak dipungkiri, keinginan melengkapkan setengah ibadah juga menjadi pikiran utamanya. Tapi dia tak mungkin memaksa takdir Allah. Banyak orang berkata, dia terlalu memilih, padahal apa yang harus dipilih kalau memang tak ada pilihan. Dia buka cleopatra yang di kejar-kejar lelaki. Kata orang jangan terlau banyak kriteria, padahal dia hanya perempuan biasa yang mengharap lelaki biasa-biasa saja tapi punya cinta yang luar biasa.. Mungkin para lelaki itu takut mendekatinya hanya karena alasan-alasan diatas. Ah, sudahlah! pikirnya. Toh, mencari jodoh tidak seperti kita membeli kacang goreng, dimana pun dapat.

Menjelang keberangkatannya, seseorang datang ke rumah mengabari sesuatu. Ada seorang lelaki mempunyai niat mulia mempersuntingnya. Ada hal yang membuatnya gelisah, apa dia harus menolak lagi hanya karena dia belum bisa menghapus goresan nama Aulia di hatinya atau dia harus mencoba? Tapi hanya hitungan hari, dia harus pergi jauh. Apa mungkin memberi kesempatan di saat dia sendiri harus melangkah pergi? Namun orang tua tidak lagi memaksa, mereka hanya menyarankan agar dia melibatkan Allah dalam hal ini. Dua malam berturut-turut dia melakukan istikharah, belum ada jawabannya. Tapi di hari ketiga, saat seseorang itu datang menemuinya, ada seberkas rasa sejuk merasuk dihatinya. Rasa itu tak sama seperti rasanya kepada Aulia. Rasa itu juga belum mampu menghapus rasanya kepada Aulia. Tapi rasa itu ada. Itu yang menurutnya sebagai jawaban dan itu penting.


Dan ini lah dia didalam pesawat menuju negara tujuan dengan sebuah cincin melingkar dijari manisnya.Ah, aku sudah bertunangan, cincin ini buktinya. Hatinya tetap menyangsikan tapi dia berusaha.

Hitungan minggu pun berlalu di Oslo, Norwegia. Musim dingin pun melanda, udara sejuk pun menyelimuti hati perempuan itu. Di tengah kesibukannya mengerjakan tugas kampusnya, tiba seberkas rasa terlintas dihatinya. Dia rindu. Dia ingat lelaki itu. Bukan tunangannya, tapi lelaki itu. Aulia. Dia ketikkan nama itu dan melihat profilnya. Namun setelahnya dia merasa berdoa. Merindui lelaki yang berstatus tunangannya saja yang belum apa-apa akan sangat berdoa apalagi seorang laki-laki yang bukan siapa-siapa. Kemurungan musim dingin pun semakin merasuk. Dia terisak menyalahkan hatinya yang begitu teganya membekukan nama itu. Tiba-tiba ada sebuah sms masuk ke cellphonenya...

"Assalamualaikum... Nia apa kabar? Mudah-mudahan selalu dalam lindungan Allah SWT di negeri orang. To the point saja, saya sudah sekian lama memikirkan ini dan meminta petunjuk Allah. Saya meminta nomor Nia dari Nabila dan saya berniat mengenal Nia lebih dekat untuk sesuatu hubungan yang suci. Saya sekarang berada tak jauh dari Nia, saya di Lorraine Perancis. Mohon jawabannya. Terima kasih. Aulia Fikri.

Dan sms bukan membuatnya bahagia, namun makin terisak. Apa salahku Allah?? Kenapa harus sekarang??.

Dan butir-butir salju di kota Oslo menjadi saksi kepiluan hati perempuan itu... 


Buah kesabaran itu selalu manis...

Berbicara kesabaran, terlalu banyak kisah nyata yang manis pasti akan terucap...Tapi ada satu kisah yang menarik untuk kubagi biar menjadi pelajaran hidup bagiku dan kita semua. Ini kisah seorang sahabatku, mudah-mudahan dia tak keberatan jika kisahnya kubagi disini.Yang kuketahui, keduanya mulai tertarik sudah lama. Tapi rasa itu ternyata diabaikan atau sengaja di acuhkan hingga beberapa lama. Beberapa orang lain mulai datang dalam kehidupan mereka masing-masing. Sampai sutau ketika di masa itu, rasa itu mulai menjadi perhatian keduanya. Seolah gayung pun bersambut, Allah membuka jalan keduanya untuk saling mengungkapkan. Hari-hari pun terjalani, tapi inilah kehidupan tak ada yang mulus disana (seperti kata agnes "Life is never flat"). Hubungan keduanya terbentur ketidakcocokan. Tapi iitu semua bisa dilewati karena mereka percaya kekuatan rasa yang mereka miliki. Masalah rupanya belum mau meninggalkan keduanya. Disaat ketidakcocokan bisa dihadapi, sekarang mereka harus menghadapi restu orang tua dan lingkungan keduanya. Kenapa ini mesti terjadi? Karena usia perempuan bukan lagi usia memadu kasih ala remaja. Mungkin bagi si lelaki usia bukan masalah, tapi it is not for her and Aku juga setuju dengan sahabatku itu. Namun keduanya tetap berusaha membuktikan jalinan rasa antara keduanya. Tantangan awal adalah dari sebagian lingkungan si perempuan yang sulit menerima pasangannya. Tapi itu bukan masalah besar, yang paling menguras pikiran adalah restu orang tua. Mereka mulai memperkenalkan pasangan ke kedua orangtua masing-masing. Tanggapan yang datang dari kedua belah pihak pun beragam. Yang tertangkap memoriku yang sedikit lemah ini adalah kedua belah pihak orang tua berat mengizinkan hubungan keduanya. Namun yang paling penting untuk saat itu, mereka sudah berusaha dan mereka berdua tetap yakin bahwa, "Kita pasti bisa". AKu pun tak mendengar kabar apa-apa lagi setelah itu.

Suatu ketika dibulan itu (lupa bulan berapa, hiks), sahabatku menelpon. Dia menangis tersedu. Teriris rasanya mendengar tangisannya. Awalnya tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Aku pun membiarkannya terus menangis sampai akhirnya dia mulai bercerita alasan dia terisak. Seseorang telah datang dengan niat mulia untuknya (hal yang selama ini dia takutkan terjadi). Yang membuatnya sedih tak terkira adalah, tak ada alasan (selain alasan kalau dia sudah punya yang lain)untuk bisa menolak seseorang itu. Setelah kutanya alasannya kenapa tak ada alasan akhirnya kutahu jika seseorang itu memang kriteria calon pendamping dan menantu yang baik (banyak hal yang dia sampaikan, dan mungkin itu relatif bagi yang membaca tapi secara umum semuanya pasti setuju). Dan yang paling membuatnya teriris adalah kedua orang tuanya sudah sangat setuju dan memintanya segera memberi jawaban (dengan ini, sudah pasti dia juga harus memutuskan hubungan dengan pasangannya). Dan itu pun terjadi, dengan terisak dia pun bercerita jika hubungannya telah usai dan yang paling membuatnya sakit adalah akhir kisah mereka usai dengan tidak baik-baik (mungkin lelaki itu menudingnya tak berusaha mempertahankannya).
Masih berurai air mata, dia bercerita tentang "seseorang" itu. Aku pun bertanya, "Sudah istikharah belum?". Dia menjawab sudah tapi belum ada jawaban karena tiap malam yang diingatnya cuma "lelaki" itu. Berusaha tidak mengajari, aku memberi sedikit masukan agar dia mulai menetralkan hati (Aku tau itu pasti akan sulit sekali), tapi tetap berusaha meminta petunjuk, Allah pasti membuka tabir itu.

Masa pertunangan pun terlewati. Beberapa kali bertemu, tak kulihat cincin itu melingkar jari manisnya. Dengan yakin dia menjawab, "Rasanya belum pantas memakai cincin pemberian itu, kalau hati belum ikhlas. InsyaAllah", dan aku mengaminkan dihati. Dia pun mulai menyibukkan diri. Dia perempuan yang cerdas. Pekerjaan mungkin bisa sedikit membantunya.

Beberapa masa terlewati. Ku telusuri sahabatku itu dengan melihat gambar-gambarnya online (through FB). Dia berubah, makin cantik. Aku bahagia, melihat senyum-senyum itu di setiap gambarnya.Lama tak terdengar kabarnya. Hari itu sepucuk undangan pernikahan elektrik masuk ke cellphoneku dan surprising me a lot (biasanya santai saja menerima undangan nikah, paling senyum-senyum mengingat sendiri kapan, heheheee). And it's the invitation for a wedding ceremony from "her". With whom finally? Of course with her fiancee. Berselang 15 detik sms lain masuk, "Umy, I'll call you soon". Dan sms itu yang makin membuatku shock dan sepanjang detik kulewati dengan gundah. Berbagai pertanyaan mulai muncul, pikiran negatif datang. Apa dia belum bisa ikhlas? Aku mulai gelisah, sedang hari suci itu berselang cuma hitungan jam. Aku mulai mengucap doa agar diberi kabar gembira. Salah satu sahabat lain setelah kucerita berkata, "Be positive umy, belum tentu ini seperti yang kita khawatirkan. Let her speak, jangan sampai dia yang harus menenangkanmu terlebih dahulu." Huhuuu, bisa dikira berapa gelisah aku hari itu, seolah aku yang bermasalah.
Ringtone "Lucky by Britney Spears" pun berbunyi dari cellphone ku and that's her. Bismillahirrahmanirrahim. Rasa syukurku pun terucap dihati ketika mendengar suaranya jauh dari kesan pilu. Setelah sedikit basa-basi, aku pun tak tahan menanyakan semua yang berkecamuk dihati.
"Sudah gak apa-apa, kan??", pertanyaan yang betul-betul tidak jelas. Namun dia langsung mengerti. Tak terhingga rasa syukur ku hanturkan karena kabar yang ku dapat begitu membahagiakan. Begini ucapannya...
"Everything is really fine... Rasanya begitu tak pantas membekukan hati kalau lelaki itu begitu sabar.. I am with him right now, we just had Bimbingan Nikah ", katanya dengan penuh bahagia.
AllahuAkbar. Allah punya andil membolakbalik kan hati kita. Dan cara Allah buat kisah sahabatku ini adalah dengan "Kesabaran". Begitu indah kisah yang terukir jika kita melibatkan Kesabaran. Sanagt manis buah yang kita rasa jika kita sabar. I've learnt so many things.Mudah-mudahan kisah ini memberi inspirasi. Thanks for my friend, and congratulation for the wedding. Happy for you guys ^^

Surat Untuk Allah - Curhatku


Dear Allah, Tuhanku Yang Maha Indah dan Segalanya...
Tak Ada kata-kata yang tepat mengungkapkan keagunganMu..

Entah apa yang terlintas di kepalaku yang kosong ini, hingga ingin hati menuliskan sepucuk surat untukMu..
Pagi itu yang kuingat, emosiku terpancing lagi...
Muka ku memerah lagi... Aku mulai bingung...
Tapi karena aku langsung teringat meminta ampunMu.. emosi itu langsung reda...
Yang tak kumengerti, kenapa hati ku masih merasa tidak nyaman akan sesuatu..Apa aku harus selalu melampiaskan emosi dengan kata-kata atau tingkah laku hingga hati ini tenang..
Jawabannya telah langsung Kau kirim..
Tidak ! itu jawabannya...

Aku butuhMu Tuhan..
Sangat butuh...
Tapi aku malas memohon, malas memanjakan diri padaMu..Faktanya Engkau selalu membuka jalan untuk itu...
Malam-malam itu Kau bangunkan aku...
Karena Kau tahu aku butuh waktu hanya denganMu...Tapi tetap saja...
Tubuhku lebih terbuai oleh lelapnya tidur... Terpancing oleh bunga tidur...
Daripada mendengar panggilanMu..
Padahal... siapa yang butuh??
Aku..

Hati ini boleh bersemayam di tubuh ini, tapi sesungguhnya hatiku milikMu...
Kau yang berkuasa atasnya.. Kau juga yang paling tahu isinya...
I laugh but I cry privately at the same time (Aku terkadang tertawa, tapi aku menangis)..
Aku terkadang diam itu karena aku kecewa...
Orang-orang percaya aku bahagia, tapi terkadang kebahagianku kosong...
Aku tersenyum, tetapi ada kehampaan didalamnya..
Disaat aku menatap, tak ada jiwa disana...
Siapa yang mengerti itu???
Engkau..
Hanya Engkau, Allahku...
Bahkan disaat aku sendiri tak menyadari kepalsuanku itu...


Jika saja surat ini tak sampai...
Rabb, Would you give me your number??
Karena satu kata yang akan terucap tulus dari mulutku itu...
MAAF...


Terlalu banyak permintaanku..
Ini itu...


Aku minta diberikan alat untuk mengontrol nafsuku, agar tak sembarangan berbuat...
Aku juga minta agar hatiku selalu bisa kukendalikan agar tak mudah merasa...
Tak lupa kuminta agar aku bisa melihat masa depan, agar mudah bagiku melangkah...

Jika saja Kau berikan aku...
Alat untuk mengendalikan nafsu...
Aku tak tahu sakitnya penyesalan, hingga tak bisa  belajar sesuatu yang berarti..
Jika saja Kau limpahkan aku...
Kekuatan untuk mengendalikan hati..
Aku tak kan pernah tahu bagaimana sakitnya di lukai bahkan tak akan pernah mengerti indahnya jatuh hati...
Jika saja Kau izinkan aku...
Melihat masa depan..
Aku tak kan pernah tahu artinya pilihan, hingga tak pernah mengerti artinya kebimbangan..


Ada saat-saat dimana semuanya begitu mudah...
Kebahagian menyapa, ketika melihat senyum itu di wajah orang tuaku dan orang-orang yang ku sayangi...
Permintaan serta kebutuhan terpenuhi...
Tapi aku terkadang lupa bersyukur...
Kau tetap menunggu seutai kata syukur dari mulutku...
Tapi Allah...selama ini, aku senantiasa memohon padaMu agar selalu di ingatkan bersyukur...
Terima kasihku untuk itu...

Setiap harinya, ribuan pelajaran Kau ajarkan pada kami, ya kan??
Cuma kami manusia yang malas menyadarinya...

Saat ini bagiku..
Tiap hembusan napas berisi rasa syukur yang luar biasa..
Tak perlu kucerita, Engkau pasti tau...
Ada saat-saat tertentu sebelum aku tidur, ada ketakutan luar biasa mataku tak terbuka lagi esok hari, aku tak bisa menghembus udaraMu lagi esok pagi, tak bisa kulihat matahari yang bersinar itu...Yang paling membuat resah, aku masih belum bisa mencintaiMu dengan sepenuh hatiku..Yang paling membuat miris, Aku belum sepenuhnya membuat orangtuaku bahagia akan kehadiranku di dunia ini...
Terlalu banyak hal yang membuatku masih takut menghadapi "sesuatu" yang paling dekat itu...
Kematian..

Allah...
Mohon maaf jika suratku yang pertama ini, sedikit berantakan ^_^
Aku baru menulis lagi, masih semangat-semangatnya...Tak heran rasanya jika semalam tak satu ide pun terlintas, rasanya aku ingin menangis...
Dengan nasehat seseorang Kau tunjukkan bahwa Engkau sedang mengajariku belajar bersabar dan tidak buru-buru mengambil keputusan jika ingin sesuatu yang bermakna...
Aku juga mulai tersadar, segala ide itu berkah dariMu...Aku bersyukur karena itu dan aku bahagia karena berkahMu memberi banyak pelajaran...
Bagiku...
Ku berharap juga..
Bagi lingkunganku..

Tak bisa kupungkiri terlalu banyak yang ingin kuceritakan...
Tapi tak perlu realisasi pun, Engkau Maha Tahu...
Aku begitu yakin, Engkau akan segera membalas suratku ini...
Dihatiku...

Setiap hari, aku akan mengatakan ini...

Aku MencintaiMu...


Love,

Me ^^

Surat Untuk Allah - "Kita Juga Bisa Belajar Dari Mereka (Non-Muslim)"



Dear Allah...

Aku masih malu menyapaMu ^_^


Hai Allahku Yang Maha Pengasih...
Terima kasih buat pagi ini, aku masih berkesempatan melihat duniaMu yang indah ini...Walaupun ada insiden kecil pagi hari ini (Aku belum tahu dampaknya, tapi aku merasa cemas luar biasa...Untuk ini, ku mohon permudah jalan ke depan agar menemukan solusi tanpa menyakitinya...Amiiin.)
Sebenarnya aku ingin menulis tentang insiden itu, tapi aku belum siap karena endingnya juga belum berani ku kira-kira...


Dear Allah, ini suratku yang ketiga di hari ketiga aku menulis untukMu...
Mudah-mudahan tulisanku sudah lebih baik (karena di surat pertama masih campur aduk, heheheee)...
Hari ini aku masih ingin menyinggung masalah pelajaran penting yang Kau limpahkan kepada kami... kalau kemarin melalui orang-orang pilihan yang menjadi pahlawan, hari ini aku teringat beberapa kisah yang di bawa teman-teman dari keyakinan yang berbeda dari kami (Islam).
Aku tahu, mereka sebenarnya juga umatMu tapi mereka yang belum meyakini Dirimu, Ya Rabb...

Perbedaaan agama memang membawa perbedaan besar dalam kehidupan kita, tapi satu sama lain kita bisa belajar...

Kisah ini kuingat saat tadi pagi aku sedang merindukan suatu tempat di belahan dunia lain. Santa Cruz sebuah kota kecil di California, USA. Sudah 3 tahun lebih sejak aku menginjakkan kaki disana. Rinduuuu... Ya Allah (Untuk kerinduanku ini, aku memohon agar bisa menginjakkan kaki lagi disana, Amiin -  tak ada yang tak mungkin bagiMu ^_^). Kerinduanku pada my host Mom, Cynthia Young Schuette and family, juga yang paling besar pada teman-teman seperjuangan dari Indonesia sertaAyano Hirihara (salah satu teman karibku dari Jepang).

Ketika kerinduan melandaku, biasanya aku melihat gambar-gambar mereka. Dan hari ini bukan hanya kebahagiaan yang Engkau anugerahi ketika melihat senyuman-senyuman itu tapi satu ide yang muncul di otakku ini (Aku menyanjungMu Ya.. Allah, Thanks for that). Kenapa aku tidak menulis sesuatu tentang mereka?? Hmm..tapi bukannya itu terlalu luas. Dan mungkin karena melihatku malah kebingungan sendiri dengan ide itu, Kau arahkan aku untuk menulis sesuatu yang baik tentang keluarga angkatku serta teman-temanku dalam hal ini yang berbeda keyakinan denganku (Non Muslim).

Pelajaran pertama yang paling membekas dari mereka adalah begitu konsistennya mereka terhadap ibadahnya. Salah satu teman dari Indonesia, kebetulan dia berasal dari Surabaya (kalau tidak salah..duu, penyakit lupa ku mulai menyerang. Allah bantu aku untuk sembuh, amiin). Seorang gadis cantik, pintar, dan calon arsitek (dan sekarang entah sudah berapa negara dia jelajahi, dia hebat). Namanya Maria Bernadet Karina Dewi. Ria, begitu aku menyapanya, beragama Kristen Katolik. Satu orang lagi bernama Santri Datuan, seorang gadis manis dan pintar berasal dari Palu. Dia beragama Kristen Protestan. 

Pagi itu, on the very first days in Santa Cruz, kami bangun pagi-pagi dan bersiap-siap ke kantin penginapan kampus (University Inn). Bersama dengan Ega (kamar kami bersebelahan), aku menuruni tangga dan bertemu Ria di kantin dan mba San (Mba Santri adalah senior kami). Makanan mungkin adalah bagian culture shock pertama (Oh.. Tuhan, aku ingat aku harus makan waffle di hari pertama itu sedang aku buta rasa dan baunya, hari-hari selanjutnya kami sudah mengenal scramble egg - I love it). Awalnya aku menghabiskan waktu hampir 10 menit memandangi makanan di hadapanku (Ck..ck..ck) sedang Ega geleng-geleng melihat tingkahku. Aku menenangkan diri dengan meminum Jus Orange+Guava yang langsung kusadari uenak dan suegerrrr (yeng kemudian jadi minuman andalanku dan selarang aku merindukannya, hikkksss). Ria duduk di meja yang sama, dan sebelum menyentuh apa-apa dari bagian sarapannya, dia menggenggam kedua tangannya tepat di dadanya dengan wajah sedikit menunduk. Dia berdoa. Hal selanjutnya yang dia lakukan adalah membuat simbol salib di sebagian tubuhnya. Ega dan aku saling memandang. Engkau menegur kami Ya Rabb ^_^ melalui Ria. Tak lama Mba San juga duduk di meja yang sama dan melakukan hal yang sama, but She didn't do the last one (karena beliau Protestan). Aku dan Ega saling memandang lagi dan tersenyum. Aku yang tadinya langsung meminum Jus tanpa basa-basi merasa sangat malu padaMu.

Walaupun aku malu, tapi tak jarang hal yang sama terulang. Apalagi di saat dinner time. Kami pulang menjelang senja dari kampus dengan berjalan kaki hampir 10 menit. Cuaca musim semi menyenangkan, tapi sedikit dingin bagi kami. Dan seharian belajar di tambah cuaca yang lumayan dingin membuat cacing di dalam perut pun meloncat-loncat seolah protes agar segera di beri makan. Bersama kami menuju kantin (dinner dimulai dari jam 5 dan berakhir menjelang isya, jadi jangan berharap akan dapat makan malam setelah jam itu) sebelum menuju kamar untuk mandi.

Menu hari itu serba-serbi chicken (Aku lupa nama-namanya, hiksss..). Ayam yang di potong kecil-kecil dan di goreng tepung bumbu dengan dua saus yang melengkapi, paha-paha ayam yang di masak dengan semacam bumbu kari dan paha-paha ayam yang dimasak dengan semacam bumbu semur (tapi rasanya jauuuuuh berbeda). Melihat menu-menu itu, di saat perut keroncongan adalah saat-saat yang paling indah (berkah yang aku syukuri sampai sekarang ^_^). Ku sambar piring dan kumasukkan beberapa potong paha ayam dan yang lainnya. Ku letakkan di salah satu meja, ku sambar piring yang lain dan mulai mengambil buah-buah segar tak lupa jus kesuakaaanku. Aku duduk bersamaan dengan Ria. Saat tanganku mulai menyambar potongan pertama, mataku melihat Ria dengan aktivitas sebelum makannya. Dia berdoa agar makanannya berkah. Dan lagi-lagi melalui dia, Engkau mengingatkanku untuk berdoa agar makanan yang kumakan tidak cuma menghilangkan laparku tapi menjadi suatu berkah di tubuh ku jasmani dan rohani. Aku malu sekaligus terharu. Faktanya, dari kecil mulai dari sebelum sekolah TK sampai di SD dan di pengajian, aku selalu di ajarkan berdoa. Tapi itu kurang berbekas di otakku ini dan Engkau yang Maha Bijaksana mengingatkanku melalui Ria dan Mba Santri yang ternyata keyakinannya berbeda.

Tak cuma itu, ketika Aku dan Oscar di undang ke rumah Cindy (My host mom). Keluarga itu saling memegang tangan dan berdoa. Yang aku pahami dari doanya, mereka bersyukur atas makanan hari itu dan memohon berkah. Aku berdoa kepadaMu hari itu, walaupun didalam hati tapi yang ku ingat, itulah doaku saat makan yang sangat kusyu'. Dan tak lama, aku tahu bahwa setiap keluarga disana berusaha bertemu saat makan malam dan mereka makan bersama serta tidak lupa berdoa. Pelajaran penting yang Engkau ajarkan melalui hambaMu yang berkeyakinan lain itu.

Suatu malam, Ria dan teman-teman yang lain berkunjung ke kamarku. Biasanya selesai magrib, aku mengaji beberapa ayat suci Al-Qur'an dan meletakkannya di bufet samping tempat tidur. Saat sedang asik-asiknya mengobrol, mata Ria tertuju pada Al-Quran kecil itu dan langsung meraihnya. Tanpa segan dia membukanya dan takjub melihat setiap kata-katanya dalam tulisan Arab.
"Ummi,bisa baca ini?", aku mengangguk dan tersenyum.
"Wow, tulisan Arab dan bersambung. Kecil-kecil pula. Berapa lama belajar membacanya?", tanyanya lagi dan aku tersenyum.
"Sejak kecil, Ri. Awalnya belajar tulisan dasar tak bersambung."
"Semua orang islam bisa Al-Quran ini?", tanyanya lagi.
"Harusnya begitu, tapi nyatanya tidak semua bisa. Itu balik lagi ke pribadi dan keluarga Ri. Kan yang paling berpengaruh itu keluarga dan lingkungan  sekitar. Tapi harus bisa sebenarnya."
"Ooh..kalian hebat yaa", tambahnya sambil tersenyum simpul.

Pelajaran selanjutnya, dia tidak segan-segan menyampaikan kekagumannya terhadap mereka yang berbeda dengannya walaupun itu hal yang essential dan principal. Engkau Maha Mengetahui, Allahku. Thanks again for that.
Ria juga tidak pernah absen mengucapkan selamat lebaran juga ketika menyambut bulan suci Ramadhan walaupun aku tidak pernah melakukan hal yang serupa ketika dia menyambut hari besarnya dan kurasa dia mengerti (satu pertanyaan, apa begitu berdosa jika hanya ingin mengucap Allah?? niat hati bukan meyakini, mohon diberi petunjuk). Bukan niat memujinya begitu jauh, Engkau Maha Tahu bahwa aku hanya ingin berterima kasih atas segala pelajaran dalam hal sosial bermasyarakat ini. Saling menghormati dan menghargai.

Begitu pun ketika aku mempublish note yang berjudul "Alif dan Laila" yang lumayan menyentuh nuansa islami, Ria tidak segan membacanya dan mengomentarinya positively (aku teringat diri sendiri, ketika hal-hal yang menyangkut sesuatu yang berbeda dari agamaku, aku akan terus menghindar dan mengacuhkan padahal mungkin ada pelajaran hidup dan pelajaran sosial disana tanpa harus mengorbankan keyakinan kita).

Suatu senja aku berjalan pulang sendiri dari kampus menuju penginapan. Sendiri. Seorang cewek, menjelang magrib sendiri berjalan kaki di negara orang (lupa, entah kenapa aku di tinggal sendiri senja itu, hikkksss). Aku merasa cemas karena itu baru beberapa hari aku disana jadi masih merasa asing. Orang lalu lalang di jalan setapak itu, ketika aku ingin mengambil jalan pintas yang melewati satu gang namun ada beberapa toko disana, aku melihat sekelompok anak muda (dari gaya-gayanya semacam rappee or street dancer, kereen siyh). Aku langsung mengubah arah secara mendadak (kelihatan sangat kacau putaran arah tiba-tiba itu). Seseorang dari mereka yang kuingat berbaju putih dan bercelana gombrong besar bertopi merah tiba-tiba menyadari kekacauan sikapku..
"Hei..!", Deg, aku berhenti sejenak tapi sedetik kemudian aku melanjutkan langkah yang semakin besar (rencananya mau mengambil langkah seribu)
"Wait..! Assalamualaikum...", What?? ucapan salam kah itu?? tidak salah dengar? ucapan itu sedikit membuatku terkejut tapi aku tetap berusaha melangkah.
"A Muslim, why don't you give a smile?", perkataan selanjutnya ini yang akhirnya membuatku berhenti melangkah (KehendakMu, Rabb). Aku tersadar dari ucapannya, aku seorang muslim. Tak ada salahnya tersenyum, karena yang kutahu sedekah yang paling sederhana adalah senyum. Jadi tersenyumlah. Dan aku berbalik..
"Salam", jawabku sambil tersenyum.
"That's what I mean a Muslim, thank you!", ucapnya tersenyum ramah sambil melangkah pergi (denga gaya rapper banget...Aku suka^_^).

Bahkan dengan orang-orang asing yang kadang kita anggap tidak baik (perasaan terlalu parno), dari mereka pun Enkau bisa selipkan satu pelajaran.

Dear Allah, aku hanya memohon agar kami semua diberi keterbukaan hati dan pikiran dalam menerima segala pelajaran hidup dariMu. Juga yang paling penting, aku memohon agar Kau limpahkan kekuatan hati dan iman agar tetap terjaga untukMu. Amiin.


Aku mencintaiMu, Allah ^_^



Love,

Me ^_^

Surat Untuk Allah - "They are my Saviors"



Dear Allah...

It's been some time after my third letter for you God ^_^
Beberapa hari sibuk dengan pikiran sendiri, deadline juga menanti (biasa, penyakit suka bermain denga waktuku masih suka kambuh, heheheee)...Honestly, sebagian waktuku juga ku habiskan memikirkan apa yang mesti ku tulis dalam beberapa hari ini..saat ide satu muncul, ide lain juga ingin di realisasikan (Duuu..jadinya gak dapat intinya, ujung-ujungnya gak jadi nulis dech...).
Talking about those ideas, one of them still makes me confused about the plot, setting, and the character (Aku sedang menulis cerpen lagi Dear Rabb..mohom bimbingannya biar mudah dan lancar). Another is the letter for You, my Dearest Rabb. Sebenarnya aku ingin sekali menulis tentang "Ibu", tapi belum sepenuhnya dapat tahu haru memulai dari mana (terlalu banyak kisah tentangnya ^_^).

While I was busy with my own thought, aku teringat murid-muridku (My real educators). Bagaimana aku tega menelantarkan mereka, disaat segala sesuatu harus benar2 difokuskan pada mereka. It is all about midterm, final even the assignment. Terima kasih Allah telah mengirimkan meraka dalam intermezo pikiran-pikiranku. Aku pun mulai menyibukkan diri mempersiapkan apapun tentang mereka. Mulai dari soal final, periksa midterm, tugas-tugas.

Allah ku... aku tak mungkin membohongiMu, ada kejenuhan tersendiri ketika aku bergelut dengan huruf-huruf dan segala kertas-kertas itu... Tapi Engkau menguatkan aku dengan wajah-wajah mereka yang begitu excited menunggu hasil kerja keras mereka juga wajah-wajah gelisah mereka menunggu soal final yang akan mereka hadapi (This is kinda funny ^_^, mengingat wajah-wajah itu..)

You send them for me to make me stronger, God ^_^
You teach me the real lesson how to be a good teacher by their existences...I am growing up because I learn from their questions, and behavior...

Terkadang di saat pikiran kacau, bertemu mereka walaupun di kelas yang penuh sesak dengan debu pun bisa membuat sebuah senyum tulus muncul di wajahku... Wow, aku melupakan pikiran kacau ku sesaat...

Dear God...
Betapa aku sangat ogah berdiri didepan dan mengajar beberapa tahun lalu...Aku benci, aku ogah...
Tapi sekarang perasaan itu hilang semenjak aku mengenal apa itu arti seorang guru dan apa itu arti murid. Mereka yang lebih tepatnya mengajariku banyak hal...
Aku belajar memahami bahwa seorang yang berdiri  di depan sebagai tenaga pengajar belum tentu selamanya lebih segalanya... Kau gunakan mereka sebagai instrumen untuk menyadarkanku bahwa aku juga harus belajar banyak sebelum aku menyuapkan ilmu itu kepada murid-muridku...
Aku belajar artikulasi, agar mereka mengerti apa yang aku ucap...
Aku mengulang-ngulang materi agar mudah mereka mengerti apa yang ku ajarkan..
Aku diskusikan pertanyaan-pertanyaan yang ku prediksi akan muncul, agar mereka ingat..


Terlalu banyak perasaan saat aku sedang berdiri di depan sekelompok hambaMu itu, Allah..Keringat dingin mulai menetes ketika harus menemui mereka pertama kali... And I am really nervous. Aku berpikir bagaimana caranya pertemuan pertama harus sempurna dan mengesankan... Tak jarang muka ku merona melihat tingkah-tingkah mereka...
Ada satu kisah di salah satu kelas yang aku ajarkan... di awal pertemuan, mereka terlihat begitu menolakku..batapa pun aku berusaha, tapi in the first meetings, I was failed... Aku selalu merasa kesusahan ketika jadwal mengajar di kelas itu begitu cepatnya datang lagi... Aku kesal. Tapi kuasaMu berkehendak lain, kau kuatkan aku sehingga aku tetap menjadi sosokku sampai akhirnya mereka menerimaku dan menjelang akhir pertemuan kami, aku mulai kehilangan mereka...
Namun tak jarang, murid-muridku membuka diri di awal pertemuan...

Dear Allah...mudah-mudahan sikapku benar ketika aku harus jujur di depan mereka, bahwa aku tidak sempurna... Aku juga terkadang lupa, aku tak jarang tak tahu dan tak bisa...Selama ini memang tak ada yang meremehkan kejujuranku itu, walaupun aku akui itu salah... seharusnya seorang guru berusaha menjawab dengan bijak...Tapi aku merasa cemas ketika aku ragu akan sesuatu, aku memaksakan diri menjawab seadanya...dan itu malah membuat mereka salah arah (Apa aku terlalu takut kehilangan kepercayaan mereka? dan jawabanku iya).
Mungkin pengalaman juga yang mengajariku untuk jujur... dan selama ini ketika aku jujur kekuranganku dengan kehendakMu pun mereka menghargainya... Mungkin Engkau bukakan hati mereka bahwa berdiri di depan juga tak mudah, harus siap dengan segala pertanyaan-pertanyaan dan pikiran-pikiran murid-murid..

For me, though they often trick me, I appreciate that (karena pengalaman ku juga mungkin saat menjadii murid, tak jarang mempermainkan guru, ck..ck..ck..kebiasaan buruk). At least, dari tingkah seperti itu aku bisa belajar banyak bagaimana cara bersabar dan menahan emosi...dan aku  belajar mengatasi tingkah itu dengan bijak bukan dengan emosi...

They are my Saviors... bukan karena mereka banyak mengajariku hal-hal tentang kesiapanku sebagai seorang pengajar..tapi juga mereka mengingatkan ku bagaimana perjuangan menjadi seorang guru. Aku dulu di saat berada di posisi mereka belum mengerti posisi seorang guru, tapi ketika sekarang aku yang menghadapi mereka, aku tahu apa yang dirasakan seorang guru...
Aku hanya meminta kepadaMu Allah, mudah-mudahan ilmu yang Kau titipkan padaku bisa merasuk ke hati mereka walau tak banyak yang bisa ku bagi karena aku juga dalam proses belajar (real learning) and they are my teacher ^_^


I love You, Allah



Love,


Me ^_^


Teruntuk my students...
I love you, guys...Mudah-mudahan Allah melimpahkan kelapangan hati dan pikiran sehingga ilmu yang kalian punya berkah dunia akhirat..
Amiin...

Surat Untuk Allah - "Cerita tentang Ibu"



Dear Allah...Apa kabar?? (pertanyaan konyol, heheheee...)

Engkau Maha Sempurna... Aku ingin memohon sesuatu Tuhan, beberapa hari ini Kau limpahkan kami udara yang sangat panas, boleh tidak suhunya di kurangi sedikit?? Tak ada yang memungkiri, semua ini juga kesalahan kam sebagai manusia yang semakin menganiaya bumi tercinta ini, padahal di usianya yang semakin beranjak tua seharusnya semaiin di jaga keseimbangannya..tapi dengan berkembangnya tekhnologi, kebutuhan manusia pun semakin meningkat...Aku bingung mau berkata apa Rabb, disuatu titik tertentu aku miris dengan keadaan ini tapi aku juga terlibat dalam kelakuan-kelakuan itu...Hanya kekuasaanMu lah yang dapat menentukan segalanya..maka dari itu aku memohon...

Hmm...

Kisah hari ini tentang sosok yang paling mulia itu, Ibu...Jika berbicara tentang sosok itu tak akan pernah habisnya... terlalu banyak tulisan-tulisan tentangnya mulai dari lirik lagu, puisi, cerpen juga novel bahkan sampai memo yang berisi "I love you, Mom..forever" juga satu tanggal special buat ibu di Hari Ibu. Semua tulisan itu bahkan mengungkapkan betapa berharganya sosok itu di setiap ras, agama dan bangsa. Tak pernah ada perbedaan tentang menilai sosok ibu. Betapa kau jadikan beliau mulia, Allah. Jika mengingat betapa mulia sosok itu, rasanya begitu ingin segera menjadi seorang ibu...

Kau jadikan beliau sangat berharga dengan meletakkan surga di telapak kakinya. Kenapa tidak di atas kepalanya? kenapa tidak di perutnya? kenapa tidak di tangannya?
karena telapak kaki adalah tempat dimana seorang anak patut menghormati ibunya. Sudah biasa rasanya mengecup keningnya (kepala), tak jarang anak memeluknya (perutnya), tak pernah terlupa mencium tangannya ketika akan melangkah (tangan). Tapi kaki??? tidak pernah. Tapi kau letakkan surga disana agar kami anak-anaknya bahkan mencium kaki sosok yang berharga itu...Rasanya segala upaya yang kita lakukan tak berharga di banding pengorbanan jiwanya ketika perjuangan membawa kita merasakan udara dunia fana ini (melahirkan).

Tapi... beliau tak mengharap balasan apa-apa. Jikalau pun menginginkan anaknya sukses itu beliau hanya menginginkan anak-anaknya berhasil dan melihat mereka mandiri hingga ketika orang tua sudah tak ada, anak-anak sudah tak kesulitan. Di setiap doanya yang tak kan terlupa adalah mendoakan anak-anaknya.

Dear Allah...Terima kasih ku tak terhingga Engkau izinkan aku berkembang di rahim wanita itu, lahir dari rahimnya dan mendapat pasokan cinta yang tak pernah habisnya dari beliau.

Ibu... hanya seorang manusia biasa. Dia juga bisa punya kekurangan dan kelemahan. Dia juga bisa salah. Tapi disitu lah kita melengkapi segala kelemahannya.

Ibuku...Engkau limpahkan beliau kekuatan hati. Betapa aku teringat kisahnya yang terurai dari bibirnya tentang perjalanan hidupnya. Di awal kebahagiannya mengawali masa-masa indah berkeluarga, mulai membuka hati untuk lelaki yang disebut "suami" yang dulunya bahkan dia tak cinta, memiliki putra-putri dan membanting tulang membangun rumah dengan gaji kecil pegawai. Semua dijalani dengan bimbingan dan sokongan kekuatan dari suami (Terima kasih telah menganugerahi ibuku lelaki itu, Rabb). Tapi ketika rumah telah mulai sempurna, Kau coba dia dengan persoalan keluarga besarnya (saat bercerita, kuliat matanya berkaca-kaca). Rumah yang susah payah terbangun di atas tanah yang diberikan orang tua kepadanya sekarang harus berdiri di atas tanah kakaknya karena pembagian yang salah. Tak berapa lama, Kau juga menggariskan bahwa kebersamaan bersama suaminya harus segera berakhir.Lelaki itu pergi untuk selamanya. Dia pun menangis lagi.

Ketika semuanya terjadi, ibuku terbentuk menjadi wanita yang kuat. Betapa gigih dia mempertahankan hatinya hanya untuk anak-anaknya hingga begitu sulit cinta dari lelaki lain datang. Dia memang bukan seorang yang banyak bercerita, dia bahkan kelihatan tak dekat dengan anak-anaknya karena dia jarang berucap sayang dan cinta. Dulu aku begitu cemburu melihat kedekatan teman-temanku dengan ibu mereka. Tapi akhirnya kusadari, ibu ku memang pelit kata-kata cinta, tapi cinta dan kasih sayang yang di salurkan lebih dari yang bisa dia berikan. Aku bersyukur karena itu. Aku tak butuh lagi kata-kata cinta jika semuanya bisa kudapat langsung dari sikapnya.

Dear Allah...Dia begitu jarang mengeluarkan air mata (berbanding terbalik denganku). Tapi aku tahu hatinya menangis, itu terkadang yang semakin membuat sedih. Bahkan ketika aku pergi 3 tahun lalu, hanya kulihat wajahnya memerah (aku tahu ada tangisan di hatinya). Air mata itu hanya keluar hanya ketika hal-hal tertentu tersentuh. Satu, tentang Ayahku (selalu ketika mulutnya bercerita tentang ayah, mata itu berkaca-kaca. Aku?? jangan tanya, air mataku berlinang-linang. Dua, tentang Abangku. Ibu sangat menyayangi anak lelakinya (jangan tanya aku cemburu atau tidak. karena jawabanku, tidak sama sekali ^_^). Betapa ibu ingin segala yang terbaik untuknya karena dialah pengganti sosok ayah di keluarga kami. Sifat ayahku ada padanya. Ada banyak alasan mengapa ibu hanya akan mudah menangis untuknya (biarlah itu menjadi cerita hatiku dan diriMu, Rabb).


Terlalu banyak kisah tentangnya... ketika dia terluka karena tingkahku, ketika dia tersenyum juga karena tingkahku.

Dan begitu banyak juga kisah diluar sana tentang sosok Ibu...mudah-mudahan akan ada momen yang indah dan tepat mengukir kisah-kisah itu dalam catatan ini...

Doaku Allah berkahi lah usia para ibu-ibu kami, berilah kesehatan, muliakan mereka, berilah kesabaran dalam menghadapi segala cobaan dan ingatkan agar senantiasa bersyukur kepadaMu...Buka kan jalan bagi kami agar dapat membuat mereka bangga sebelum kami tutup usia..Amiin.


Aku MencintaiMu Rabb...Love,


Me ^_^