Jumat, 08 Juni 2012

Aura.. My Little Girl



Perempuan itu lebih memilih melepas gadis kecil nan cantik berkerudung merah muda itu, dan memilih mengikuti lelaki yang secara agama dan hokum menjadi suaminya? Tapi kenapa? Apa yang terjadi, ketika akhirnya dia begitu tega meninggalkan gadis kecil yang mungkin pantas disebut balita itu.

Entahlah.

***
Perempuan cantik itu terlihat sangat sibuk dengan handphonenya. Helena namanya. Dia sengaja menghindar dari keluarganya yang sedang mengajak jalan-jalan sepupu mereka yang datang dari Yunani. Saat yang tepat, pikirnya ketika dia sangat tidak nyaman dengan suara teriakan anak-anaknya si sepupu. Yaa…dia salah satu perempuan yang kurang suka dengan anak kecil. Bahkan ketika dia harus mengenal Julian, anak Erick, kekasihnya. Seluruh tenaga dia kerahkan untuk mengubah sikap jenuhnya dengan suara-suara riuh Julian.

Erick menelponnya dari Jerman, betapa dia sangat bahagia setelah sehari sebelumnya kekasihnya itu berangkat pulang kekampung halamannya untuk sesaat.

Ada kebahagiaan yang luar biasa ketika menutup telpon. At least, kekasihnya selalu menepati janji, walau terkadang sedikit terlambat. Dan itu sudah tidak menjadi masalah, apalagi saat ini dering itu menyelamatkannya dari keramaian anak-anak kecil. Dari awal dia tak ingin ikut, namun ibunya memaksa. Dan kini dia sedikit kesal mengingat harus kembali ke tempat dimana ibu, sepupu dan anak-anaknya berada. Mereka sedang menikmati matahari terbenam.

“No, Helen! You’re growing up woman! Gimana Julian bisa sayang sama kamu, kalau kamu tidak suka anak kecil seperti ini…”, ucapnya sendiri.
“But… Oh, Gosh! Bisa gak Kamu jadikan mereka besar detik ini, I hate their noisy voice!”, sambungnya.
Akhirnya dia berhenti mengoceh dan melangkah menuju ibu dan keluarganya, ketika dia merasa sesuatu seperti menahan langkahnya…

***
Helena berdiri terkejut ketika sebelah kakinya seperti dipeluk sebuah tangan imut. Ada suara isakan disana. Bukannya terkejut, perempuan cantik berdarah Yunani itu mematung dan diam sejenak. Bukan karena dia marah, bukan karena dia tak tahu harus melakukan apa, tapi isakan itu seperti memanggil nuraninya sebagai seorang perempuan. Betapa terkejutnya dia akan perasaannya sendiri, seorang Helena yang selama ini bahkan bersusah payah mendekat dengan Julian, anak dari kekasihnya, kini malah terjebak dengan perasaan yang dia sendiri tak mengerti. Hanya dengan sebuah isakan entah dari siapa, dia tak tahu. Dia tak juga mengerti.

“Bunda…”, ucap gadis kecil itu dengan suara khas anak usia 4 tahun. Dia masih terisak. Tubuhnya bergetar.

Helena menunduk dan melepas genggaman dikaki kanannya. Dia merasakan tangan mungil itu dingin. Oh Gosh, she is frizzed! Tangan itu seperti enggan melepas genggamannya, getaran sangat terasa. Helena tau, kalau gadis ini seperti ketakutan. Dia sedikit memaksa melepas tangan kecil itu. Tidak. Bukan karena marah, dia hanya ingin tahu. Siapa gadis kecil ini? kenapa dia menangis? Kemana orang tuanya ketika malam menjelang di daerah sejauh ini. Iya, dia sedang berada di Sky High, sebuah tempat pariwisata di Victoria.

Ketika akhirnya dia berhasil melepas genggaman itu, gadis itu masih menunduk, seperti enggan melihat kearahnya. Helena bingung.

“Hi…!”, ucapnya sambil menggenggam kedua pundak si gadis. Namun gadis itu tetap tak bergerak, air matanya terus mengalir. Namun, satu hal yang membuat Helena heran, gadis ini bahkan tidak bersuara. Dia seperti berusaha menahan tangis yang memang sudah tak bisa ditahan. Hanya tubuh mungilnya yang bergetar hebat dan suara sesenggukan karena menahan tangis.

“Bun..un..da..da!!”, ucapnya sedikit kesusahan dalam sesenggukannya.
Pundaknya semakin bergetar. Helena mulai kebingungan. Ketika akhirnya dia memeluk gadis itu. Itu bukan dirinya, pikir Helena. Ini tidak mungkin, dia yang acuh kepada anak-anak, kini malah terjebak dengan perasaan yang dia sendiri tak mengerti. Dia yang sangat benci suara anak-anak, kini malah memeluk seorang anak tak dikenalnya dan dalam keadaan menangis pula. Tuhan memang adil! Ada tarikan kuat antara dia dan gadis berkerudung itu. Isakan itu kian mereda ketika Helena terus-menerus mengusap punggung sigadis. Ketika akhirnya tangis itu reda, Helena mulai melepas pelukannya dan menatap kearah mata itu. Iya, tepat kearah mata itu.

Dia pun tak mengerti, ada sesuatu dimata cantik itu. Dia merasa sangat tertarik dalam perasaan sigadis itu. Gadis itu berkedip, berusaha mengenali perempuan didepannya. Mungkin dia salah mengira kalau aku ibunya, pikir Helen. Dan dia tersenyum. Perempuan itu kemudian mengusap sisa air mata di sudut mata sigadis.

“Hallo!”, tak ada tanggapan.
“What’s your name love?”, dia mencoba tuk kedua kalinya, namun beberapa detik berselang, tak ada respon. Hanya kedipan yang mungkin berarti tak mengerti. Oh Gosh, she’s got such a beautiful black eyes!!

“Bun..da..dimana?”, ucapnya dalam bahasa yang kini Helena tak mengerti. Dan pikirannya mulai mendapati bahwa gadis kecil ini tak mengerti ucapannya, karena bahasa yang mereka gunakan berbeda. Wajah didepannya kini mulai kembali berubah dan detik selanjutnya isakan kecil mulai kembali terdengar. Namun kali ini gadis itu menangis dalam tangannya, karena dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sesuatu yang berbeda, pikir Helena. Gadis ini berusaha sangat tegar, tidak pernah ditemuinya seorang gadis kecil menangis, namun berusaha menutupi.

Detik selanjutnya, setelah lepas dari kekagumannya, Helen mulai cemas, dia tak tahu harus berbuat apa.

“Sweet heart, tell me where’s your mom!”, ucapnya dalam kegalauan sikapnya. Tak ada respon. Tentu, dia tak mengerti ucapanku. Also, if she does, dia tak mungkin menangis kalau dia tau ibunya kemana. Think, Helen! Think! Ucap Helen dalam hatinya.

“Okei..okei..Helen, do something! Oh, gosh!”

Dia kemudian menyentuh pundak gadis itu…

“Love, listen to me!”, kini kedua belah tangan itu mulai membuka.
“Hmm..oke, I know you won’t understand what I tell you…hmm..”, ucapnya lembut seperti berbicara sendiri. Gadis kecil itu berkedip.
“What’s your name?”, tanyanya kemudian. Mata itu kembali berkedip. Dia kebingungan. Dua-duanya kebingungan.
“Tan..te, ngomong apa?”
“Pardon?”
“Aura.. hilang…bun..da, tante!!”, ucapnya lembut. Helen terdiam dalam bingungnya menatap gadis itu. Dia jelas tak mengerti, tapi bukan karena itu. Dalam ucapan lembutnya, ada ketegaran disana. Gadis itu dengan jelas berkata-kata, bahkan ketika bening-bening air mata jatuh lagi di pipinya.

Aura, is that your name?

Jeda melanda. Hanya tatapan masing-masing mereka.

“Aura..”, panggil Helena selanjutnya. Gadis itu hanya menjawab dengan kedipan. Namun, setetes airmata lain jatuh dipipi kanannya. Helen mengusap air mata itu.
“Listen, I know we can’t understand each other!”, Helen kemudian menggenggam tangan gadis itu dan mendudukkannya di bangku taman terdekat.
“I… am…Helen!”, gadis itu menggeleng. Helen tau dia tak mengerti.
“Aura..!”, kata Helen sambil menunjuk kearah sigadis.
“Helen!”, ucapnya kemudian sambil menunjuk kearahnya sendiri.
“Tan..te, Helien..”
“Helen, love..”
“Helen…??”
“Yap, good girl! Now… I will walk with you and try to catch your mom… maybe she’s somewhere and is looking for you too… Maybe you’re lost…err..”, Helen tak melanjutkan kata-katanya ketika gadis di depannya terlihat tersenyum hingga menyembulkan lesung pipi dikedua belah pipinya. Beautiful girl!
“Aura…gak nge..ti, tante! Tante Helen..ngomongnya an..neh!”, ucapnya dan kini Helen benar-benar seperti orang asing. Namun anehnya, dia tersenyum.
“Love…let’s find your mom!”, dia kemudian menurunkan Aura dan mulai mengitari jalan setapak mencari tanda-tanda seseorang kehilangan.

***
Setelah sedikit lama memutar-mutar arena Sky High yang memang sangat luas, Helen sedikit menyerah. Aura hanya ikut dan diam.
“No, it won’t work! I don’t even have the clue who her mom is! Damn…”, ucapnya pada diri sendiri ketika dia akhirnya menunduk dan melihat gadis kecil itu. Yes, she puts hijab. Dalam hatinya bersorak, ketika dia akhirnya tahu siapa yang harus dicari. Setidaknya perempuan-perempuan berpostur dan berperawakan sepertinya bukan sasaran. Dan satu hal yang penting, dia yakin 100%, pasti perempuan itu berhijab.

Helen kemudian kembali berjalan, ketika dia merasakan gadis itu tak lagi mengikutinya berjalan.
“Aura, what’s happening? Are you tired?”, ucapnya sambil berjongkok menatap Aura.
“I..i..tu, bunda!”, ucapnya sambil menunjuk kearah bawah. Helen mengikuti telunjuk itu dan seketika melihat seorang perempuan berjilbab sedang melihat kearah mereka, namun buru-buru melangkah pergi. Detik selanjutnya Aura sudah berlari menuruni jalanan setapak menuju area parkir. Kaki mungilnya sedikit kesulitan berlari, Helen hanya terhenyak. Dia masih shock melihat kearah perempuan yang sedang berlari itu, hingga ketika Aura terjatuh, dia tersadar…
“Bun..da, tunggu Aura…”, ucap gadis kecil itu dengan kesusahan dan bangkit sedikit kesulitan.
“Aura!”, panggil Helen dan menuju gadis itu.
Aura bangkit dan kembali berlari, Helen mengikutinya. Namun, perempuan yang mereka kejar kini telah menghilang dengan sebuah mobil Audy. Mobil itu sepertinya dikemudikan dengan tergesa-gesa, Helen berusaha mengingat nomor flat, namun keadaan yang sudah mulai gelap membuatnya kesulitan.
“Ah… what the bloody… ibu macam apa..”, rutuknya.
Dia kembali menuju Aura yang memang sedikit tertinggal dibelakangnya.
Aura diam ditempat. Dia bahkan tak melangkah lagi. Helen terdiam, dia tahu betapa gadis itu sangat terluka, ketika dia ditinggalkan seperti ini. Helen kembali berjalan kearahnya…
“Aura…”, panggilnya lembut. Diam. Gadis kecil itu terus menatap kearah depan. Tak ada respon sama sekali... Helen terus melihat kearah wajah itu, wajahnya menyiratka sesuatu. Tapi dia tak menangis. Itu yang membuat Helen seperti menemukan sesuatu yang berarti pada gadis ini.
“Bun..da, kenapa ninggalin Aura?”, ucapnya kemudian. Helen tak mengerti. Satu hal yang dia mengerti, perempuan yang berstatus sebagai ibu sigadis ini, sangat keterlaluan.
“Aura salah apa? Bunda... Aura minta maaf, balik ya bunda...”, ucapnya seperti memohon. Lagi-lagi Helen tak mengerti. Dia hanya diam mendengarkan.
“Bunda...Aura nunggu!”, ucapnya lagi dan kini Helen terkenyak, ketika akhirnya sebutir air mata jatuh dipipi kanannya. Ada perasaan haru menyerangnya. See, hanya sebutir air mata, namun hatinya sangat sedih. God, gadis ini kau cipta dari apa?
“Ya Allah, Aura mohon...bawa bunda kembali, amiin!”, ucapnya sambil menutup kedua mukanya. Dan kembali menatap ke depan. Helen hanya diam. Dia bahkan tak tahu apa yang harus dilakukannya. Aura tidak seperti gadis kecil lainnya yang akan berteriak histeris hanya ketika tak dibelikan mainan, apalagi ketika orang tua meninggalkannya seperti ini. Aura sangat berbeda. Helen seperti mencoba memasuki relung hati gadis kecil itu.

Dering telpon mengejutkannya.

Where are you?
Di dekat parkir, sudah selesai, Mom?
Sudah, kami segera kesana

Telpon ditutup. Kini mata Helen kembali menatap gadis yang masih menatap ke depan itu.

***

“Where have you been? Kenapa menghilang? Sebegitunya kamu tak suka anak-anak, heh?”
“I am here, mom! Come on!”
“Erick called you that long, huh?”, tanya ibunya dengan nada sedikit menyelidik.
“Mom, come on! I am not a little girl...”, ibunya tersenyum.
“Let’s come back. It’s dark now, mereka pun mulai kelelahan”, ucap ibunya sambil melangkah meninggalkan Helen yang kini sudah kembali menatap Aura.

Merry, wanita berusia hampir 70 tahun itu menyadari anaknya tak mengikuti langkahnya. Dia berpaling.

“Helen, come on!”
“Mom..!”
“What’s wrong?”
Dia kembali berjalan kearah Helen, dan melihat anaknya itu sedang melihat kesatu arah. Merry mengikuti pandangan mata Helen. Betapa terkejutnya perempuan paruh baya itu, ketika melihat objek yang jadi pandangan Helen. Seorang gadis kecil. Merry menatap penuh tanya kearah Helen, dan dia bertambah terkejut ketika melihat tatapan iba anaknya. Helen seperti memohon sesuatu. Apa yang terjadi pada Helen?

***

“I am not dreaming, am I?”
“Mom, Please! I am serious now...”
“Helen, kamu sakit? Ini bukan kamu...”

Merry merasa sangat terkejut mendengar kisah sigadis kecil. Namun, yang lebih membuatnya terkejut ketika Helen mengutarakan niatnya.

“Mom, Ini sampai kita temui keluarganya saja. We can’t leave her alone here at night! Please!”
“Helen, kita harus pikir panjang? Mom tak mau berurusan dengan kepolisian, gimana kalau keluarganya mencarinya dan mengira...”
“Mom, her mommy is leaving her. I witnessed it”, potong Helen.
“Hmm, oke..gimana kalau dia memang tak diinginkan oleh keluarganya? Apa kamu akan menampungnya selamanya? Oh, come on!”, Helen mengangguk. Merry terkejut. Ada yang salah dengan anaknya ini.
“Mom, Helen memohon...please!”
“Bagaimana dengan Erick? Does he know such thing?”
“Kita pikirkan itu kelak...”
“Oke, but...”
“But...”
“Kamu bertanggung jawab atas semuanya, I bet you’ll give up soon. Come on, she’s a little girl and needs a lot of care! Do you think, you can...”
“Mom, just see...!”

Ucap Helen dan kemudian meninggalkan ibunya yang hanya bisa terpana denga perubahan tiba-tiba anaknya itu.
***

Helen berjongkok dan menyentuh pundak Aura. Gadis itu melihat kearahnya, masih dengan wajah penuh harapannya. Badannya bergetar karena mulai kedinginan.
“Love, it’s dark now. We can’t stay here til longer. It’s freezing, you haven’t been put warm enough jumper. Come with me, yes?”, gadis itu hanya berkedip tak mengerti. Helen tersenyum.
“Go with me to my home...”, ucapnya sambil sedikit berbahasa tubuh. Tak disangka olehnya, gadis itu langsung berpaling.
“Aura...”
“Aura ma..u nung..gu bunda, tante Helen... bunda pasti da..tang jem.put Aura..”, ucapnya sambil tak membuang muka sama sekali dari pandangannya. Namun, kini dia mulai meremas tangannya, tanda kedinginan. Helen menebak, bahwa dia tak mau ikut dengannya.
“Aura...listen to me!”, ucapnya sambil menggenggam tangan gadis itu. Kini Helen sudah berada didepan Aura.
“Your mom won’t come back. She’s leaving you here. She does not love...”
“Enggak... Bunda sayang kok sa.ma Aura...”, potong Aura seolah mengerti apa yang akan diucapkan Helen. Dan memang dia benar. Helen terpana.
“Bunda se.lalu..bilang kalau bunda sayang sama Aura...”, sambungnya dan kini matanya mulai berkaca-kaca lagi.

Helen seperti kehilangan kata-kata. Ibunya dari jauh mulai bertanya dengan bahasa tubuh, what’s wrong? Helen tak merespon. Dia kembali menatap Aura. Namun, kini pandangannya tertuju di kantong sweaternya Aura. Seperti ada sesuatu disana. Secarik kertas.

“Aura, may I?”, tanyanya dan gadis itu tak merespon apa-apa.

Helen mengambil secarik kertas itu. Terasa berat. Dia membukanya dan sebuah gelang emas, jatuh ke tanah. Helen mengambilnya, dan melihat tulisan nama dibatangan gelang itu, for my sweetest girl, Khanzaa Haazimah Hauraa. Gelang itu terlihat sedikit besar untuk ukuran tangan Aura, apa ini miliknya? Tanya Helen pada dirinya sendiri? Lalu ini nama siapa? Khanzaa Haazimah Hauraa. For my sweetest girl, tentu ini milik Aura. Iyaa, Aura dari Hauraa. Helen berusaha menganalisis sampai akhirnya dia membaca tulisan di secarik kertas itu, yang memang dia mengerti karena bertuliskan dalam bahasa Inggris...

Please take care of my little girl. I love her so much, but because of my condition, I must leave her. I don’t want her to be in danger. I love her so much.

Helen mengutuk perempuan itu. Bagaimana dia mengatakan mencintai anaknya kalau dia tega meninggalkannya seperti ini, tak bisa dimaafkan, pikirnya. Lalu dia beralih ke baris bawah. Ada beberapa kata yang dia tak mengerti.

For Aura...
Sayang, kalau suatu saat kamu sudah dewasa dan membaca surat ini. Bunda minta maaf, ada hal yang bunda tak bisa jelaskan. Tapi bunda harus melakukan ini untuk kebahagiaan Aura. Ini berdosa, bunda tau. Kamu akan sangat membenci bunda, bunda juga tahu itu. Tapi, bunda akan tetap sayang Aura. You’re my little girl, the pleasure in my eyes, the color of my life, you’re such a blessing Allah gives to me! Bunda akan menyesali seumur hidup semua ini. I love you Aura, bunda selalu akan berdoa untuk Aura dunia dan akhirat. Ingat, Allah is with you forever, mudah-mudahan Aura selalu dalam lindungannya dan keyakinan akanNya ketika Aura kelak membaca surat ini. Itu, kalau Aura membacanya.
Love,
Bunda.

Helen sedikit tersentuh. Ada sesuatu dalam kata-kata itu yang membuatnya sedikit memafkan perempuan itu. Namun, lagi-lagi rasa prihatin dia lenyap ketika melihat Aura menggigil kedinginan, dan detik selanjutnya terduduk lemas.
“Aura...!!”, Helen mengangkat tubuh mungil itu. Aura lunglai dalam pelukan Helen, matanya terbuka, namun seperti mati. Tak ada respon apa pun. Helen mulai cemas.
“Aura, bangun, sayang!! Mom!”, panggil Helen.
Kini tubuh itu bergetar hebat, Aura menggigil.
“Bu...bun..daa..”, ucap Aura diakhir sadarnya. Dia menutup mata dengan butiran bening di pipinya. Dan kali ini, air mata pun menghiasi pipi Helen. Perempuan yang mungkin bisa dihitung berapa kali menumpahkan air matanya ini, kini menangis. God, betapa terlukanya gadis ini! Namun, dia bertahan dalam sedihnya, bahkan ketika dia pingsan pun, dia berusaha tak menangis, hingga air mata sedih itu memaksa keluar. Aura, I promise. Kamu akan bahagia. Batin Helen.

***
12 tahun berlalu.
“Khanza.. have you got your breakfast?”, tanya Merry sedikit berteriak.
“Nope, Yaya! One second! I’ll be there soon...”
Suara dering telpon membuat Khanza melompat dari sofa dan meraih gagang telpon.
“Mom!”
Hai sweetheart, how are you?
Good. Miss you so much. You’ll come here soon?
Soon, baby! Give to Yaya, I’ll call ya later. You gotta go to school now, don’t ya?
Khanza melahap toast dan peanut butter buatan Yayanya (Yunani-baca:nenek) sedikit tergesa-gesa. Dia sedikit tersedak ketika hendak minum susu.
“Khanza... sudah Yaya bilang, jangan terburu-buru...”, ucap neneknya dalam pembicaraannya dengan Helen.
“I am in hurry, Bye...! Say my love to Mom, I love you so much, Mommy!”
Khanza melangkah terburu-buru mengejar train. East burton train station membutuhkan waktu 10 jalan berjalan kaki. Dan kalau sudah kehilangan satu train, berarti dia kemungkinan besar akan kehilangan tram juga.
Sementara Merry terlihat serius berbicara dengan Helen.
“Mom, I promised my self to tell the truth when Khanza get 17 years old... But I am afraid I couldn’t be there!”
“What are you talking about? You’ll be here when she celebrate ...”
“Mom...we never know what will happen. Probably, I have work to do here in Berlin. And you know, Erick masih sedikit sulit membiarkanku bertemu Khanza...”
“Let me talk to him!”
“Mom, come on! Sekarang Khanza tidak hanya milikku, Mom bisa lihat betapa dia dengan mudahnya membuat Mom sangat sayang padanya. Bahkan ketika dua minggu kehadirannya, Mom masih terasa menolaknya, setelah itu malah aku tak dibiarkan dekat-dekat dengan Khanza...”
“Helen, I didn’t mean that... I am so sorry!”
“Oh, come on! That’s just kidding! I am grateful you love her that much!”
“Helen..”
“Mom, you know everything about her, the letter, and the bracelet. Tell her everything in case I am not there! Ok?”
“But...”
“Mom, please!”
“Oke...”
“One more thing, let her choose her own faith!”
“Helen, dia terlihat sangat nyaman dengan keyakinan kita. Bahkan, dia selalu bersemangat ke gereja, malah ketika Mom tidak berniat pergi...”
“But, we promised we won’t make her! Let her decide! Mom, kalau Helen boleh meminta, buka jalan bagi Khanza untuk mengenal islam...”
“Helen...”
“Yes, that’s my hope. Jadi Khanza bisa melihat kearah masing-masing keyakinan, tidak hanya satu agama, yang kita membiasakan dia akan itu...”
“Oke, but not to do that! You will!”
“Mom...”
“Helen, I said yes already for your first order, now...”
“Oke, Thank so much for being with me and Khanza these couple years Mom..”
“Because I love you both!”
“I love you, too”

***

Khanzaa Haazimah Hauraa...
Gadis yang detik ini sedang mengejar langkahnya sendiri menuju station kereta api.
Yaap, she is Aura kecil nan teguh hatinya... 

Senin, 30 April 2012

Menjemput Hidayah


Menjemput Hidayah

Nama perempuan cantik berkenegaraan Autralia itu, Melissa Lucas.  Awal kedatanganku hari itu ke pengajian yang rutin dilaksanakan every forth night at kak nyanyak’s house itu hanya menimbulkan kesan, “Oh, ada seorang perempuan Ozi yang mendapat hidayah, tapi siapa namanya yaa?”. Yaa..bahkan aku tak tau namanya. Perempuan itu berkerudung dan terlihat cantik dengan hijabnya itu. Seorang gadis kecil berambut Cola duduk disampingnya dan kurasa itu anak perempuannya.

Saat itu aku sedang shalat dhuhur ketika pengajian dimulai dengan pembukaan dari perempuan cantik yang akhirnya aku tahu bernama islam, Rabi’ah. Dia menceritakan bagaimana dia akhirnya mendapatkan hidayah yang indah dari Allah SWT, dan aku tak tahu kronologis ceritanya saat itu.

Ketika akhirnya pengajian selesai, aku, Rabi’ah, kak Nyanyak, kak Eva dan Salwa duduk di meja makan menikmati secangkir kopi, Rabi’ah kemudian kembali bercerita ketika kak Nyanyak bertanya.

Begini sepetik kisah yang sempat terekam memoriku:

Would you tell us how you decided to convert to Islam?

My aunt converted to Islam 24 years ago, she is the first. Ibuku masuk Islam ketika dikenalkan oleh bibi kepada seorang lelaki Libanon yang juga adik lelaki dari suami bibiku. Perkawinan ibu tidak berjalan bagus, dan ketika aku berumur 6 tahun, ibu menikah lagi dengan lelaki muslim asal Libanon. Saat usiaku 7 tahun, aku dipindahkan dari Public School ke Islamic School dimana aku belajar banyak tentang Islam, belajar membaca Al-Qur’an. I was shocked and depressed karena aku kehilangan teman-teman dan butuh waktu lama untukku untuk terbiasa dengan keadaan baru itu.

My mom is very pushy. She forced me everything about Islam, and I felt really tired and bored about that. I was teenager and I needed my freedom. Dan ketika aku benar-benar tidak tahan lagi dengan keadaan itu, aku pergi meninggalkan rumah di usiaku 11 tahun. Dan kini aku belajar untuk tidak memaksa Taylor (nama sigadis kecil berambut Cola), I let her see what I’ve done as a Muslim. Aku berusaha keras menjadi contoh yang baik untuknya bukan memaksanya because it won’t work.

Are married? And where do you live now?

Nea, I am not. Dan itu kesalahan besar dalam hidup. When I was 16, I met Taylor’s father and we lived together for 9 years. He’s not a good man, he even didn’t care about Taylor. Kami berpisah ketika akhirnya dia masuk penjara. Sekarang saya tinggal di sebuah rumah pemberian pemerintah, karena sebelumnya we are homeless. We move to motel to motel by government payment. Dan mungkin saja kami akan tinggal di mobil jika tak mendapat rumah itu. Dan hamdallah, it costs $AUS100/a month.

Bagaimana kamu bisa memutuskan untuk kembali ke Islam?
Ada saat dimana aku terpuruk, apalagi ketika akhirnya aku mempunyai Taylor. Aku benar-benar mencari arah itu dan hamdallah. Saat itu ketika aku sudah menganut Kristen, aku pernah benar-benar ingin tahu sesuatu. Aku melangkah ke pustaka dan mulai membaca Bibel. Each bible I read had different content. I felt really lost and confused, hingga aku pernah bertanya kepada seorang ahli agama, “I need to read the original Bibel, where can I get it?” dan betapa terkejutnya aku ketika akhirnya seseorang itu berkata, “You can’t and won’t be able to see it, because original Bibel is somewhere in…”. Dalam hati aku berkata, bagaimana aku bisa mencari kebenaran dalam agama ini ketika aku tak bisa menemukan kuncinya. Lagi-lagi aku benar-benar desperate, aku seperti terombang-ambing. Namun satu hal yang pasti, I won’t come back to Islam.
My mom and my aunt make me to come back to Islam, and I rejected it. I said to my mom, “Prove me that Islam is right! I will never come back before I see the truth that Allah exists! I’ll prove you that Islam is wrong!”. Dan niatku benar-benar kuat untuk membuktikan ke ibu dan bibiku bahwa agama yang mereka bangga-banggakan itu adalah salah dan bohong. Aku mulai mencari. Satu hal yang pasti, niatku mencari kebohongan dalam Islam. Dan hamdallah disana Allah menunjukkan jalan dan kuasaNya. Aku dengan niatku yang sangat kuat menjatuhkan Islam, akhirnya menemukan keindahan agama Nabi Muhammad SAW ini. Aku membaca artikel dan buku, hingga mencari sendiri lecture2 di youtube dan bukannya menemukan kejelekan tentang Islam, aku merasakan sesuatu yang mulia dan sangat menentramkan. Semua jawabannya adalah ketika akhirnya aku membaca Al-Qur’an dan tidak ada yang berubah dari isi kitab itu sama sekali. SubhanAllah, Allahu Akbar. Dan aku kembali menuju Islam dengan pencarianku sendiri dan aku merasakan kebaikan akan itu.

Aku hampir menitikkan air mata ketika akhirnya dia mengucapkan kalimat terakhirnya. Betapa ini kisah yang baik.
Dan ini masih belum selesai.

Last year setelah perjalanan panjangku menemukan kebenaran Islam, I met my cousin. Dan ketika aku menceritakan tentang islam, aku terkejut sepupuku itu bahkan tak tahu sama sekali tentang agama ini. Bahkan dia tak pernah mendengar tentang Nabi Muhammad SAW sama sekali. Lalu, kuperlihatkan sebuah lecture tentang Islam dan dia sangat tertarik. “This is so pure and good, I want to know deeply about Islam…” aku berucap syukur sedalam-dalamnya kepada Allah dan kuberikan dia beberapa readings. Akhirnya tahun lalu, dia mengucap dua kalimat syahadat. Alhamdulillah ya Allah.

Ada segurat kebahagian yang luar biasa terpancar dari wajah cantiknya. Aku juga sangat terharu. Ini lah cara Allah membalas perjuangannya menemukan jalan kebenaran dengan memberinya pahala yang luar biasa karena mengajak serta sepupunya ke jalan Allah.

Perempuan cantik ini bukan perempuan biasa, she’s determined woman. Dan betapa aku juga mengucap syukur dan SubhanAllah ketika dia bisa menjadi imam dan membaca (read:menghafal) dengan baik beberapa surat dalam Al-Qur’an.

Tak ada yang memungkiri betapa luar biasanya kasih sayang dan cinta yang Allah punya untuk kita-kita hamba-hambaNya, seperti lirik lagi Maher Zein:
Now I know how it’s like, to have Your precious love in my life…
Now I know how it feels, to finally be at peace inside…
I wish that everybody knew how amazing feels to love You…
I wish that everyone could see, how Your love has set me free…
Set me free and made me strong…
O Allah, I’m forever grateful to You, whatever I say could never be enough…
You gave me strength to overcome my uncertainties…
And stand firm against all the odds…
You are the One who did revive my soul, You shone Your light into my heart…




Selasa, 24 April 2012

Plot and Me 14 - The Proposal on The Wedding




Lelaki itu berdiri tepat di depan matamu Nadia. Lelaki yang hampir setahun lalu kau anggap bulan yang tak akan pernah kau gapai, lelaki yang ternyata menyimpan perasaan padamu. Apalagi yang aku cari. He’s there, Nadia. Tell him!!

Tunggu, apa yang harus aku katakan? Seketika aku menjadi manusia paling bodoh sejagad raya. Ya…bagaimana tidak bodoh jika dihadapkan pada kenyataan ini, bahkan aku tak sanggup berlama-lama melihat kearahnya. Sekali mendongak, aku langsung menunduk lagi karena aku selalu menemukan mata itu sedang melihat tepat ke mataku. Semuanya berubah ketika aku tahu semuanya. Mengetahui bahwa perasaanku berbalas. Ironisnya, aku bahkan menyadari perasaanku ketika dia telah pergi dan meninggalkan kenyataan bahwa dia... Ah...

Rasanya waktu berjalan begitu cepat, aku harus bagaimana Tuhan. Kalau aku bisa meminta, it’s not a big problem for standing here longer with him before my eyes. Tapi, ini tidak akan berjalan sepanjang hari. Aku dan Zack pasti segera akan berpisah lagi.

“Zack…”, kini kuberanikan diri mendongak.

Dan lagi-lagi mataku menemukan mata itu. Lelaki itu hanya tersenyum. Aku grogi. Aku bahkan kehilangan semua pembedaharaan kata-kata. Dan itu berujung pada salah tingkah. Aku memasukkan tanganku kekantong blezerku untuk mengurangi rasa grogiku.

“Kenapa?”, kini Zack mulai bersuara.

Aku menggeleng. Haduuh…jangan-jangan dia tahu aku grogi.

“Why did you drop my handkerchief?”,

O…ow!!! salah duga.

Zack mengambil sapu tangan yang kujatuhkan karena “salah tingkah” berlebihan.

Zack kemudian bangkit. Angin semilir membawa aroma harum menyentuh hidungku. Ini aroma parfum Zack. Lihaat…bahkan aku masih ingat aroma ini.

“Kamu apa kabar?”, tanyanya kemudian dengan bahasa yang semakin kaku.

“Heh… Alhamdulillah aku baik…”, jawabku sedikit salah tingkah. Dia lagi-lagi tersenyum, dan semuanya kembali kaku. Diam seribu bahasa (seperti disinetron-sinetron, ternyata memang begini rasanya, hehe)

“Kamu ?”, tanyaku singkat berusaha mencairkan suasana. Ada perubahan padamu Zack, kamu kelihatan kurus, wajahmu tirus. Kamu baik-baik saja kan Zack?

“Like you see, I am still good looking, aren’t I? hehe…”, ucapnya kemudian sambil terkekeh. Aku mengangguk dan membalas dengan senyuman. Iyya, bagaimanapun perubahan kamu saat ini, kamu tetap actor utama dimataku.

“Tapi kamu kurusan Zack… are you oke?”

“Heh? Ah… you’re kidding me! I am fine…hehe. Tell me the truth! You worry about me, don’t you?”
Nah…kan, dia tetap saja tak bisa serius. Kali ini aku benar-benar tak bisa tersenyum lagi.

“Zack… I am serious!”, ucapku tegas. Kulihat ada perubahan diwajahnya dan kini lelaki itu kelihatan gundah, dia membuang pandangannya. Sebenarnya ada apa Zack?


Suara panggilan penerbangan mengejutkanku. Kudengar baik-baik, dan Alhamdulillah itu bukan nomor penerbanganku. Tentu, itu kan penerbangan ke London. Namun… iyyaa, kenapa aku tak menduga sama sekali. Kulihat wajah yang kini sedang menunduk itu tersenyum, namun kali ini aku tahu arti senyuman itu.

“I have to go now, Nadia...”, ucapnya kemudian. Dan itu memang sudah menjadi dugaanku. Ada sedikit perih dihatiku. Apa ini saatnya? Kenapa begitu singkat, Ya Rabb?

Tak ada respon yang keluar dari mulutku, bahkan ketika mata kami kemudian bertemu. Aku tak tahu harus berkata apa. Zack masih menunggu respon dariku, hingga...

“Mudah-mudahan kamu bahagia, Nadia. Say my love to Ayah and Mamak juga Naisya. Good bye, Nadia! Assalamualaikum...”, ucapnya sambil berbalik dan melangkah. Aku masih diam membisu. Apa ini ujung perjumpaan ini? Apa ini yang kuharapkan? Zack, apa ini juga yang kamu harapkan? Apa sudah tidak ada lagi perasaan yang tersisa untukku?

Tidak! Aku harus bisa memperjuangkan perasaanku, at least I try.

“Zack, tunggu!”, panggilku sambil menarik lengannya. Zack sedikit terpana, dan kami kini kembali saling berpandangan.

“Nadia!!”, panggil Ummi dari kejauhan. Aku menoleh, namun hanya sepersekian detik.

Buru-buru kuambil pulpen yang sangat aku syukuri berada di dalam tasku. Kuraih tangan Zack yang kusadari sangat terkejut (mungkin karena dia menyadari betapa beraninya aku memegang tangannya sekarang). Entahlah. Namun, itu lah satu-satunya cara yang terlintas dipikiranku. Kutuliskan sederetan angka disana, dan aku yakin dia mengerti. Kemudian aku memandangnya yang memang sedang menatapku.
“Zack, I’ve got so much to tell you...”, ucapku. Pandangan itu kian melembut tak seperti biasanya. Aku terpana. Apa aku salah bicara.

“Zack... We need to talk... Really!”, kuulangi lagi karena kurasa dia tak mengerti perkataanku. Dan tak seperti dugaanku, kini lelaki itu sedikit menunduk sehingga tinggi kami hampir sama. Kini mata kami seolah sangat dekat. Detak jantungku sedikit lebih berirama dan wajahku menghangat tanda malu. Zack menebar senyumnya yang semanis air tebu itu, sambil mengusap kepalaku lembut.

“I’m leaving, Nadia. Assalamualaikum...”, aku menjawab salamnya. That’s it.

Dan dia pergi.

***

“Itu Zack kan?”, tanya Bang Faisal ketika aku melewatinya menuju Ummi. Aku mengangguk dan kembali melangkah.

“Kurasa kamu sudah berhasil menghapus kesedihan... semua karena lelaki Chinese itu, ya kan?”, tanyanya dan kini membuat langkahku terhenti. Aku tersentak. Satu suara dihatiku bersuara, Dan itu bukan urusan anda, Faisal! Just enjoy your wedding wanna be!  Namun, aku buru-buru beristighfar.

“Sebaiknya persoalan dahulu tidak perlu dibicarakan lagi, enggak ada gunanya lagi kan...”, ucapku dan kembali melangkah. Kurasa Ummi mendengar semuanya karena sekilas kulihat wajahnya berubah.

Hanya hitungan menit, namun bagiku itu merupakan anugerah luar biasa. Aku tak henti-hentinya mengucap syukur. Allah tentu punya sesuatu yang aku tak pernah tahu, dan kini aku benar-benar tak menyesali keberadaanku di Singapore. Memoriku akan detik-detik bersamanya beberapa waktu lalu seolah berterbangan di pikiranku.

***

“Aku ketemu Zack!”, ucapku ketika Naisya dan Kiki menjemputku di bandara. Keduanya tampak terkejut namun hanya sejenak ketika ku ceritakan kronologisnya.

Asumsiku mulai bekerja, kecemasan melanda. Kenapa aku tak meminta nomor telponnya? Kenapa aku hanya menuliskan di telapak tangannya? Bagaimana kalau tinta itu kemudian menghilang? Bagaimana bisa Zack bisa menghubungiku. Gimana ini, gimana itu...

Rasanya sangat bahagia memberitahukan berita ini ke mamak dan ayah, tapi mengingat asumsiku yang memang kuanggap beralasan itu. Betapa sejuknya hati melihat senyum yang tersungging di wajah orang tuaku mendengar nama “Dzaki Ar-Rafa” kusebut.

“Zaki ke Aceh lagi Nadia? Kapan? Mamak pengen sekali ketemu...”

Deg... pertanyaan ini yang memang sudah aku duga akan keluar dari mulut orang tuaku. Aku hanya tersenyum. Dan itu mungkin sudah cukup membuat mengerti bahwa aku tak punya jawaban untuk pertanyaan itu. See... aku sedikit menertawakan diriku sendiri, kini kebiasaan Zack malah menular padaku.

Sehari setelahnya, aku mulai menunggu. Kemana aku pergi, senantiasa handphone kubawa. Setiap dering aku berharap itu dia. Namun, hari itu terlewatkan tanpa ada tanda-tanda Zack sama sekali. Aku masih berusaha berpikir positif.

Seminggu pun berlalu. Masih dengan keadaan yang sama. Aku senantiasa memandangi handphoneku itu. Jangan-jangan memang benar asumsiku itu benar, atau kalau pun bukan itu, mungkin aku salah memberinya nomor...

“Hei...melamun aja, handphone itu gak akan lari kemana-mana, ngapain dipandangin gitu...?”, kejut Naisya. Aku langsung meletakkan handphoneku diatas meja kembali dan melanjutkan tontonanku.

“Ah...dia kan lagi nunggu telpon dari Zack... Tiap dering telpon berharap itu adalah Zack...”, lanjut Kiki yang langsung berbuah sikutan dilengan oleh Naisya. Aku menoleh. Sampai sekarang Kiki dan Naisya masih saja bisa membaca pikiranku.

Aku benar-benar berusaha mengingat wajahnya, ada dimana aku begitu lemah. Aku tahu itu salah, namun disatu sisi aku ketakutan ketika aku akan melupakan wajah itu. Keadaan ini menjadi parah ketika Zack benar-benar tak menghubungiku. Untaian kata dilirik “One and Only” milik Adele benar-benar menggambarkan keadaanku.
You’ve been on my mind, I grow fonder every day, lose my self in time.
Just thinking of your face, God only knows.
Why it’s take me so long, to let my doubts go.
You’re the only one that I want.

Dan kini keadaan itu lebih parah ketika usaha meng”save” rupa itu didalam memoriku malah berujung pada halusinasi. Beberapa kali aku hampir salah memanggil orang karena aku merasa melihat Zack. Benar-benar memprihatinkan, namun bukannya meratapi keadaan diri, aku tertawa. Mungkin ini ujian Allah karena telah menduakanNya terang-terangan.

Time goes by, kini sudah dua minggu berlalu dan semuanya masih sama. Sepertinya memang jodohku dengan Zack hanya sampai dipertemuan dibandara Chagi aja. Mungkin Allah pun tidak tega melihat aku menangis hingga mengirimkan Zack sejenak untuk bisa meredam kekecewaanku saat itu. Semuanya bisa terjadi. Atau mungkin saja Allah merasa aku belum sanggup kalau saja mengetahui Zack sudah... hmm.. Ya Rabb, kenapa aku tidak memeikirkan hal itu?? Jangan-jangan Zack sudah berhasil menendangku dari hatinya, ada perih yang terasa di hati, namun aku tetap berusaha berpikir positif.

Sebulan berlalu. Aku sudah mulai bisa menerima, ketika sebuah dering telpon mengejutkanku...

“Assalamualaikum... halo...”

“Nadia...”

***

“Nak, ini udah jam berapa? Kamu gak siap-siap?”, tanya mamak didepan pintu kamarku. Aku yang sedang melamun sedikit terhenyak.

Iyya, hari ini pernikahan Bang Faisal dan Vina.

“Mak... apa Nadia harus datang?”, tanyaku dan mamak hanya menjawab dengan ekspresi wajahnya. Aku mendesah.

Dari tadi lamunanku adalah berpikir keras antara hadir atau tidak ke pernikahan Bang Faisal dan Vina. Sejak seminggu lalu, dering telpon dari Ummi senantiasa menghiasi hari-hariku. Ada sedikit perasaan kurang nyaman menyerangku. Dan percaya atau tidak, Ummi sengaja mengirimkan seseorang untuk menjahitkan gaun untuk menghadiri acara sakral itu. Jangan tanya, seluruh keluargaku terhenyak. Dan kini aku termenung di depan gaun ungu pupus cantik yang sedang menanti untuk dikenakan.

“Nak, hadir untuk mendoakan, terutama untuk memenuhi undangan... itu kewajiban muslim terhadap muslim lain kan? Jangan mempertahankan ego, kamu sudah dewasa... Toh, memang kamu tidak merasakan apa-apa kan...”

Aku terhenyak. Kalimat-kalimat itu sudah sangat cukup membuatku bangkit dan mulai mempersiapkan diri. That’s mom. Kekuatan kata-kata yang limpahkan lewat bibirnya memang terkadang sangat powerful.

Mamak tersenyum.

Suara klakson mengejutkanku. Mamak tersenyum. Aku mendelik, sudah bisa ditebak siapa yang datang itu.

“Ngapain Kiki kes...”

“Dia datang jemput kamu, katanya mau datang sama-sama kesana...”, potong mamak. Sebelum aku merespon, suara langkah kaki mendekat...

“Oh my God!! Udah jam segini kamu belum dandan?”, ucapnya sedikit berlebihan. Mamak hanya bisa mengedikkan bahu dan pergi meninggalkan kami.

“Yuk...”, ucapku setelah selesai mengenakan jilbab dan menemukan Kiki sedang “mengerjai” kulkas didapur. Aku geleng-geleng.

“Rabbii, dandananmu yang menor dan kaya’ tante-tante itu belum cukup bisa membuatmu dewasa Ki, dan gadis cantik itu hanya terkekeh, namun hanya sejenak karena selanjutnya dia sudah melotot dan berteriak...

“Nadiaaaa...”,

“Astagfirullahal’adhim... what’s up??”, tanyaku yang terkejut bukan kepalang. Kini Kiki mendekat dan menyentuh pipi dan bibirku. Aku mundur. Apa-apaan ini anak? Jangan-jangan dia sudah berubah orientasi, ngapain dia nyentuh-nyentuh bibirku. Namun lagi-lagi dia mendekat, aku mundur lagi. Kini sebelum sempat mundur, Kiki sudah memegang bahuku. Oh, tidak. Aku mau diapain ini? Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku mencegah sesuatu buruk terjadi.

“Heh!! Kamu ngapain?”, tanya Kiki sambil memindahkan tanganku. Aku makin cemas.

“Kamu itu yang ngapain aku? Ngapain nyentuh-nyentuh pipi sama bibirku?”, tanyaku sambil melepaskan genggaman tangannya. Kiki tertawa terbahak.

“Kamu gak dandan?”, tanyanya polos dan dengan ekspresi datar. Aku terhenyak. Jadi... sebelum aku tersadar akan kecemasan berlebihanku, Kiki sudah terbahak.

“Haha... kamu kira aku udah gak normal?”, aku hanya bisa merespon pertanyaannya dengan tatapan polos seperti seseorang yang masih mengumpulkan roh yang tiba-tiba hilang.

“Eh, Non...kasihan bener gaun cantikmu itu kalau mukamu pucat gini..”, ucapnya sambil mencolek pipiku. Dan detik selanjutnya Kiki sudah menarikku.

“Wait here!”, ucapnya sambil mendudukkanku di sofa. Aku menurut saja karena memang aku masih terhenyak. Mamak hanya geleng-geleng sambil mengingatkan jam berapa akad nikah akan dilangsungkan.

***

Ihh...ini gara-gara Kiki niyh, karena dia memaksa mendadaniku, akhirnya kami hampir telat ke akad nikah. Aku bahkan tak sempat melihat bagaimana rupaku sekarang, dan bisa dibayangkan aku tampil dengan gaun dan dandanan yang aku sendiri tak tahu hasilnya, namun kakiku dengan sepatu karet yang sudah sangat tipis telapaknya karena terlalu banyak kugunakan berjalan.

“Ah...kan kita ke mesjid, ngapain juga mesti pakai sepatu bagus-bagus, toh entar dibuka juga...”, alasan Kiki ketika aku protes karena dia menarik paksa aku ke dalam mobil.

“Lha, menurut kamu dandan begini penting?”, tanyaku sewot. Kiki tersenyum sambil menyetel radio. Alunan “All the love in the world” miliknya The Corrs cukup membuatku terdiam.

I'm not looking for someone to talk to
I've got my friend, I'm more than O.K.
I've got more than a girl could wish for
I live my dreams but it's not all they say
Still I believe (I'm missing) I'm missing something real
I need someone who really sees me...

Ah...lagi-lagi aku teringat Zack. Aku mendesah. Seandainya saja bisa aku request Rabb, inilah harapanku padanya. Zack, are you truly the one who really can sees me? Dan memori tentangnya kembali datang.
“Kamu lagi apa?”
“Dengar musik, hehe...you can see that, don’t you?”, ucapku sambil mencabut earphone dari telingaku. Zack hanya tersenyum, dan tidak merasa sewot dengan kata-kataku sama sekali.
“Kamu suka musik gak?”
“Hmmm... yes! But I am not like you who just like to listen...”
“Meaning?”, tanyaku sewot.
Malam ini Zack datang hanya untuk mengantarkan coklat yang dikirim oleh orang tuanya, sebenarnya untuk Vanessa, tapi hanya karena mamak juga sangat suka coklat, Zack datang lagi-lagi sebagai seorang malaikat malam itu. Keluarga ku sedang shalat berjamaah, dan aku sedang libur, jadi aku yang terpaksa menyambutnya (sebenarnya tidak terpaksa siyh, hehe).
“Wait!”, ucapnya sambil ngeloyor pergi dari kursi teras rumahku dan tidak memperdulikan pertanyaanku. Aku sewot.
Dia kembali dengan membawa sebuah benda yang selama ini menjadi obsesiku. A guitar. Aku bangkit dari dudukku saking terpananya (entah apa yang merasukku, yang jelas itu hanya sebuah gitar). Zack duduk kembali. Detik selanjutnya petikan-petikan gitar dari tangannya yang putih itu mengalun. Aku yang masih berdiri kini semakin terpana. He’s good in that, God.
Wait... lagu apa ini? Ketika aku masih sibuk memikirkan lagu apa yang sedang dia mainkan...

 Here we are in the arms of one another 
And we still go on searching for each other 
Knowing that hate is wrong and love is 
right for us tonight 
When I look into your Spanish eyes
I know the reason why I am alive 
And the world is so beautiful tonight 

Yap… Spanish eyes nya Backstreet Boys. Jangan tanya suaranya, I’m speechless. Allah, kenapa kau beri dia banyak kelebihan?
 

It's a place I've never been 
And it comes from deep within 
And it's telling me that I'm about to win first prize 
Knowing all I have to do 
Is reach out my hand to you 
Anytime I want to look into your Spanish eyes 

Mata itu menatap lembut kearahku yang memang sudah tak bisa berkata apa-apa. Apa katanya tadi? Anytime I want to look into your Spanish eyes? Waah... hehe... Detik selanjutnya dia hanya menebar senyum semanis air tebunya, dan aku? Lagi-lagi masih terpana.

“Is my voice so impressive that makes you at a loss for words like that!”, ujarnya masih dengan senyuman mautnya itu. Aku langsung membuang muka.

“Haha...”,

“Is this what you meant? I just can listen and you can play guitar and sing impressively? Sombong banget...”, ucapku, lelaki itu terkekeh.

“Sini pinjam Mp3nya...”, ucapnya sambil meminta MP3 ku.

“Kamu suka the Corrs juga? All the love in the world?”

Ah..Zack, kini hanya mendengar lagu ini saja mengingatkanku padamu...


“Hei, Nape diam non?”

“Hah? Nothing...”, ucapku sedikit kaku. Dan mulai hari ini aku berjanji pada diri sendiri kalau aku benar-benar akan melupakan sejenak wajah itu.

Kulirik jamku.

“Sepertinya kita gak akan sempat mendengarkan ijab qabul, ki”, ucapku.

“Ah, masa? Masih giliran kedua kan? Ini masih ada waktu sekitar dua menit lagi kok...”, ucapnya sambil melirik jamnya.

“Jam kamu bener gak tuch?”, tanyaku sewot. Kiki tak merespon.

“Kenapa kamu gak nelpon ibunya Bang Faisal aja...”

“What is it for?”, tanyaku ketus.

“Bilangin suruh nungguin kita, heheheee... Ya, mastikan udah dimulai belum acaranya. Lagian di rumah tadi, ha pe mu sibuk bunyi mulu, kaya’a Ummi gak tenang kalau kamu belum datang..”, aku melirik Kiki. Dia tersenyum memaksa. Ada perasaan resah menyerang, apa benar kata Kiki?

Ah, setidaknya aku memenuhi kewajibanku sebagai seorang muslim. Tiba-tiba aku teringat sesuatu ketika akan berniat menelpon Ummi. Oh no!!

“Ki...”, panggilku dengan suara sedikit panik berlebihan.

“Nape? Kamu gak jadi nelpon Ummi?”, tanya Kiki disaat kami sudah dipersimpangan lampu lalu lintas peniti. Bangunan cantik nan megah dan penuh dengan aura positif, Mesjid Raya Baiturrahman sudah bisa terlihat dari sini.

“Gimana mau nelpon? Hape ku ketinggalan... Ah..”, aku benar-benar sewot. Biasanya aku cuek saja kalau hape ku tertinggal atau silent, tapi kali ini aku sedikit kesal dan merasa hape adalah barang penting detik ini. Entahlah.

***
Ijab qabul telah terucap. Aku menunduk dan mengucapkan seuntaian doa tepat setelah ijab qabul terucap. Ada keharuan yang datang kedalam hatiku. Namun, salah satu sisi hati yang lain mulai berontak, See Nadia!! Kalau saja semuanya tak terjadi, kini kamu sudah sah menjadi istrinya... aku mengucapkan istighfar.

Satu tangan mengenggam erat tanganku. Aku berpaling. Ummi. Ada setetes butiran jatuh kepipinya yang putih itu. Tak ada yang bisa aku katakan, aku hanya tersenyum.

Setelah acara inti selesai, aku menarik Kiki dan buru-buru mengajaknya pulang.

“Eh, gimana mau pulang? Tadi Ummi bilang kita diajak kerumahnya, ada acara syukuran...”, ucap Kiki dan kemudian kembali asik menyapa kesana kemari. Ah, para bankers!! Anyway, aku tak lihat Kak Dira. Dan mulailah aku menelusuri satu persatu tamu, namun nihil, tak ku temui sepupuku itu.

Ku palingkan wajah kearah belakang, keluarga inti kedua belah pihak sedang berfoto. Ah...ngapain aku disini? Sambil menunggu Kiki, aku putuskan keluar dan menikmati udara. Setidaknya ada sesuatu yang kulihat, juga aku ingin mengambil sekotak kue. Lapar. Karena terburu-buru, akhirnya sarapan pun aku tak sempat.

Ku langkahkan kakiku menuju pintu keluar sebelah kanan Mesjid Raya, melalui barisan shalat lelaki, karena itu pintu paling dekat dengan ruangan penyimpanan kue untuk para tamu. Ada beberapa yang sedang shalat disana. Shalat tahiyatul mesjid or dhuha, pikirku. Tiga orang lelaki paruh baya, seorang bapak juga dua orang pemuda. Waah...alhamdulillah, at least pemuda aceh tak kalah ibadah sunnahnya dengan para lelaki paruh baya. Tapi pemandangan itu sunggung menarik perhatianku, karena aku jarang melihat hal ini dan asumsiku jarang ada lagi pemuda yang mau meluangkan waktu untuk ibadah sunnah.

Yaah...akhirnya syukur yang senantiasa terucap. Pandanganku yang takjub kini berubah terkejut. Benar-benar terkejut.

***

Aku benar-benar tak percaya dengan pandanganku. Lelaki yang dua menit lalu sedang mengucap salam dan berdoa sejenak. Wajahnya khusyu’ sekali mengucapkan doa. Apa aku kali ini benar-benar tak salah lihat. Rabb, am I day-dreaming again? Ku kedip-kedipkan mataku berusaha memastikan, namun tetap rupa yang sama. Kini sedikit berubah karena wajahnya berpaling dan kini mata kami bertemu. Ada keterkejutan disana. Dia bangkit dan berjalan kearahku.

Kian mendekat. Aku? Jangan tanya, aku masih saja meragukan semuanya nyata, ini hanya halusinasiku saja. I know, it’s just a dream. Aku terus mengucapkan itu, hingga lelaki itu semakin dekat dan aroma khas yang masih sangat aku kenal merasuk kedalam indera penciumanku, apa aku masih bermimpi? Dia sudah berdiri gagah dan tak lupa dengan senyumnya yang selalu manis seperti air tebu itu dengan tega menyapaku. Namun, keterkejutanku yang sangat membuat kata-kata yang keluar dari mulutku 180 derajat berbeda dari hatiku.

“Ini beneran kamu kan?”

Detik selanjutnya diam mendera. Kami hanya saling memandang, aku dengan tampangku yang masih terkejut sementara lelaki itu tersenyum. Lelaki dengan penampilan sedikit berbeda hari ini. Dia berbalut batik man’s fit. Ah..Zack, kamu selalu menjadi aktor disetiap scene.

“Mendoakan saudara yang menikah bukannya sesuatu yang baik?”, ucapnya dengan bahasa yang sangat baik.

Aku hanya diam. Kini rasa haru menderaku. Aku benar-benar terharu. Ada sesuatu yang melandaku. Rabb, ini pertanda apa? Apa ini jawaban doaku? Atau ini hanya perjumpaan untuk kesekian kalinya, namun berakhir begitu saja...

Pandanganku masih kearahnya, kini wajah itu berubah serius. Dia melangkah mendekat...

“Nadine...”, aku mendongak.
“Honestly, I came here to make sure that...”, kini suara itu terputus.
“Make sure?”
“That you are his bride or not...”, aku terpana. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

Sesuatu seperti melandaku. Namun, kini aku tersenyum dalam diamku... apa ini pertanda baik Tuhan? Suasana seperti mendukung pertemuanku dengannya hari itu. Hanya kami berdua di titik ini, semuanya terasa kabur.

“And Allah still gives me a chance...”, ucapnya. Aku mendongak kearahnya, wajah itu terlihat berbeda, dia seperti sedang berpikir keras. Tidak... ini berbeda, apa Zack sedang gugup?

“I am not a good in this, but I’ll try...”, ucapnya kemudian, dan aku masih terpana melihat keadaan Zack sekarang. Dia mengucapkan basmallah sebelum akhirnya bersuara lagi.

“Nadia, I dare you to let me be your, your one and only...”, Deg...jantungku kini semakin berirama. Tapi...sepertiny kata-kata itu...

“Promise I’m worthy to hold in your arms... so come on and give me a chance to prove that I’m the one who can walk that mile until the ends starts...”

“Zack…”, potongku. Sebenarnya ini..

“Nadia Humaira, I am now standing here to say…veux-tu m'épouser?”

Veux-tu m'épouser?, Will you marry me?

Semilir angin membuat kata-kata itu terus terngiang-ngiang di telingaku. SubhanAllah, AllahuAkbar. Rabb, aku dilamar dirumahmu yang indah ini.


***