Kalau ngebaca judul ini selalu bikin
aku sedikit tersipu malu, merasa bersalah, cekikikan dan ujung-ujungnya
menyesal. Makanya dengerin kata mamak! Itu judul yang Laila usulkan ketika dia
dengan sedikit semangat (namun yang pasti agak memaksa) menawarkanku sebuah cerita
yang akan menjadi tulisan pertamaku diblog baruku (horreeeiiii, akhirnya Laila
berhasil memaksaku membuat sebuah blog yang masih kosong). Begini penuturan
Laila…
Pagi itu,
aku dan mamakku berencana mencuci tumpukan pakaian yang seharusnya sudah dicuci
empat hari lalu. Bisa dibayangkan tumpukan itu sekarang sudah setinggi apa.
Biasanya adalah kebiasaan mamak yang merendam pakaian, namun entah apa yang
terjadi pagi itu, si Laila yang tidak lain adalah aku sendiri, yang masih
dengan mata kantuknya mencoba menjadi pahlawan kesubuhan. Aku yang masih dengan
susah payah melawan rasa malas bercampur kesal karena cucian yang menggunung
itu, terkesima melihat tumpukan pakaian yang sebagian besarnya adalah milikku
sendiri… What a day! Oh dear… bener-bener hari “ngebabu” dah hari ini…
Aku pun
dengan bersemangat membuka kran air dan menampung air di tiga ember super duper
besar. Lalu aku menuangkan Rin** (kurasa ini sepatutnya tak perlu disebutkan,
kecuali si brand mau jadi sponsor tulisan Aliya, hehe) secukupnya ke ember
kecil dan mencampurnya dengan beberapa gayung air. Kemudian I mix both stuffs using
my hands, hingga muncul ratusan ribu busa (aku gak sempat ngitung siyh). Ketika
aku masih asik mengocok-ngocok air dan deterjen yang tak boleh disebutkan
namanya itu, sebuah suara sedikit mengejutkanku…
“Itu
pakaiannya jangan direndam sembarangan, perhatikan kain-kain yang beresiko
luntur…”, mamak sudah berdiri di depan pintu sumur dengan memegang sapu dan
kurasa she’s gonna clean up the kitchen. Hanya kudongak sejenak dan aku kembali
asik dengan kegiatanku.
Aku selesai
dengan campuran air dan deterjen (masih tidak bisa kusebutkan namanya itu). Dan
perasaan asikku tadi hilang seketika saat aku melihat lagi pakaian yang
menggunung itu. Bête tingkat kronis dah. Dan dengan perasaan kesal kusabet
kain-kain itu seenaknya dan dan kumasukkan ke dalam ember kecil pertama, tanpa
memperhatikan dan melakukan nasehat sang bunda. Jilbab cream berenda yang
sangat sering jadi andalanku, dan beberapa warna lainnya, beberapa bajuku dan
juga baju batik ungu punya mamak.
Selesai
dengan ember kecil pertama, aku meraih ember kecil kedua dan melakukan hal yang
sama. Namun, gerakanku mendadak berhenti seketika saat tak sengaja mataku
melihat kearah ember pertama. Air deterjen yang awalnya berwarna sedikit putih,
kini berubah sangat keunguan. No way!!! Pikiranku langsung sesat sesaat,
semuanya seperti berhenti sejenak, namun detik selanjutnya dengan gerakan super
cepat aku mencari jilbab cream berendaku. Dan kebetulan si kain malang itu
tepat berada dibawah baju batik mamak yang jadi biang keroknya penyebar warna
ungu itu. Dan sudah bisa ditebak apa yang terjadi?? Yaa… sampai jumpa jilbab
cream sendu, kini berganti jilbab cream berplak ungu. Hikss…
Saat aku
sedang meratapi jilbabku itu, sebuah perasaan menyesal menyergap. Gara-gara
perasaan kesal tak beralasan (), aku mengabaikan kata-kata mamak dan berujung
fatal begini.
“Ya Rabbii…
baru aja dibilangin, lah… kejadian pula! Makanya dengerin kata mamak La…”
Aku menatap
mamakku yang sedikit kebingungan didepan pintu sumur dengan tatapan sangat
menyesal.
“Besok-besok
kalau gak mau cuciannya numpuk, jangan nunda-nunda! Jadinya bête gak jelas,
terus nyiksa pakaian gini. Ujung-ujungnya nyesal kan?”, aku hanya diam masih
dengan perasaan sedih sembari terus memegang jilbab kesayanganku itu.
Mamak
segera meraih jilbab itu dan melihat sejenak, kemudian tersenyum…
“Udah ah!
Memangnya kalau disesali gini, jilbabnya balik lagi ke warna semula, mending
diambil hikmahnya. Setidaknya, kamu punya jilbab baru bernoda ungu…gak ada yang
punya selain kamu”, mamak tertawa kecil.
Aku
tersenyum. Iyyaa…mau gimana lagi, Tuhan yang punya kok! Jadi terserah Dia mau
diapain juga, cuma caranya itu yang bikin aku nyesal. Ah… setidaknya besok-besok
aku benar-benar harus dengar kata-kata mamak. Gak bole underestimate kata-kata
seorang ibu pokoknya. Ini baru jilbab dan luntur, belum lagi persoalan jiwa dan
perasaan dan hopefully it never happens.
Hehe, jahatnya aku ketika malah tertawa saat Laila
bercerita. Beberapa kali meminta maaf, namun tak menahannya memberikanku
beberapa cubitan dilengan. Kita lihat saja La, ada kisah selanjutnya tidak
dengan kata-kata makanya dengerin
kata-kata mamak! Hehe…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar