Senin, 19 September 2011

Better In Time 10 - Al-Quranku Penuntunku



Al-Qur’an. Selalu kitab itu yang dibawanya kemanapun dia pergi. Dia tak akan pernah lupa, seolah kitab itulah penghubung paling dekat dirinya dan Tuhannya.

Memasuki bulan suci Ramadhan yang kebetulan jatuh diakhir musim gugur. Mungkin ini akan sedikit berat, karena menjelang musim dingin waktu berpuasa pun semakin bertambah. 
Seluruh umat islam bersuka cita menyambutnya. Termasuk mereka yang ada di York. Hari pertama puasa mereka berencana berbuka puasa bersama. Adam seperti terhipnotis suasana Ramadhan. Dia sangat menghormati mereka-mereka yang sedang menjalankan ibadah dan mengajak sekelompok yang lain yang bukan Muslim untuk menghormati mereka.
Annisa kelihatan begitu bersemangat. Apalagi kata sang Bos, untuk edisi bulan ini bertepatan dengan Ramadhan maka mereka akan meliput aktivitas Muslim di York.

Disuatu sore di bulan Ramadhan di kota York. Hampir memasuki minggu-minggu menjalankan puasa dan di hari-hari terakhir itu, Annisa kian mengacuhkan dia. Terutama hari ini, ketika tak satu tatapan pun dia dapat. Annisa sibuk dengan meja kerjanya, jika pun istirahat dia memilih berdiam diri di tempat ibadah dan lagi-lagi dengan kitab itu. Apa siyh isinya? Kamu terlalu asik kah dengan itu? Tak cukup itu saja, ketika pulang dan para pegawai lain buru-buru pulang, Annisa malah berlama-lama di meja kerjanya dan lagi dengan pocket Al-qur’annya.
Ada rasa tersindir luar biasa. Adam memang seorang katolik yang taat. Tapi hanya pada Tuhannya. Dia bahkan sangat jarang membuka kitab injil. Kitab itu tak bisa menarik perhatiannya. Tapi Annisa terlihat begitu asik membaca kitab itu. dan terkadang dia takjub melihat Annisa bisa membaca tulisan Arab, bersambung pula. Suatu hari, dia pernah membuka Qur’an milik Annisa.

“Kamu bisa baca ini?”, Annisa mengangguk.

“Alhamdulillah bisa, walaupun gak semahir para Qari-Qariah, hehe”

“Apa itu?”

“Orang-orang yang bacaan Al-Qurannya bagus sekali”

“Ooh…”

“Berapa lama bisa baca ini?”

“Hmm…lupa. Tapi karena sejak kecil diajarkan, jadi kebiasaaan dan memang bisa…”

Adam berpikir keras. Dia pernah mengalami ini. Ibunya pernah mengajarinya membaca Al-Quran dulu ketika dia masih di bangku taman kana-kanak.

“Aku juga pernah bisa baca kitab ini, tapi sekarang…entah laaah!”

“Benarkah?”

“Iyya..sebelum Ummi pisah dengan Ayah, beliau sering mengajarkanku dan Nina baca kitab ini…”

Dan kini melihat wanita itu asik membaca Al-Quran, ada rasa ingin belajar lagi memahami isi kitab itu. Apa yang membuat kitab itu begitu sempurna sampai di masjid-mesjid pun berbagai bentuk Al-Quran diletakkan banyak-banyak. Kenapa menjelang azan, juga ada pembacaan Al-Qur’an. Kenapa saat ada acara-acara, selalu dibuka dengan membaca Al-Quran. Banyak pertanyaan dikepalanya. Tak hanya Annisa, Reni dan beberapa teman muslim lain seperti terjebak dalam bacaan kitab itu, bahkan Lulu pun yang imannya naik turun, bisa-bisanya berlomba-lomba membaca Al-Quran dibulan suci ini.

Tak ingin pertanyaan-pertanyaannya menguap begitu saja. Dia ingin sekali bertanya banyak pada ibunya. Namun ketika pagi itu dia bergegas masuk kantor, ada percakapan yang menarik perhatiannya dan sedikit banyaknya menjawab pertanyaannya…


***


Dia merasa prihatin mengetahui keadaan kampung halamannya. Aceh tercinta. Dia sangat rindu. Tadi pagi sempat menelpon kerumah dan berbicara banyak dengan adiknya. Sekilas tahu tentang keadaan remaja dan pergaulan di Aceh, selepas tsunami malah keadaannya tambah parah. Bahkan kata adiknya, banyak teman-teman seangkatannya tertangkap melakukan hubungan tak senonoh itu. penerapan syariat islam malah membuat prilaku ini menjamur. Sangat ironis. Yang paling membuatnya sedih ketika sebagian besar yang tertangkap malah wanita berpakaian muslimah. Entah apa yang salah dengan serambi mekah itu. Pagi ini dia meminta bantuan Mr.Google untuk mengetahui lebih banyak tentang hal itu. 

Annisa sedang sangat serius ketika…

“Lagi baca cerita apa Sa? Serius amat?”, Tanya Reni begitu melihat rekannya begitu focus ke laptopnya.

Terjadilah diskusi panjang mengenai pergaulan remaja, khususnya remaja muslimah.

“Pernah ada tuch, senior aku di kampus. Orangnya alim banget, jilbabnya berkibar-kibar tapi tau-taunya malam hari jadji wanita panggilan…” jelas Lulu.

“Makanya mending seperti aku, biasa-biasa saja tapi masih tahu batasan…”, sambung Lulu diikuti geleng-geleng kepala Annisa dan Reni.

“Memang lu masih tahu batasan pacaran sama bule?”, Tanya Nino.

“Yaah…sekedar hmm… biasa gitu, gpp laah… tapi paling enggak, aku masih menjaga kesucianku”, bela Lulu.

“Kalau kasus gituan mah mungkin udah sering terjadi. Mungkin beberapa wanita-wanita hanya berkedok muslimah untuk menyembunyikan wajah aslinya. Hanya sebagian yang betul-betul terjerumus, itu juga karena pergaulan dan iman yang belum stabil. Kembali lagi ke parenting style dan pergaulan…”, jelas Reni bijak. Annisa mengangguk setuju.

“Hmm…kasus lain, yaah..tentang perbedaan agama. Banyak juga kan orang-orang islam yang juga mudah meninggalkan agamanya demi pasangannya. Salah satunya tetanggaku, seorang gadis muda berjilbab rapi tapi pacaran dengan seorang pemuda Nasrani, dia tega ninggalin agama juga keluarganya…”, kisah Mas Putra. Mendengar kisah ini, Annisa merasa sekarang dia sedang berjuang untuk tetap konsisten.

“Kalau kasus itu, teman kita satu ini sedang menjalaninya niyh…hehe”,ucap Lulu.

“Jadi gimana kelanjutan kisah kalian Sa? Siapa yang akan menyerah? Mba lihat malah belum ada titik temu? Kamu malah lebih terlihat asik dengan Islam, eh…malah Pak Adam juga makin lebih lengket dengan salibnya itu…”, Annisa hanya tersenyum pahit.

“Yang penting Sa, lu gak bole berkorban demi Pak Adam, kalau dia cinta banget sama lu, biar dia aja convert to islam”, ucap Lulu diikuti anggukan setuju beberapa rekan.

“Enggak akan ada yang nyerah atau mengorbankan keyakinan kok! Toh, kami juga gak ada hubungan apa-apa, jadi biarlah Allah yang menentukan yang terbaik. Gak ada yang siapa ikut siapa…”, jelas Annisa. Adam yang sudah dari tadi mendengar percakapan itu hanya terdiam. Iya, kau benar.

“Sa, bukannya mba ragukan iman kamu. Tapi biasanya orang kalau sudah jatuh cinta, semuanya jadi tak keliatan, apa kamu tidak takut?”, Tanya Desy lagi.

“Udah ah Des! Nisa kan masih punya kita disini yang bisa selalu ngingatin dia…”, bela Reni. Namun Annisa sepertinya perlu meyakinkan mereka tentang sesuatu…

“Mba, aku memang bukan seorang yang ahli agama, tidak alim-alim banget tapi aku tidak akan pernah takut selama aku punya ini”, ucapnya sambil mengacungkan Al-Quran miliknya yang dibawanya kemana-mana. Adam tersentak. Ironis, dia sangat cinta Tuhannya tapi memegang Bibel saja, bisa dihitung jari.

“Al-Quran yang akan menuntunku untuk selalu mengingatNya…”, Reni tersenyum penuh arti. Yang lainnya hanya diam.

“Hehe..mantap niyh si Non Nisa. Udah cantik, agamanya juga bagus. Beruntung banget Pak Adam yaa? Coba ketemu aku lebih dulu…”, ucap Mas Putra sambil mengedipkan mata kearah Annisa, yang lain tertawa.

“Memangnya istrimu mau dibawa kemana Mas?”

“Ke Indonesia, haha. Yaah…lagian mana mau Annisa sama aku, perbandingannya Pak Adam? Aku mah enggak ada apa-apanya…”, Annisa tersentak namun kemudian tersenyum.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”, Tanya Nisa mengutip sebuah ayat dalam Al-Quran.

“Iyya..aku ingat. Itu kan salah satu ayat Al-Quran. Surat Ar-Rahman kan Sa?”, Tanya Lulu semangat dan Annisa mengangguk.

“Terlalu banyak Mas berkah Allah. Mas sempurna, gak cacat. Mas punya istri yang baik, punya pekerjaan yang baik, trus apa lagi?”, Mba Reni ikut nimbrung dan Lulu yang keliatan sedang berpikir keras ikut mengiyakan.

“Hmm…fabi…, duuh gimana lah isi ayatnya?”

“Fabiayyi Aalaa irabbikumaa tukazzibaan…”, sambung Annisa.

“Iyya itu dia, hehe”

Putra hanya cecengesan. Seseorang dibalik pintu itu lama terdiam. Itulah kenapa kau begitu menspecialkan Al-Quranmu itu. Maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kamu dustakan? Kata-kata yang sangat bagus.

“Pagi semuanya!” , sapanya diikuti tatapan sedikit terkejut para pekerjanya.

[Besok sore ada yang ingin aku diskusikan. Pulang kerja. Tentang Al-Qur’anmu]

Annisa sedikit terkejut dengan isi sms itu. Dia memperlihatkan sms itu pada Reni. Dan sahabatnya itu berbisik…

“Saatnya dakwah Sa!”

Dakwah? Apa aku pantas? Ilmuku saja belum seberapa.


***


Dia melangkah masuk rumah itu. Sayup-sayup terdengar suara ibunya sedang melantunkan Al-Quran. Dia merasa seperti diikuti oleh hal-hal berbau kitab itu, kemana pun dia melangkah selalu tentang kitab itu. Awalnya pikirannya negative tentang hal itu, tapi tanpa dia sadari perasaan itu berubah seiring dia mengenal dan lebih tahu tentangnya.

Malamnya selesai menemani ibunya berbuka dia menanyakan pada ibunya tetang setiap 
pertanyaan yang muncul dikepalanya…

“Ummi, sepenting itukah Al-Qur’an bagi umat islam?”, ibunya yang sedang melipat mukenanya terpana dan mengangguk.

“Sama halnya seperti orang Kristen terhadap Injil…”, Adam tersentak. Tapi sepertinya tidak bagiku, Ummi! Banyak hal yang aku pertanyakan tentang kitab itu, makanya aku tak pernah dekat dengannya. Dia juga bingung kenapa dia hanya bisa sangat mencintai Tuhannya ketika kitab suci yang penuh esensi itu jarang digubrisnya. Maka ketika dia melihat fenomena Al-Qur’an dengan Muslim di sekitarnya, dia merasa tersindir.

“Al-Qur’an itu pedoman hidup kami, Nak! Mungkin kamu lupa, Ummi dulu pernah bilang kalau orang islam akan selamat dunia akhirat jika dia berpegang teguh pada Kitab Suci ini…”

“Al-Qur’an juga kitab sepanjang masa, mencakup segala kejadian dimasa lampau, sekarang, dan masa depan. Maka Allah menjadikannya pedoman bagi kami, selain tentu berisi hokum-hukum agama. Banyak hal yang terdapat dalam kitab itu… dan di bulan Ramadhan ini, tepatnya hari ke 17 Al-Qur’an pertama kali diturunkan…”


Panjang diskusi malam itu dan diakhiri dengan permintaan Adam untuk dibacakan salah satu Surat Al-Qur’an. Ibunya sempat terkejut dan mengucap hamdallah. Mudah-mudahan Adam mendapat hidayah yang indah dariMu, Rabb. Amiin. Adam tertidur pulas di sofa. Namun pagi harinya, sang bunda hanya bisa mendesah mendapati anaknya tetap dengan ritualnya ketika akan sarapan.


***


Pagi itu dia tidak langsung menuju kantor tapi singgah ke gereja. Dia merasa butuh berkomunikasi dengan Tuhannya persoalan kebimbangan ini. Aku tahu Tuhan, Engkau pasti tak akan menyesatkan aku ke dalam sesuatu yang tidak baik. Aku mohon bimbinganMu agarku dapat menemukan jawaban. Amin. Ketika dia selesai dengan doanya, dia menemui seorang pendeta. Mereka berdiskusi banyak hal. Adam menanyakan tentang konsep pengakuan dosa. Konsep trinitas. Dia juga sempat bingung, kenapa disaat sekarang dia malah bertanya tentang itu.

“Saya betul-betul tidak paham dengan konsep Trinitas. Bisakah Anda menjelaskannya?”, pendeta itu terkejut mendengar pertanyaan Adam. Dan mukanya keliatan memerah. Tidak jelas menahan marah atau malah menahan malu karena tak tahu menjawab apa.

“Sudah berapa lama kau di agama ini?”

“Sejak usia 8 tahun?”

“Dan baru sekarang kau tanyakan tentang Tuhan kita? Apa yang mempengaruhimu?”, suara itu sedikit meninggi. Adam bingung. Memangnya aku salah jika baru sekarang ingin tahu?

“Karena rasa ingin tahu saya baru ada sekarang! Bisa pendeta tolong jelaskan! Ini demi keimanan saya juga!”

“Yakini saja! Tuhan melihat dan mengetahui apa yang ada dihatimu, jadi yakini saja!”, Adam terperangah. Sungguh jawaban itu tak memuaskannya.

Adam pamit. Awalnya dia berniat melakukan pengakuan dosa. Tapi, sekejap seperti ada yang berbisik bahwa pengakuan dosa hanya pantas dilakukan pada Tuhan, bukan manusia yang tidak punya kuasa menghapus dosa. Tuhan, aku masih sangat memohon bimbinganMu! Aku hanya ingin mencari jalan untuk lebih dekat denganMu.


***


Dia melirik lelaki itu. Sepertinya Adam sedang sibuk bekerja. Mungkin dia lupa, ya sudah lah. Dia juga sedikit penasaran kenapa Adam masuk kantor telat hari ini dengan muka yang kurang segar. Dia pun memutuskan pergi terlebih dahulu, menunggu anak-anak ditaman.

To : Annisa

[Kamu dimana? Lupa janji kita]. Send.

Adam agak telat keluar dari ruangannya. Dan ketika keluar sudah tak satu pun orang di kantor. Semua sudah pulang. Oia, ini kan bulan puasa. Tapi Annisa dimana? Apa dia lupa janji denganku.

Dia berjalan pulang melewati taman di Museum Street dekat Sungai kecil cantik. Dia merasa Annisa pasti disana. Sms tak dibalas dan telpon pun tak diangkat. Pasti dia sedang menikmati waktu dengan anak-anak. Dan benar saja, yang dimaksud malah sedang duduk santai bersama anak-anak kecil. Bukan Katharine, Ann and Carolyn, tapi ini anak-anak kecil dari Indonesia. Dasar Annisa! Teman kecilmu banyak sekali, pantas saja kamu banyak disayang orang.

Mereka duduk melingkar. Sekitar 7 orang anak kecil disana ditambah Annisa sedang para orang tua menunggu dibangku taman. Adam berjalan mendekat namun Annisa tak tahu kehadirannya. Dia berdiri disamping pohon dan menunggu diskusi kecil itu selesai.

“Tuhan kita siapa, haiyo? Siapa kenal?”

“Allah!”, ucap mereka serentak.

“Pintar! Tuhan kita cuma satu, yaitu Allah! Siapa cinta Allah?”, semuanya mengangkat tangan.

“Mba Nisa, kata Vinnie temen sekelas Ola, dia punya tuhan tiga! Kenapa kita Cuma punya satu mba?”

“Iyya mba, kan tambah banyak tambah seru. Coba Tuhannya 10”, ucap Shinta polos. Annisa tersenyum.

“Kita punya Tuhan hanya satu karena Tuhan kita special. Hanya Allah saja. Itu berarti cinta kita hanya untuk Allah gak dibagi-bagi…”, semuanya mengangguk. Tapi Annisa merasa perlu meyakinkan bocah-bocah kecil itu.

“Tuhan kita hanya Allah, itu berarti Allah lah yang punya kekuasaan menciptakan sesuatu. Nah, coba adik-adik bayangin, kalau Tuhannya tiga atau lebih nanti bisa berbeda. Contohnya, yang satu maunya kulit shinta putih, eh, yang satu malah maunya kulit shinta hitam, gimana donks? Kan enggak mungkin sebelah hitam sebelah putih kan?”, semuanya cekikikan memandang Shinta.

“Nah, karena Tuhan kita hanya Allah saja, maka hanya Dia yang memutuskan, benar gak?”, semuanya mengangguk.

Adam menyimak itu. Sedikit terhenyak.

“Terus di Surat Al-Ikhlas kan dibilang kalau Allah itu Maha Esa artinya apa?”

“Satu-satunya…”, ucap anak-anak itu.

“Pinter! Terus angka satu itu special lho! Mau tau apa specialnya?”

“Mau!”

“Dengan angka satu, kita bisa menciptakan angka lainnya. Contohnya, satu ditambah satu jadi…”

“Dua!”

“Tambah satu lagi jadi tii..”

“Tiga..”

“Nah, gitu seterusnya… sedang kalau angka dua atau tiga itu hanya bisa menciptakan angka-angka tertentu! Itu lah Allah! Dia special, punya kekuasaan yang tak terbatas dan kita hanya cinta siapa?”

“Cinta Allah!”. Annisa tersenyum. Adam juga tersenyum penuh arti. Penjelasan yang bagus! Konsep Esa buat Tuhanmu!

“Berarti Ola special donk Mba! Ola kan anak-anak satu-satunya, kalau Shinta punya kakak, Didi punya adik. Mereka tidak special karena mereka lebih dari satu, iya kan Mba?”, Nah lho!

“Aku juga mau jadi anak satu-satunya kalau gitu Mba!”, rengek Shinta diikuti yang lainnya. Annisa mulai kelabakan. Dia bingung mencari jawaban. Adam terkekeh. Lucu juga melihat kamu kelabakan seperti itu kekasih!

“Siapa bilang kalau punya saudara tidak special?”, ucap Adam tiba-tiba mengalihkan semua pandangan itu, termasuk Annisa. Kamu selalu muncul tiba-tiba! Siapa siyh kamu sebenarnya? Huh! Selalu saja tega mengacaukan perasaan dan konsentrasiku...

Adam berjalan mendekat. Duduk tepat disamping Shinta.

“Kalau kita punya saudara, kita bisa berbagi, juga bisa main sama-sama. Iya kan? Jadi gak kesepian”, Anak-anak itu mengangguk.

“Mba Nisa kenal Om itu?”, Tanya Didi. Annisa mengangguk.

“Yaa…kenal donk! Om pasti pacarnya Mba Nisa kan?”, ucap Ola diikuti cekikikan dari yang lain. Adam dan Annisa saling menatap dan tersenyum. Ya Allah, anak-anak jaman sekarang!


***


Mereka berjalan melewati jembatan kecil itu. Belum ada satu kata pun yang keluar dari mulut masing-masing. Annisa melirik wajah disamping, wajah itu tampak biasa saja. Jadi mau diam aja niyh? Sampai kapan? Bentar lagi udah mau nyampai rumah. Adam ngomong sesuatu donk! Panggil namaku aja juga boleh...

Dan benar saja Adam hanya diam. Tak satu kata pun keluar hingga Annisa sampai di depan apartemennya. Annisa pamit dan berjalan masuk. Annisa merasa kurang enak hati, dia menoleh kebelakang dan benar saja, lelaki itu masih berdiri disana menatapnya. Annisa berhenti sejenak dan kembali berjalan menuju Adam. Sepertinya ada yang dia sembunyikan.

“Kenapa kembali? Udah hampir buka ini kan?”, Tanya Adam sambil melihat jam tangannya. Sudah hampir setengah 8 malam.

“Kamu kenapa siyh?”

“Kenapa apanya?”

“Tidak semangat. Seperti kehilangan setengah jiwa! What’s wrong Adam?”, tanyanya dengan suara lembut. Wajah didepannya langsung tersenyum penuh arti.

“Sayang, aku tak apa-apa! Kamu terlalu mengkhawatirkanku saja. Tapi terima kasih!”. Annisa melotot.

“Jangan panggil aku sayang! Ya sudah kalau tak apa-apa”, ucapnya sambil membalikkan badan dan berjalan menuju apartemennya. Adam terkekeh namun kemudian berakhir dengan senyum pahit.

Kamu tahu tidak kekasih! Hatiku sedang kacau. Aku sedang mencari tahu sesuatu, tapi malah jawaban yang kuharapkan tak kutemui. Malah darimu aku tahu sesuatu yang lain. Tentang 
TuhanMu yang Esa itu. Tentang Al-Quranmu yang selalu kau banggakan dan selalu menjadi referensi.  

Tuhan, aku masih akan tetap percaya Engkau tidak akan menyesatkanku.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar